Catatan Perjalanan ke Sumedang: Makan Tahu Sumedang di Tempat Asalnya

Episode 4: Makan Tahu Sumedang di Tempat Asalnya

Oleh: Umar Abdullah


Pak Ajun, penjual Tahu Sumedang di Cimalaka

Selain sowan ke radio mitra, salah satu kebiasaan saya di suatu tempat adalah “keluyuran” ke objek-objek sekitar tempat kami menginap. Alhamdulillah, Hotel Hegarmanah tempat kami menginap adalah di pusat Kecamatan Cimalaka. Saya menduga tempat ini sudah terbentuk cukup lama. Mungkin sejak zaman Sumedang Islam. Karena persis di depan penginapan ada Masjid Agung (atau Masjid Besar) Cimalaka. Bentuk menara masjidnya mirip dengan menara masjid Banten di Surosowan. Saya menduga, menara masjid ini masih asli, belum dipugar.

Di sebelah timur masjid ada Alun-alun. Di sebelah selatan Alun-alun ada Kantor Tentara Yonif PKS (singkatan dari Prabu Kian Santang). Seingat saya, Prabu Kian Santang adalah nama putra Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja Galuh Pajajaran. Prabu Kian Santang adalah seorang pemuda yang sangat digdaya. Kakaknya bernama Walang Sungsang dan Rara Santang, keduanya telah lebih dulu masuk Islam. Ketika pergi ke Mekkah usai menunaikan haji, Rara Santang menikah dengan Syarif Abdullah, seorang sultan dari Mesir. Dari Rara Santang inilah lahirlah dua putra, salah satunya adalah Syarif Hidayatullah. Prabu Kian Santang sendiri masuk Islam di Mekkah. Ketika pulang ke Tanah Sunda, beliau banyak mendakwahkan Islam khususnya ke raja dan pangeran. Mudah-mudahan Tentara Batalyon Infanteri yang bermarkas di Sumedang ini bisa meneladani Prabu Kian Santang yang gagah berani yang mendakwahkan Islam bersama-sama Walang Sungsang dan Syarif Hidayatullah, dan para da’i lainnya di Tanah Sunda.

Di sebelah utara Alun-alun ada “pujasera” (pusat jajanan serba ada). Ada Susu Sapi Murni, Sate dan Gule Sapi, Pecel Lele dan Pecel Ayam, Martabak dan Roti Bakar. Waduh, kalau urusan makanan, rasanya kok hapal semua ya. Eit, hampir lupa, di pojok belakang Pos Polisi ada Tahu Sumedang!

Yes, makanan khas Sumedang ini sudah dijanjikan oleh penjemput kami akan dijadikan oleh-oleh esok hari sangat kami pulang ke Bogor. Tapi rasanya tak sabar untuk menikmati Tahu Sumedang di tempat asalnya. Dan ternyata beda rasanya! Rasanya enak banget! Isinya terasa padat, tidak kopong. Tidak seperti yang pernah saya beli di bis Jakarta-Bogor. Dengan izin Allah, alhamdulillah dalam lima menit sudah enam tahu melewati kerongkongan saya. Mak Nyus!

Di dalam Warung Tahu Sumedang, saya memotret sana sini. Pak Ajun, si pemilik warung, yang sedang menggoreng tahu pun sampai berhenti menggoreng sekedar untuk menemani saya menyantap tahu gorengannya. Sebenarnya sih saya cuma beli Rp 1000 dan seharusnya dapat 3 buah tahu. Tapi entah mengapa saya diberi 6 buah tahu. Mungkin senang ada wartawan datang, langsung dikasih bonus deh hehehe…

Ternyata Pengelola Warung Tahu Sumedang ini membuat sendiri tahu-tahu mereka. Mereka cetak sendiri, digoreng, dan siap disajikan dalam keadaan hangat. Tak lupa cabe hijau menyertai. Wah.. uenak tenan! (bersambung…)

Tags:
author

Author: