Saat Eri Nyontek
Eri cengar-cengir denger omongan temen sebangkunya. Ajaib betul si Dudung ini. Sejak kenal dari kelas satu sampai kelas dua, Dudung emang menunjukkan kalau ia seolah berasal dari dunia lain (mahluk haluuus kali!). Coba, waktu anak-anak lain ke sekolah pake tas ransel keren, eh si Dudung malah pake kantong plastik item yang gede. Kayak orang abis belanja di pasar becek.
Tegang Nih Yee…
Nggak ada yang berani mendekat karena si bapak tadi kemudian mengacungkan sebilah pisau belati yang ia ambil dari balik jaketnya. Suasana makin tegang. Ogi sendiri tetap dalam kondisi leher hampir tercekik. Ogi meronta sebisanya. Tapi rasanya tuh cengkeraman tangan kekar si bapak makin kuat menekan. Sia-sia usaha Ogi.
Surat Terakhir dari Ancone
Kota ini terlalu kecil bagiku untuk mendapatkan sepercik embun pada dahagaku, haus akan kebenaran. Minggu depan umurku genap delapan belas tahun, usia kebebasan yang bahkan orang tua pun tidak berhak melarang atau menyuruh apa pun pada anaknya. Lucu bila mengingat di negaramu sana umur tujuh belas tahun biasa dirayakan dengan meriah bagi mereka yang mengagungkan peradaban Barat dengan anggapan mereka sudah dewasa.
Pram!
Awalnya Pram menolak ajakan seorang teman lamanya waktu SMA. Tapi akhirnya ia menyerah dan kemudian mengorbankan idealisme dan perjuangannya. Prinsipnya kalah digerus kondisi yang membuatnya tak punya waktu untuk berpikir lebih panjang dan lebih jernih. Maka, tawaran jadi DJ dari temannya ia terima juga demi utang keluarga bisa terbayar lunas.
