Pernahkah Anda terjebak berputar-putar di Bundaran HI saat jam pulang kantor? Lampu kota gemerlap, mobil bergerak terus, bensin terkuras, tetapi Anda tidak kunjung sampai ke tujuan. Anda merasa bergerak sangat dinamis, padahal hakikatnya Anda hanya memutari air mancur yang sama.
Kesan itulah yang menyeruak saat membaca sebuah tulisan yang belakangan ini ramai: seseorang yang mengaku getol “hanya mengajak orang berpikir”, membantah dirinya ateis, menolak membenturkan sains dan agama, namun di ujung jalan menyimpulkan bahwa batas terjauh dari kejujuran akal adalah ucapan: “Kami tidak tahu, terserah urusan Anda.”
Bagi mereka, sikap ini terdengar keren, objektif, dan bebas bias. Namun bagi Muslim cerdas, narasi semacam ini tidak lebih dari tumpangan intelektual yang muter-muter tanpa arah: sebuah agnostisisme yang dipoles rapi dengan dalih metodologi sains.
Penulis tersebut berargumen bahwa dalam sains, keberadaan Sang Pencipta bukanlah bagian dari rumusan penjelasan alam. Katanya, jika sains belum tahu awal mula segalanya, sains berhenti dan berkata “tidak tahu”, bukan mengisi ketidaktahuan itu dengan nama Tuhan.
Mari kita bedah dengan analogi yang sangat membumi, pembaca mediaislamnet.
Bayangkan Anda membawa sepeda motor bebek ke bengkel resmi. Montir membuka blok mesin, memeriksa piston, mengukur kompresi, dan menyetel karburator atau injeksi. Jika Anda bertanya kepada sang montir, “Mas, kenapa piston ini bisa naik turun?” Montir akan menjawab secara mekanik: “Karena ada ledakan campuran udara dan bensin yang dipicu busi.”
Dalam buku manual bengkel, tidak ada bab bertuliskan: “Piston ini bergerak karena insinyur perakit di pabrik Sunter sedang menggerakkannya dengan tangan.” Tentu saja tidak! Manual mekanik bekerja pada level proses material (kauniyah).
Tetapi, apakah montir yang cerdas akan berkata: “Karena manual bengkel saya hanya menjelaskan cara kerja piston, maka keberadaan insinyur dan pabrik pembuat motor itu adalah ranah yang ‘tidak bisa diketahui’ secara mekanik, jadi terserah Anda mau percaya pabrik itu ada atau tidak”?
Tentu konyol. Membedah cara kerja alat tidak pernah menghapus keberadaan perancangnya.
Kekeliruan mendasar sang penulis adalah menyamakan keterbatasan metode sains materialis dengan ketiadaan kepastian rasional. Sains empiris memang dirancang untuk mengukur materi dan energi yang dapat diindra (observable). Ranah sains adalah how (bagaimana mekanisme alam bekerja), bukan why atau who (siapa yang menetapkan hukum tersebut). Menggunakan sains untuk mendikte seluruh realitas realitas—lalu berhenti di kata “tidak tahu”—bukanlah sikap ilmiah, melainkan paham saintisme yang cacat nalar.
Doa yang Dikerdilkan Menjadi “Placebo”
Kejanggalan logika semakin kentara ketika masuk ke wilayah spiritual: doa. Dikatakan bahwa doa sama sekali tidak mengubah fakta, melainkan hanya memberi sugesti psikologis agar seseorang bersemangat.
Ini cara pandang mekanistis yang sangat sempit. Bagi orang yang memandang dunia seperti jam beker mati tanpa campur tangan Tuhan, tentu doa tampak seperti monolog yang sia-sia. Tetapi bagi orang beriman, doa adalah dialog hamba dengan Musabbibul Asbab—Dzat yang menciptakan hukum sebab-akibat itu sendiri.
Ketika seorang petani berdoa meminta hujan sembari menanam benih, ia tidak sedang menantang hukum sains bahwa hujan turun dari kondensasi awan. Ia sedang memohon kepada Dzat yang memegang kendali atas angin yang menggiring awan, suhu yang mengembunkannya, dan bumi yang menyerapnya. Menilai doa semata-mata dari kacamata efek psikologis (placebo effect) ibarat menilai kehangatan kasih sayang seorang ibu hanya dari kadar hormon oksitosin di pembuluh darahnya. Kering, dingin, dan kehilangan hakikat.
Retorika “Netral” yang Sebenarnya Memihak
Paling menarik adalah jurus pamungkas yang dipakai: “Saya hanya mengajak orang berpikir. Mau beriman silakan, mau tidak silakan. Iman adalah kedaulatan masing-masing.”
Terdengar sangat toleran dan demokratis, bukan? Namun jangan terkecoh. Dalam ilmu komunikasi dan retorika, ini adalah teknik cuci tangan klasik.
Bayangkan seseorang menuangkan kerikil dan pasir ke dalam mesin mobil Anda, menyentil komponen-komponennya hingga longgar, lalu melangkah mundur sambil melipat tangan dan tersenyum ramah: “Saya tidak berniat merusak mobil Anda kok. Saya cuma menguji ketahanannya. Kalau mesinnya mogok atau tetap jalan, itu urusan kedaulatan Anda.”
Al-Qur’an justru menantang manusia untuk berpikir sejauh-jauhnya, sedalam-dalamnya, dan seobjektif-objektifnya. Perhatikan firman Allah:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab).” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Islam tidak pernah menyuruh akal berhenti pada keragu-raguan (skeptisisme) atau kepasrahan buta agnostik (ignoramus). Islam mendudukkan akal sebagai jembatan yang menghubungkan keteraturan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dengan keagungan Dzat Yang Maha Mengatur.
Jika seseorang meneliti keteraturan DNA yang begitu presisi, orbit planet yang begitu rapi, serta konstanta fisika alam semesta (fine-tuning) yang begitu matematis, lalu ia berakhir dengan ucapan: “Yah, sains berhenti di sini, kita tidak tahu siapa di balik ini semua”, sesungguhnya akalnya bukan sedang berpikir kritis—akalnya sedang mogok di tengah jalan.
Muslim mulia, pembaca mediaislamnet yang cerdas. Akal adalah anugerah terindah dari Allah Ta’ala. Menggunakannya untuk membedah sains adalah keharusan, mengujinya dengan fakta adalah keniscayaan. Namun, akal yang sehat selalu mencari kebenaran (al-haqq), bukan merayakan ketidaktahuan.
Sains modern mengajarkan kita betapa luar biasanya hukum-hukum alam bekerja. Tetapi keimanan Islam memberikan kita mata batin untuk menyadari: mustahil ada hukum tanpa pembuat hukum (lawgiver), dan mustahil ada tulisan megah tanpa seorang penulis.
Jangan biarkan diri kita tersihir oleh retorika yang tampak bijak namun sejatinya mengajak kita tersesat di bundaran keraguan. Kita berpikir bukan untuk berputar-putar tanpa akhir; kita berpikir agar langkah kaki kita semakin mantap menuju cahaya keimanan.
Wallahu a’lam bish-shawab.[*]

