Grunge
Sohibul kamar itu memang anak yang asyik abis. Baru kelas dua SMU dan nge-junkies. Maklum, tuntutan pergaulan. Kalo nggak gitu nggak nyetel ama temen-temen, man! Sebetulnya anak ini lumayan manis apalagi kalo tenggelam di kuah cendol atawa es doger. But, karena junkies display-nya jadi jorse alias jorok sekaleee. Kamarnya aja nggak bisa dibedakan ama Paddy’s Caf? yang katanya diledakkan Imam Samudera. Ancur, cur, cur, cur.
Martir Revolusi
Usai munajat panjang para jamaah sholat, diumumkan akan ada masirah besar di Andijan. Diharapkan segenap masyarakat hadir dan mendukung tuntutan agar Karimov mundur dan mengakhiri rezim zalimnya. Tak diduga, sekitar 3000 lebih muslim berkumpul. Terlihat juga barisan muslimah yang ikut hadir dan mendukung masirah menuntut diakhirinya rezim tiran dan menawarkan syari’ah sebagai solusi.
Satu Hari Bersama Kimong
Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di mall. Kimong seneng banget. Apalagi waktu diajak naik eksalator [tahu kan? Tangga berjalan tapi nggak ada hubungannya ama berobat jalan]. Ia jingkrak-jingkrakkan. Eri geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan keponakannya itu. Ah, senengnya jadi anak kecil nggak tahu permasalahan dunia. Nggak kayak gue udah banyak pikiran [ceilee sok tua lu, Ri!]. Mikirin ujian, pengajian, mikirin temen-temen, kadang-kadang ia mumet.
Blast From The Past for Wiwid
Wiwid yang lagi manggung terang aja makin pede. Yeah, steal the show-lah. Ia jadi makin napsu bawain lagu Yamko Rambe Yamko. Sampai lupa kalau ia pake sepatu hak tinggi. Karena terlalu hot jejingkrakan keseimbangannya ilang, ia pun meluncur jatuh. Terjun bebas ke arah penonton. Bukannya panik penonton malah makin histeris. Nyangka kalau itu bagian dari aksi panggung. Mereka nyangka Wiwid lagi meragain moshing pit, ngeluncur di atas kepala penonton.
Secret Admirer
Sejak baca e-mail dari seseorang yang mengaku sebagai penggemar rahasianya, Ogi jadi nggak enak ati. Kok masih aja masa lalunya diungkit-ungkit. Masa lalu Ogi sebagai vokalis band sekolahan yang sedikit demi sedikit ingin dikuburnya. Masa lalu yang indah dari panggung ke panggung. Tentu saja, lengkap dengan pujaan dan pujian dari para penggemar beratnya. Meski nggak ngetop-ngetop amat, minimal dikenal anak sekolah di wilayahnya.
Gundukan Tanah Merah
Gundukan tanah merah masih basah ketika ia berdiri di sana. Bapaknya mati malam tadi. Kabarnya karena bapaknya itu berkelahi dengan seseorang yang wilayah ngamennnya diambil tanpa ijin yang bersangkutan. Dia sesaat masih berdiri menangis gundah. Bukan untuk bapaknya yang memang dulu sering berubah kejam.
