Wednesday, 25 November 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Militansi Pengemban Dakwah

Oleh: Lathifah Musa

Konstelasi politik dunia mengarah kepada kejatuhan ideologi Kapitalisme-liberal. Hal ini membuka peluang bangkitnya Islam sebagai peradaban terbesar di abad ini. Namun kebangkitan Islam memerlukan sumberdaya manusia yang sangat tangguh. Karena kaum muslimin tidak sekedar dituntut membawa umat manusia untuk bangkit, tetapi juga agar tetap tegak berdiri menopang kekokohan peradaban. Generasi demi generasi muslim berikutnya akan silih berganti membangun peradaban umat manusia. Generasi kita saat ini memiliki tanggung jawab mengentaskan diri dari keterpurukan. Generasi berikutnya bangkit berdiri memimpin umat untuk bergerak. Demikian generasi seterusnya harus senantiasa bergerak menuju ketinggian, dari ketinggian menuju yang lebih tinggi lagi. Inilah pencapaian muslim untuk  mewujudkan secara nyata “Islam Rahmatan lil ‘Alamiin” dan melihat dalam wujud sebuah peradaban ” al Islamu Ya’luu wa laa Yu’laa alaih“.

Militansi dalam Meraih Tujuan

Istilah militansi sering dimaksudkan sebagai kesungguhan, kerja keras dan mengerahkan segenap kesanggupan untuk meraih tujuan yang diinginkan. Dalam konteks militansi meraih tujuan ini, seseorang rela berpayah-payah, bekerja keras, tidak berleha-leha bahkan menanggung derita agar bisa meraih sesuatu yang dipandangnya sebagai kebenaran. Sesuatu yang dimaksud ini adalah hal berharga dalam hidupnya.

Sebenarnya setiap manusia memiliki potensi eksistensi diri. Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan eksistensi ini. Potensi yang merupakan bagian dari naluri ini menjadi modal awal untuk manusia bisa bertahan hidup (survive) di tengah komunitasnya. Naluri ini juga menjadi potensi awal untuk melakukan pencapaian-pencapaian nilai dalam hidupnya.

Seseorang yang mengganggap pencapaian tertinggi dalam hidupnya adalah meraih prestasi dan prestise di hadapan manusia, akan sanggup berpayah-payah untuk mewujudkan prestasi dan prestise tersebut. Ia akan bisa bekerja keras siang dan malam serta mengorbankan kekayaannya untuk peraihan prestasi dan prestise.

Namun sebelum mewujudkan keinginannya, tentu ia harus mengukur terlebih dahulu apa prestasi yang bisa meninggikan prestise di mata masyarakat. Inilah sebabnya mengapa ada yang sanggup membeli gelar sarjana, master, doktoral dengan hartanya. Atau seseorang yang bisa dengan gigihnya mengumpulkan kekayaan tanpa memandang halal dan haram agar bisa terpandang di mata manusia.

Ukuran prestasi dan prestise pun bisa bermacam-macam sesuai dengan tolok ukur yang saat itu menjadi budaya di tengah masyarakat. Karena sesuai dengan selera masyarakat, maka akan terjadi perubahan dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu zaman ke zaman lain. Itulah sebabnya mengapa di masyarakat Jawa dulu dikenal istilah priyayi dan wong Ndeso. Ada ningrat dan rakyat kebanyakan. Ada kebanggaan tersendiri menyandang predikat priyayi dan ningrat. Seperti juga dalam masyarakat India atau Bali yang mengenal istilah kasta Brahmana, Satriya, waisya  dan Sudra. Ada kerendah dirian dalam diri kasta sudra. Atau pandangan masyarakat umumnya terhadap istilah majikan, orang merdeka, mantan budak (maula) dan budak. Masing-masing memiliki nilai dan rasa prestise tersendiri.

Prestasi dan prestise pada masyarakat kapitalis terukur dari seberapa banyak materi yang dimiliki. Biasanya dilihat dari mobil apa yang dikendarai, baju desainer mana yang dikenakan, sepatu dan tas merk apa yang dipakai dan berlian yang menghiasinya. Istilah sosialita juga menunjukkan level kelas tersendiri dalam komunitas pergaulan, tentu dalam ukuran para kapitalis.

Pencapaian-pencapaian nilai inilah yang akan mendorong manusia untuk bersungguh-sungguh melakukan perbuatan. Semakin bernilai tujuan tersebut di hadapannya, maka militansinya dalam meraih nilai tersebut semakin besar. Bayangkanlah seseorang yang menyebarkan uang receh seratusan rupiah di tengah kerumunan banyak orang dengan seseorang yang menyebarkan lembaran-lembaran uang seratusan ribu rupiah.  Yang menyebarkan seratus rupiah hanya akan dilirik, sementara yang seratus ribuan akan dikerubuti. Nilai yang tinggi di hadapan manusia umumnya akan membuat manusia otomatis bergerak meraihnya.

Ketika  memperbincangkan komunitas masyarakat yang meninggikan nilai materi, kita mengenal istilah “para pemburu dollar ” ini untuk para pekerja di AS; atau istilah “para pencari sesuap nasi dan segenggam berlian” ini untuk para eksekutif muda di belantara ibukota Jakarta. Mereka semua sering diistilahkan sebagai “workaholic” atau “gila kerja” mengingat jam kerja mereka yang tak lagi kenal waktu. Sebuah militansi (kegigihan dan kesungguhan) yang hanya dimotivasi oleh materi. Maka dalam tulisan ini kita hanya akan membahas tentang militansi besar yang akan membawa tak hanya diri kita, namun juga bangsa dan seluruh umat manusia untuk bergerak cepat meraih nilai tertinggi. Tidak akan ada yang bisa membendung pergerakan besar dalam skala jumlah manusia yang besar ini. Inilah militansi ideologi.

Militansi Harus Berbasis Ideologi

Perjuangan manusia untuk meraih harapan dan cita-citanya memiliki dorongan dan motivasi tersendiri. Perjuangan meraih kemerdekaan dan mempertahankan negeri ini didorong oleh keinginan untuk bebas dari belenggu penjajahan yang telah menumpuk penderitaan. Penjajahan Belanda di Indonesia yang telah berlangsung berabad-abad memunculkan penderitaan dan kesengsaraan tersendiri bagi bangsa ini. Keinginan untuk bangkit dan bebas dari belenggu penjajahan mencapai titik tolak yang menggerakkan ketika muncul kesadaran di kalangan generasi berpendidikan bahwa penjajahan bersifat menindas dan kemerdekaan adalah cita-cita yang luhur.

Namun yang tak pernah terungkap secara jujur oleh tokoh-tokoh nasionalis adalah bahwa sesungguhnya kemerdekaan di Indonesia berhutang banyak pada motivasi ideologi yang tertanam dalam jiwa para pejuang. Keberanian para pejuang dalam membela tanah air ini dimotivasi oleh jihad fii sabiilillah yang telah menetapkan nilai ruhiyah (kesadaran hubungan hamba dengan Allah SWT) bahwa tujuan tertinggi hanyalah “hidup mulia –dalam konteks merdeka—atau mati syahid”. Kita bisa melihat kekuatan ini pada peristiwa 10 november  1945 di Surabaya 1. Tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai sebagai pemimpin agama Islam). Tokoh muda seperti Bung Tomo, melalui media radio memimpin propaganda untuk menggerakkan rakyat Indonesia di Surabaya untuk bergerak dalam rangka jihad fii sabiilillah mempertahankan kemerdekaan negeri ini. 2

Namun motivasi ideologi tidak akan langgeng tanpa kekuatan dan kemurnian ideologi tersebut. Sebenarnya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah wujud dari kemerdekaan negara Islam. Namun negara Islam ini hanya berumur sehari, karena pada tanggal 18 Agustus 1945 dihapuslah tujuh kata dalam piagam kemerdekaan yang menggambarkan ruhiyah masyarakat, yakni : “… dan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya…” Atas upaya dari tokoh-tokoh nasionalis, kalimat yang menggambarkan ruh Islam dalam piagam Jakarta itu dihapus. Banyak tokoh-tokoh Islam yang merasa terkhianati. Namun tidak sedikit tokoh-tokoh yang berkompromi. Mereka beranggapan bahwa sedikit kompromi hanyalah untuk menyelamatkan situasi. Selanjutnya akan ada perbaikan menuju kesempurnaan. Padahal yang terjadi adalah sekali kompromi maka akan selalu terjebak pada situasi kompromi. Mengkompromikan ideologi yang satu dengan ideologi yang lain, tidak akan menguatkan ideologi manapun. Dan kenyataannya ideologi Islam, tak mengenal kompromi.

Islam sebagai sebuah ideologi, memiliki pemikiran dasar bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw adalah utusanNya. Pemikiran dasar ini menjadi asas berbagai pemikiran tentang kehidupan. Hal ini juga menjadi dasar keyakinan bahwa Allah SWT menurunkan aturan (hukum) yang menjadi rambu-rambu bagi manusia dalam menjalani hidupnya, mengatur  tata cara beribadah, tata cara memenuhi seluruh kebutuhan dan naluri, tata cara saling berinteraksi, tatac ara mengelola lingkungan, wilayah, negara bahkan semesta. Aturan ini termaktub dalam Al Qur’anul Karim, Kitab Suci yang diturunkan Allah SWT kepada RasulNya dan seluruh sabda serta perilaku  Rasulullah Saw yang dimaksudkan sebagai penjelasan al Wahyu.

Allah SWT berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Adakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang meyakini?” (TQS al Maidah: 50)

Islam sebagai ideologi memunculkan komitmen bahwa setiap muslim harus berpegang teguh kepada risalah Allah SAW. Risalah Allah SWT sebagai petunjuk hidup, pedoman prilaku, koridor menyelesaikan masalah dan rambu-rambu meniti jalan menuju kebangkitan, penuntun menuju kemuliaan, menaiki ketinggian dan dari ketinggian menuju ketinggian.

Islam sebagai ideologi memunculkan motivasi untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Karena dengan melakukan yang terbaik, maka manusia akan mendapatkan balasan yang terbaik. Setiap manusia memiliki kemampuan terbaik. Ukurannya tidak pada kuantitas ataupun kualitas. Namun setiap potensi dirinya dicurahkan untuk memberikan yang terbaik, semata-mata karena Allah SWT. Tidak ada yang bisa menilai amal terbaik yang diterima selain dari Allah SWT. Islam hanya menetapkan rambu-rambu dan koridor, yaitu laksanakan kewajiban dan jauhi kemaksiatan. Maka manusia hanya dituntut untuk berbuat, dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan menolong dan memudahkan setiap hambaNya yang berjalan menuju kebaikan. Keyakinan inilah yang memunculkan militansi pada diri seorang muslim.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah maka Allah akan menolong kalian  dan mengokohkan kedudukan kalian di muka bumi” (TQS. Muhammad: 7)

Militansi yang kuat tumbuh dari ideologi yang kuat, yang tertanam dalam jiwa pengembannya. Keharusan tumbuhnya militansi dari ideologi, adalah agar militansi ini tidak bersifat semu dan sesaat. Misalnya hanya ketika berada dalam komunitas tertentu atau tidak sedang menghadapi masalah tertentu, militansi tetap terjaga, sementara bila berbenturan dengan masalah, maka militansi menjadi patah. Tidak heran memang, bila ada seorang pengemban dakwah yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan (misalnya berkompromi dengan sistem demokrasi), akan mengalami kelemahan militansi dalam memperjuangkan ideologinya. Karena ada saatnya ia harus melegalkan sebuah UU liberal, ada saatnya ia harus berkompromi dengan kepemimpinan kufur, ada saatnya ia harus berkompromi dengan pelanggaran syariat, ada saatnya ia harus mengkhianati amanah orang-orang yang dipimpinnya dan ada saatnya ia harus bermuka dua tentang sebuah kebenaran. Ketika fenomena itu terjadi, maka saat itulah terbukti bahwa sebuah militansinya tidak bersumber dari ideologi Islam yang murni.

Militansi Ideologi dalam Profil Muslimah

Militansi ideologis tidak akan membuat dualisme sosok pengemban dakwah. Karena militansi ini dipagari oleh syariat Islam. Seorang pengemban dakwah tidak akan menjalankan aqad-aqad yang bertentangan dengan Islam, karena ketaatan kepada hukum syara’ adalah komitmen terhadap ideologinya. Seorang pengemban dakwah tidak akan melakukan pengabaian terhadap keluarganya, karena keluarga adalah bagian dari tanggungjawabnya. Seorang daiyah tidak akan membiarkan anak-anaknya terlantar karena pengabaian peran keibuannya.

Militansi ideologis dalam profil muslimah sholihah akan semakin memberikan gambaran nyata tentang sosok muslimah yang seharusnya. Muslimah sebagai istri yang memahami tanggung jawabnya akan menjadi partner sejati dalam rumah tangga-rumah tangga kaum muslimin. Ketaatannya kepada suaminya adalah ketaatan kepada hukum syara’. Pengabdiannya kepada keluarga adalah kemuliaan menjadi perhiasan terindah di dunia sebagaimana Sabda Rasulullah Saw:

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah muslimah sholihah.” (HR. Muslim)

Energi militansi yang dicurahkan ketika menjalani peran keibuan, adalah penghormatan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

Surga itu di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad)

Islam telah menetapkan bahwa seorang muslimah adalah ibu dan pengatur rumah tangga. Islam membebankan tanggung jawab bagi seorang ibu untuk merawat kehamilan, melahirkan, menyusui bayinya, mengasuh anak-anak kecil dan menjalankan pendidikan usia dini bagi anak-anaknya. Kewajiban utama ini tidak akan menghilangkan militansi dakwahnya, bahkan akan semakin memacu dirinya untuk menemukan energi dan kreativitas baru (uslub-uslub baru) yang memberikan produktivitas tinggi bagi kemajuan dakwah Islam. Kelahiran anak-anak, bukanlah hambatan dalam mewujudkan militansi, namun menjadi harapan munculnya kader-kader pejuang baru yang akan meneruskan cita-cita Islam yang tinggi dan mulia.

Militansi, Kesadaran dan Kesungguhan untuk Memimpin

Saat ini Ideologi Islam masih berupa benih subur yang tumbuh bersemi dalam jiwa mayoritas kaum muslimin.  Ideologi Islam belum terwujud dalam bentuk mabda (prinsip ideologis dan sistem hidup). Kaum muslimin masih hidup dalam cengkeraman sistem kapitalisme liberal. Sistem ini yang menyebabkan semakin banyak orang miskin sementara kekayaan dunia mengalir pada segelintir orang kaya. Kesenjangan hidup antara yang kaya dan miskin semakin dalam, dan yang miskin semakin bertambah miskin. Sistem ini juga menyebabkan kerusakan lingkungan akibat eksplorasi yang rakus serta membabi buta.  Sistem yang liberal menyebabkan manusia hidup pada kenistaan, kerusakan moral dan jiwa. Sistem Kapitalisme yang jahat dan keji telah kasat mata diakui kerusakannya bagi sebuah peradaban manusia.

Islam menjadi harapan pengentasan umat manusia dari penderitaannya yang dalam. Harapan ini tumbuh dan bersemi dalam diri para pengemban ideologi Islam. Pada para pengemban dakwah inilah bertumpu harapan terwujudnya sistem Islam yang menyelamatkan umat manusia.

Prinsip ideologi yang menghunjam dalam jiwa tidak akan dengan sendirinya mengubah sistem hidup yang ada. Diperlukan perjuangan yang kuat agar ideologi memasyarakat kemudian terwujud dalam sistem yang nyata. Perjuangan memerlukan militansi yang kuat dari para pengembannya. Namun hal ini tidak bisa diharapkan dari mereka yang belum memahami kedalaman ideologi dan bagaimana langkah mewujudkannya. Untuk itu para pengemban dakwah harus memahami seperti apa mabda Islam dan bagaimana menerapkannya. Gambaran sistem yang utuh yang meliputi struktur negara, sistem ekonomi, sistem peradilan, sistem sosial, dan berbagai urusan kemaslahatan masyarakat harus tergambar dalam benak para pengemban dakwah. Gambaran penerapan Islam yang utuh ini telah diteladankan oleh Rasulullah Saw dan Khulafa’ur Rasyidin dalam bentuk Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.

Tidak akan terwujud tegaknya mabda, selain dari militansi para pengemban ideologi yang mendapat Nashrullah (karena kesungguhan pengorbanannya) untuk memimpin pergerakan menuju penegakan Daulah Khilafah Islamiyah. Militansi ideologi akan menumbuhkan kepemimpinan dalam diri para pengemban dakwah. Kepemimpinan untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Islam ideologis dan memperbanyak kader. Kepemimpinan untuk menggerakkan para kader dalam dakwah Islam. Kepemimpinan untuk menggerakkan umat menyambut Islam dan bersama-sama memperjuangkannya. Kepemimpinan untuk menggerakkan umat agar mampu bersama-sama merobohkan sistem yang rapuh dan rusak serta menggantinya dengan sistem baru di atas landasan ideologi Islam yang kuat. Kepemimpinan agar umat bersama-sama kader dakwah menjadi kekuatan yang kokoh dan solid yang akan memberikan amal terbaik demi meraih keridloan Allah SWT.

Membangun Militansi Ideologis Pengemban Dakwah

Persoalan militansi pengemban dakwah menjadi hal yang senantiasa dibahas dalam rangka meningkatkan kualitas para kader. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa militansi adalah hal yang tidak boleh dipisahkan dari kesadaran ideologis. Bahkan militansi tidak boleh dilepaskan dari setiap tahap pembinaan kader. Karena militansi adalah kesadaran untuk senantiasa memberikan yang terbaik sesuai pemahamannya dan juga kemampuannya. Pemahaman terhadap ideologi yang mendalam, jernih, bersih, dan cemerlang  apabila menyatu dengan militansi yang tinggi akan memberikan hasil yang seringkali di luar dugaan. Sebagaimana riwayat menuturkan perjuangan shahabat-shahabat Rasulullah Saw dalam mendampingi Beliau menegakkan Risalah Islam dan meluaskannya. Sejarah memaparkan perjuangan luar biasa heroik dari para mujahid ketika melakukan pembebasan negeri-negeri dan menggabungkannya dengan Khilafah Islamiyah.

Di sinilah pentingnya memahami bagaimana mewujudkan militansi ideologis pada diri kader-kader dakwah. Empat hal awal yang harus diwujudkan:

  1. Pembinaan Tsaqofah Islam dalam bentuk yang utuh dan integral. Penguasaan tsaqofah ini menjadi modal bagi para kader untuk memahami hukum-hukum syara’. Jangan sampai ketidaktahuan terhadap hukum-hukum syara menyebabkan para kader dakwah sendiri tergelincir pada kefasadan. Tidak sekedar itu, masyarakat akan salah kaprah karena menganggap apa yang dilakukan para pengemban dakwah bukan suatu kesalahan
  2. Pembinaan para kader agar menjadi mufakkirin-siyasiyin. Pengemban dakwah adalah guru-guru di tengah masyarakat. Mereka bukan sekedar guru dalam persoalan fiqh-fiqh ibadah dan muamalah. Tetapi juga menjadi guru dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Saat ini problem kehidupan kapitalistik-liberal tidak bisa dipecahkan dengan jawaban-jawaban figh sebagaimana yang banyak tertuang dalam kitab-kitab para Ulama. Musuh-musuh Islam bahkan telah menebarkan propaganda sesat yang menjauhkan Islam dari kehidupan, dengan mengatakan bahwa jawaban-jawaban dalam fiqh Islam tidak realistis lagi dengan kehidupan modern. Yang ditunggu oleh umat saat ini adalah para pemimpin yang bukan saja menguasai tsaqofah Islam, namun juga menjadi pemikir (mufakkirin) sekaligus pejuang politik (siyasiyin) agar Islam terwujud dalam realita kehidupan. Wawasan terhadap kondisi umat terkini haruslah dimiliki oleh setiap mufakkirin-siyasiyin agar bisa merancang strategi dalam rangka memenangkan pertarungan dalam kancah politik internasional.
  3. Pembinaan yang mampu memberikan arahan dan keteladanan kepada para kader agar  bisa mencurahkan kesungguhannya untuk senantiasa berpegang teguh pada hukum syara dan senantiasa memperbarui komitmen untuk memperjuangkan tegaknya Islam. Pada aspek inilah militansi menjadi target pembinaan yang selalu dipantau oleh kepemimpinan partai politik Islam ideologis sebagai institusi yang memimpin pemikiran politik umat dan membina kader-kadernya
  4. Pembinaan yang mampu melahirkan kader-kader militan yang senantiasa menjadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai mekanisme untuk memurnikan kristalisasi ideologi dalam jiwa dan perilaku para pengemban dakwah. Tanpa membedakan tingkatan struktur kepemimpinan, senioritas kader, usia, atau kondisi apapun.

Demikian upaya membangun militansi ideologi ini, insya Allah akan menghasilkan pejuang-pejuang Islam yang tangguh, da’iyah sejati yang menyatu dalam profil muslimah sholihah. Para ibu pejuang inilah yang akan mampu melahirkan generasi pemimpin di masa yang akan datang, Para Mujtahid-Mufakkirin-Siyasiyyin-Mujahid Fii Sabiilillah. Generasi yang tak akan diragukan lagi militansinya.

CATATAN KAKI

  1. Kemenangan Sekutu dalam PD II, membuat Jepang yang menguasai Indonesia sejak 1942 pun takluk. Tentara Inggris sebagai bagian dari sekutu datang bermaksud melucuti Jepang. Namun ternyata Inggris juga memiliki misi mengembalikan Indonesia –yang saat itu telah merdeka—ke tangan Pemerintah Belanda. Inilah yang memicu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan Sekutu. Dalam pertempuran di Surabaya, Brigjen Malaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), terbunuh pada 30 Oktober 1945. Pasca terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk. Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak. Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai sebagai pemimpin agama Islam) juga pada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris. Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan
  2. Ini tampak jelas dalam seruan Takbir “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Merdeka” dalam rekaman pidato Bung Tomo yang didengarkan oleh seluruh komponen Pejuang melalui radio. Saat itu siaran radio menjadi alat komunikasi para pejuang. Seruan untuk mengobarkan semangat jihad juga kode-kode sandi untuk menggerakkan pasukan dikomunikasikan melalui radio

You may have missed