Menjawab Kritik atas “Israiliyat” dalam al-Qura
Ada satu pola argumen yang sering dipakai kalangan skeptis maupun agnostik saat menyerang otentisitas al-Quran: karena banyak kisah dalam al-Quran mirip dengan kisah dalam Torah dan Injil, dan karena Al-Quran menyampaikannya secara ringkas sehingga mufasir awal harus “menambal” cerita itu dengan riwayat Israiliyat, maka disimpulkan al-Quran sekadar meniru atau bergantung pada tradisi Yahudi-Kristen — bukan wahyu yang berdiri sendiri.
Argumen ini sekilas tampak berkelas, tapi ia berdiri di atas beberapa lompatan logika yang keliru. Berikut jawabannya, poin demi poin, lengkap dengan rujukan tekstual dan kaidah keilmuan tafsir yang sesungguhnya sudah lama membahas persoalan ini–bukan dari luar Islam, tapi dari dalam tradisi Islam sendiri.
Israiliyat bukan al-Quran
Kekeliruan paling mendasar dalam argumen skeptis adalah mencampuradukkan al-Quran dengan tafsir. Israiliyat bukan bagian dari mushaf, bukan ayat, dan tidak pernah diklaim sebagai wahyu oleh ulama mana pun. Ia adalah riwayat tambahan yang masuk ke literatur tafsir–sebuah lapisan penjelasan di luar teks suci.
Lebih penting lagi, tradisi Islam punya kerangka kritik internal yang eksplisit untuk riwayat semacam ini. Ibnu Taimiyyah dan kemudian Ibnu Katsir merumuskan tiga kategori Israiliyat:
- Sumber yang dibenarkan oleh al-Quran dan hadis sahih, diterima.
- Sumber yang bertentangan dengan al-Quran dan hadis sahih, ditolak mentah-mentah.
- Sumber yang didiamkan (tidak dibenarkan maupun disalahkan), hanya boleh dinukil sebagai riwayat, tanpa diyakini kebenarannya.
Kerangka ini bersandar pada hadis riwayat Bukhari. Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, ia berkata, “Dahulu ahli kitab membaca Taurat dengan Bahasa Ibrani dan menjelaskannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Jangan kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ (QS al-Baqarah: 136)”
Ibnu Katsir sendiri, dalam tafsirnya, berulang kali menyebut riwayat semacam cerita ular yang dirasuki Iblis sebagai “min al-isra’iliyyat”–riwayat Israiliyat yang tidak punya sandaran kuat, dan secara eksplisit tidak menganjurkan orang mempercayainya begitu saja.
Pada abad ke-20, ulama Al-Azhar Muhammad Husain adz-Dzahabi bahkan menulis buku khusus, Al-Isra’iliyyat fi at-Tafsir wal-Hadits, yang secara sistematis mengkritik dan memilah riwayat-riwayat ini.
Poin ini penting: fakta bahwa Israiliyat “problematis” bukan temuan orang luar yang menyerang Islam. Itu adalah kesimpulan ulama Islam sendiri, berabad-abad sebelum kritik agnostik modern muncul. Menjadikan temuan internal tradisi Islam sebagai senjata untuk menyerang Islam adalah argumen yang terbalik–justru menunjukkan bahwa Islam memiliki mekanisme kritik-diri yang matang, sesuatu yang tidak semua tradisi keagamaan miliki secara seketat itu.
Kemiripan Kisah Tidak Sama dengan “Meniru”
Argumen skeptis diam-diam mengandalkan asumsi: jika mirip, maka pasti menyalin. Ini dikenal sebagai genetic fallacy dalam logika–menilai kebenaran atau asal suatu klaim semata dari kemiripannya dengan klaim lain, tanpa bukti jalur penyalinan yang sebenarnya.
Sebab, dalam kajian sejarah agama dan sastra Timur Dekat Kuno (Ancient Near East), kisah banjir besar tidak hanya muncul di Torah dan al-Quran, tapi juga dalam Epos Gilgamesh dan Epos Atrahasis dari Mesopotamia, jauh mendahului keduanya. Para sejarawan agama umumnya tidak menyimpulkan bahwa Torah “menjiplak” Gilgamesh secara linear; kesimpulan yang lebih hati-hati adalah bahwa kawasan itu mewarisi ingatan kolektif atas peristiwa besar (kemungkinan banjir regional Mesopotamia kuno) yang diceritakan ulang lintas budaya dengan penekanan teologis berbeda-beda.
Jika standar “mirip berarti meniru” konsisten diterapkan, maka Torah pun harus dianggap “meniru” Mesopotamia. Kenyataannya, kritik semacam ini nyaris tidak pernah diarahkan ke Torah dengan tuduhan “maka Taurat bukan wahyu”. Standar ganda semacam ini adalah tanda argumen yang dipaksakan hanya untuk satu kitab suci tertentu, bukan kaidah yang diterapkan konsisten ke semua tradisi.
Torah Sendiri Elips dan Butuh “Israiliyat”-nya Sendiri: Midrash
Poin ini sering luput dari kritik agnostik: Torah juga penuh celah naratif. Siapa istri Kain? Bagaimana rupa pasti Taman Eden secara geografis? Apa detail percakapan Ibrahim dengan Ishak di Gunung Moriah? Torah tidak menjawab semua itu secara lengkap — dan justru karena itulah tradisi Yahudi mengembangkan Midrash, kumpulan tafsir dan cerita tambahan berabad-abad untuk mengisi celah tersebut, persis dengan fungsi yang dimainkan Israiliyat dalam tafsir al-Quran.
Kalau kebutuhan mengisi celah cerita dianggap bukti kelemahan sebuah kitab suci, maka Torah–dengan tradisi Midrash-nya yang jauh lebih tebal volumenya–semestinya kena kritik yang sama, bahkan lebih keras. Faktanya kritik itu jarang diarahkan ke sana. Ini memperkuat dugaan bahwa keberatan terhadap Israiliyat bukan soal metodologi yang konsisten, melainkan sasaran yang dipilih secara selektif.
Al-Quran Tidak Menyembunyikan Kemiripan
Al-Quran sendiri terang-terangan menyatakan posisinya terhadap kitab-kitab sebelumnya, bukan menyembunyikan hubungan itu:
Dalam surah al-Ma’idah [5]: 48, dijelaskan bahwa al-Quran disebut sebagai muhaimin, “penjaga/pengoreksi” atas kitab-kitab sebelumnya.
Juga dalam surah Al-Baqarah [2]: 41 dan Ali ‘Imran [3]: 3, dijelaskan bahwa al-Quran disebut musaddiq, “membenarkan” apa yang datang sebelumnya, sekaligus meluruskan penyimpangannya.
Artinya, dari sudut pandang teologi Islam sendiri, kemiripan itu memang diharapkan dan diakui secara terbuka–karena sumber wahyunya diyakini satu (Tuhan yang sama mengutus para nabi dengan pesan yang berkesinambungan). Nah, yang menjadi klaim justru perbedaannya: versi al-Quran tentang Adam, misalnya, tidak memakai ular, tidak menjadikan Hawa sebagai pihak yang pertama tergoda lalu menyesatkan Adam (berbeda dari narasi Kejadian 3 yang menempatkan beban lebih besar pada perempuan). Perbedaan-perbedaan ini justru diklaim sebagai koreksi teologis, bukan kegagalan menyalin dengan akurat.
Kritik yang sah semestinya menguji klaim koreksi ini secara teologis, bukan berhenti di level “mirip, jadi tiruan”–karena level itu bahkan tidak menyentuh substansi klaim al-Quran.
Tentang Keringkasan Naratif al-Quran
Al-Quran menyatakan tujuannya sendiri secara eksplisit. Dalam surah Yusuf [12]: 111 menyebut kisah-kisah itu diturunkan sebagai ‘ibrah–pelajaran bagi orang yang berakal–bukan sebagai kronik sejarah yang lengkap. Ini pilihan genre yang disadari, bukan kegagalan menyusun narasi.
Membandingkan al-Quran dengan Torah dari segi “kelengkapan kronologis” sama seperti mengkritik kumpulan puisi karena tidak memuat plot novel yang runtut. Keduanya memang tidak dirancang untuk hal yang sama. Tuduhan “Al-Quran kacau karena tidak lengkap” hanya berlaku jika penuduh memaksakan tolok ukur genre yang tidak pernah diklaim oleh teks itu sendiri.
Kesimpulan
Kritik “al-Quran hanyalah tiruan Israiliyat” gagal pada empat titik sekaligus:
- Mencampuradukkan tafsir dengan wahyu, padahal ulama Islam sendiri sudah memisahkan dan mengkritik Israiliyat berabad-abad lalu.
- Menggunakan kaidah “mirip sama dengan meniru” yang tidak pernah diterapkan konsisten ke kitab suci lain.
- Mengabaikan bahwa Torah punya masalah celah naratif yang sama, dengan solusi (Midrash) yang setara fungsinya dengan Israiliyat.
- Tidak menyentuh klaim inti al-Quran sendiri — bahwa al-Quran memang ‘mengaku’ meneruskan sekaligus mengoreksi tradisi sebelumnya, bukan menyembunyikan hubungan itu.
Fakta bahwa umat Islam mendiskusikan, mengkritik, dan bahkan menolak sebagian besar Israiliyat sejak Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, hingga Adz-Dzahabi menunjukkan tradisi keilmuan yang secara sadar menyaring sumbernya sendiri–bukan tradisi yang menelan mentah-mentah semua cerita yang beredar. Menjadikan proses penyaringan itu sebagai bukti kelemahan adalah salah membaca arah panah bukti: yang seharusnya dipuji sebagai kehati-hatian metodologis justru dibalik menjadi tuduhan.[*]


