Oleh: Ahsan Hakim
Pukul empat pagi di sebuah hotel di Dublin, Irlandia, pintu lift terbuka. Rebecca Watson, seorang aktivis ateis perempuan, melangkah masuk ke ruang sempit itu dengan gelayut lelahnya setelah seharian mengisi konferensi. Detik berikutnya, seorang pria sesama peserta ateis ikut masuk. Pintu lift tertutup. Di antara keheningan mesin yang bergerak naik, pria itu menatap Rebecca dan berkata, “Jangan salah paham, saya sangat menyukai Anda. Maukah Anda mampir ke kamar saya untuk minum kopi?”
Rebecca menolak dengan sopan, keluar di lantainya, lalu mengunci kamar. Kejadian itu rupanya tidak sepele. Peristiwa itu menjadi sumbu pendek dari sebuah ledakan yang menggegerkan gerakan ateisme modern di seluruh dunia. Peristiwa itu terjadi tahun 2011 dan tercatat dalam sejarah internet sebagai skandal “Elevatorgate”.
Esok harinya, Rebecca mengunggah video ulasan tentang konferensi tersebut. Di akhir video, ia menyelipkan sebuah pesan sederhana untuk para pria: “Tolong, jangan lakukan itu lagi. Jangan mengajak perempuan mengobrol di ruang sempit yang terkunci, saat mereka sendirian di jam 4 pagi, karena itu membuat kami merasa tidak aman dan terancam karena situasi yang tidak ideal.”
Siapa sangka, video curhatan sosial itu mendarat di komputer Richard Dawkins—ilmuwan biologi dunia sekaligus “pemimpin spiritual” kaum ateis global saat itu. Bukannya bersimpati, penulis buku The God Delusion itu justru meradang. Bagi Dawkins, fokus ateisme adalah sains dan melawan dogma agama, bukan mengurusi ketakutan seorang perempuan di dalam lift.
Dengan jemari tajamnya, Dawkins menulis komentar sarkastik yang ditujukan kepada sosok fiktif bernama “Muslima” di Timur Tengah:
“Dear Muslima. Tolong berhenti mengeluh. Ya, ya, saya tahu alat kelaminmu dimutilasi dengan silet, kamu tidak boleh menyetir mobil, tidak boleh keluar rumah tanpa pengawal pria, dan kamu akan dirajam sampai mati jika melakukan perzinahan. Tapi kamu harus paham bahwa ada hal yang jauh lebih penting terjadi di Barat saat ini. Kemarin, di sebuah hotel di Dublin, seorang pria mengajak seorang wanita Amerika minum kopi di dalam lift.”
Tak dinyana, komentar itu menjelma menjadi bom atom. Dalam semalam, menara gading kaum ateis intelektual itu retak. Komunitas yang awalnya satu barisan melawan dogma agama, tiba-tiba pecah menjadi dua kubu yang saling mengutuk.
Kubu pertama, para ateis progresif dan feminis, membela Rebecca. Mereka merasa dikhianati dan sadar bahwa meski komunitas mereka tidak percaya Tuhan, moralitas internal mereka masih dipenuhi arogansi dan seksisme.
Kubu kedua, para ateis tradisional, membela Dawkins habis-habisan. Mereka menganggap Rebecca terlalu cengeng dan merusak fokus utama gerakan sekuler dengan isu politik identitas.
Perseteruan ego ini akhirnya menghasilkan satu kesimpulan. Bahwa ateisme hanyalah kesepakatan tentang apa yang TIDAK mereka percayai, bukan tentang apa yang mereka percayai.
Saat Tuhan dan kitab suci dikeluarkan dari ruang sidang moral, para ateis tidak lantas menjadi makhluk yang selalu logis. Ketika sains tidak bisa memberi jawaban pasti apakah mengajak perempuan minum kopi di lift jam 4 pagi adalah perbuatan “salah” atau “normal”, mereka saling mengadili dengan standar emosi dan budaya masing-masing.
Dari skandal elevatorgate kita bisa melihat hal menarik, bahwa perpecahan dan kebencian bukanlah monopoli orang-orang beragama. Orang ateis usahlah berlagak berada di tempat paling tinggi dan meneropong dari atas, melihat kisruhnya orang-orang beragama memperebutkan agama.
Semua orang sama saja.
Ketika you—baik yang bersujud di rumah ibadah maupun yang menghamba pada laboratorium—sama-sama memiliki ego yang suatu saat mudah terluka, you akan menemukan alasan untuk saling membenci, bahkan mencaci. Percayalah, musuh terbesar manusia bukanlah dogma, melainkan kecongkakan yang bersembunyi di balik cangkang kepala mereka sendiri. [SUMBER TULISAN]

