Wednesday, 23 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Politik dan Konspirasi

Politikus mana yang tidak percaya kalau konspirasi ada? Mulai dari politikus besar pemimpin rakyat, hingga politikus yang pemikirannya didominasi niat busuk mengambil keuntungan untuk diri pribadi. Kalaulah ada politikus tak percaya teori konspirasi, maka itu sepertinya politikus abal-abal. Mudah dimanfaatkan orang.

Seperti kata suami saya (lho ya….,hehehe), teori konspirasi itu lahir dari pengamatan terhadap fakta-fakta konspirasi yang memang sudah terbongkar. Karena untuk mengungkap sebuah konspirasi, itu sangat tidak mudah. Apalagi konspirasi yang menyangkut dunia global. Ada data-data yang disembunyikan. Ada kebohongan-kebohongan yang dipampang secara terbuka. Ada data-data yang dikemas secara ilmiah. Hingga ada tokoh-tokoh mulai dari cendekiawan, ilmuwan, kepala Negara, hingga artis yang ditampilkan untuk menutupi sebuah kebohongan besar.

Konspirasi itu ada. Suami saya juga bilang begitu. Tapi jangan menuduh kami pencinta teori konspirasi atau Conspiracy Lover.

Sejujurnya, sekiranya Al Qur’an dan Hadits tidak menyebutkan hal ini, maka saya termasuk orang yang lurus-lurus saja dalam melihat fakta.

Di dalam Al Qur’an dikisahkan sebuah konspirasi yang hampir tak terungkap (X File), sekiranya Allah Azza wa Jalla tidak membongkarnya.

Ini dikisahkan dalam Surat Al Baqarah. Kisah tentang sapi betina, adalah kisah yang menceritakan sebuah konspirasi pembunuhan seorang tua yang kaya. Ia dibunuh oleh keponakannya sendiri, ahli warisnya. Sang keponakan yang seharusnya bersyukur dan berkhidmat kepada pamannya ini, dikuasai nafsu jahat untuk segera mengambil alih harta waris. Lebih dari itu, ia juga ingin mengeruk keuntungan dari pembayaran diyat kasus pembunuhan pamannya. Jasad pamannya diletakkan di sebuah pemukiman, yang kemudian ada pihak yang menjadi tertuduh dalam kasus ini. Dalam sebuah riwayat disebutkan bagaimana sang ponakan sampai nangis-nangis tidak rela pamannya meninggal dunia. Padahal dia sendiri yang membunuhnya. Saat itu ada Nabi Musa as di antara mereka.

Allah Azza wa Jalla, melalui NabiNya mengungkap kasus pembunuhan tersebut. Kisah Sapi Betina menggambarkan skenario Sang Maha Pencipta yang mampu mengalahkan skenario jahat syaithan. Saya menyebut skenario syaithan, karena ini adalah sifat yang membentuk karakter manusia dan jin yang jahat. Dalam banyak kasus, manusia sering lebih jahat daripada jin. Dengan caraNya, Allah Ta’ala akan meninggikan orang-orang beriman dan merendahkan orang-orang jahat. Sapi betina dalam kisah ini adalah milik seorang anak yatim yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Sapi betina itu kelak dibeli dengan harga yang sangat tinggi dan disembelih. Salah satu anggota badan sapi dipukulkan ke mayit (si terbunuh), ia pun hidup kembali dengan seizin Allah, hanya untuk memberitahu siapa yang membunuhnya. Kemudian kembali menjadi mayit. Konspirasi pun terbongkar.

Al Qur’an pun mengisahkan sebuah konspirasi dalam sebuah surat yang disebut sebagai Ahsanul Qasas. Kisah konspirasi yang sangat panjang berliku namun berakhir indah. Inilah kisah dalam Surat Yusuf. Dikisahkan bahwa saudara-saudara Yusuf as melakukan konspirasi untuk membuang Yusuf agar jauh dari ayahnya. Awalnya mereka ingin membunuh, namun kemudian mereka hanya membuangnya ke sumur. Mereka pun pulang sambil nangis lebay bin bombay. Kok dibilang bombay? Iyalah, karena cuma akting.

Di dalam Al Qur’an disampaikan:
“Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, ”Engkau kelak pasti akan menceritakan keadaan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” (TQS Yusuf: 15)

“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis.” (TQS Yusuf: 16)

“Mereka berkata,”Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan srigala, dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” (TQS Yusuf:17)

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya yang berlumuran darah palsu. Dia (Yaqub) berkata,”Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (TQS Yusuf:18)

Kelak konspirasi ini terbongkar secara indah. Para pelakunya bertaubat.

Di masa Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, konspirasi yang beliau hadapi pertama kali adalah konspirasi orang-orang kafir Quraisy. Khususnya yang menyangkut upaya membungkam dakwah Islam dan juga ketika mereka hendak membunuh Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam .

Ketika Islam telah tumbuh menjadi institusi politik dan kekuasaan di Madinah, maka tak ada konspirasi yang lebih licik dan jahat daripada konspirasi Yahudi. Allah Ta’ala menolong RasulNya yang paling mulia, melalui utusannya yang paling mulia dari kalangan penduduk langit, yakni Malaikat Jibril as. Berulangkali konspirasi terbongkar oleh pemberitahuan Malaikat Jibril. Hingga akhirnya tidak ada satupun komunitas yahudi yang tersisa di Negara Madinah. Yahudi Bani Nadhir, Bani Qainuqa dan Bani Quraizhah telah diusir dan diperangi oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan yang terakhir adalah Yahudi Khaibar sebagai sekutu Quraisy Mekah, berhasil ditaklukkan oleh Negara Madinah.

Begitulah konspirasi. Ini adalah persoalan yang tak akan pernah selesai hingga hari kiamat. Selama iblis masih memiliki teggat waktu untuk menjerumuskan anak keturunan Nabi Adam as, maka konspirasi akan tetap ada.

Naudzu bi Kalimatillaahit tammaats min syarri maa khalaq (Kita berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan keburukan-keburukan yang Dia ciptakan)

Dan untuk menutup tulisan ini (atau curhat ini), ada sosok sahabat yang saya sering mengingatkan beliau bila membahas masalah konspirasi.

Beliau adalah Hudzaifah Ibn Yaman Ra.
Hudzaifah Ra adalah sahabat yang dikenal sebagai pemilik rahasia Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, tentang orang-orang kafir dan munafik serta konspirasi mereka. Bahkan bisa dikatakan Hudzaifah ra adalah pimpinan Intelijen di masa Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam .

Hudzaifah Ibn Yaman Ra adalah seorang muslim yang sangat berhati-hati. Ia selalu menginginkan berjalan di atas petunjuk Al Qur’an dan Sunnah. Bila para sahabat lain biasa datang kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang kebaikan. Akan tetapi, Hudzaifah ra datang kepada Nabi untuk bertanya tentang kejahatan karena khawatir jatuh ke dalamnya.

Bagi Hudzaifah ra, kebaikan-kebaikan di dunia ini sudah sangat jelas bagi orang yang ingin mengerjakannya. Namun keburukan, seringkali tersembunyi. Karena itu orang yang cerdas harus benar-benar mempelajari apa itu keburukan beserta tokoh-tokohnya. Demikian pula, apa itu kemunafikan beserta tokoh-tokohnya.

Suatu hari Hudzaifah ra bertanya kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita dulu berada dalam kejahiliyahan dan kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini (maksudnya Islam), apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”
Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ya.”

“Lalu apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?” tanya Hudzaifah kembali.
“Ya, dan di dalamnya ada kerusakan yang tersembunyi.”
“Apa kerusakan yang tersembunyi itu wahai Rasulullah?”
“Orang-orang yang menunjuki tanpa petunjuk yang benar, ada hal yang engkau terima dari mereka dan ada pula yang engkau ingkari.”

“Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?”
“Ya orang-orang yang berdakwah di pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka akan mereka lemparkan ke dalamnya.”
“Ya Rasulullah, terangkanlah mereka kepada kami.”
“Mereka juga dari bangsa kita dan berbicara memakai bahasa kita.”
“Apa yang engkau wasiatkan kepadaku andaikan aku mendapat masa itu?”
“Berpegang teguh dengan jamaah muslimin dan pemimpin mereka.”
“Andaikan mereka tidak punya jamaah dan pemimpin?”
“Jauhi semua kelompok itu walaupun untuk itu engkau akan berpegangan pada akar pohon sampai kematian menjemput dan engkau tetap dalam keadaan demikian.”

Mendapatkan nasihat demikian, Hudzaifah ra semakin berhati-hati, mewaspadai dan peka terhadap berbagai fitnah dan keburukan. Hal ini dilakukannya agar bisa menghindari, sekaligus mengingatkan manusia agar tidak terjebak di dalamnya.

Hudzifah pernah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu tentang seluruh fitnah yang akan terjadi saat ini sampai hari Kiamat nanti.”

Ma syaa Allah, betapa Islam telah memberikan kita petunjuk terhadap semua hal, termasuk dalam menghadapi konspirasi.

Jadi bagaimana mungkin kita tidak peka terhadap konspirasi, padahal banyak hadits telah menjelaskan tentang dahsyatnya konspirasi menjelang Hari Kiamat.
Semua konspirasi melibatkan Yahudi dan Dajjal.

Kembali lagi, saya bukan pencinta teori konspirasi, juga bukan penggemar film dan novel konspirasi. Membaca belum tentu menggemari.

Tentang konspirasi itu sendiri, sekiranya Al Qur’an dan Hadits tidak mengarahkan kita untuk memiliki kepekaan berpikir terhadap konspirasi musuh-musuh Islam, maka buat apa kita peduli.

“Allahumma inna na’udzubiKa min adzaabil jahannam, wa min adzaabil qobri, wa min fitnatil mahyaa wa mamaats, wa min fitnatil masiihiddajjal. Aamiin.”

Lathifah Musa

You may have missed