Anak Adalah Aset Dakwah Umat
Minggu lalu diberitakan seorang ibu muda tega membunuh bayi yang baru dilahirkannya. Ini bukan karena alasan hubungan gelap, karena bayi itu adalah anak dari suaminya. Sang ibu melenyapkan nyawa sang bayi karena tidak mau punya anak lagi. Yang mengejutkan lagi padahal mereka baru punya seorang anak saja. Dan dilihat dari kondisi rumahnya, pasangan suami istri ini bukan tergolong keluarga melarat.
Seberapa Tinggi Kau Jual Dirimu?
Pembaca budiman, ada logika bicara, semakin tinggi nilai sebuah barang, berarti ia semakin berharga. Logika ini juga dipakai oleh sebagian mubaligh dan juga aktivis dakwah. Mereka berlomba-lomba memasang tarif tinggi. Nampaknya logika bisnis itu telah jadi pakem dari kegiatan dakwah belakangan ini.
Antara Kebenaran Dan Kemenangan
Adalah tragedi bila para pejuang dakwah telah berpaling dari sunnah dakwah yang digariskan oleh Nabi saw. Ujung dari sikap berpaling itu adalah kekalahan dan makin terpuruknya umat ini dari posisi mulia yang pernah diraihnya. Bukan itu saja, umat dan para pengemban dakwah justru akan tersesatkan dari jalan kebenaran.
Memutuskan Hubungan dengan Kebatilan
Beberapa hari lagi kita pun akan menyaksikan drama berikutnya; sambutan para penguasa negeri ini kepada penjagal kaum muslimin yang berkedok ‘kasih sayang’ dan ‘perdamaian’, Barrack Obama. Akankah ada keberanian dari para pemimpin negeri ini untuk memutuskan hubungan dengan kebatilan dan kekufuran? Tidak memberikan loyalitas dan kesetiaan kepada musuh Allah? Ataukah mereka akan memberikan sembah ta’zhim?
Segantang Gandum Rasulullah saw.
Suatu ketika Umar bin Khaththab menemui Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah saw. tengah menyendiri di gudang rumahnya. Tatkala Umar datang, ia mendapati Rasulullah saw. tengah berbaring di atas tikar dan terlihat guratan tikar pada wajah dan tubuh beliau. Sedangkan makanan beliau saat itu hanyalah segantang gandum dan qarazh yang disimpan di sudut kamar. Melihat keadaan itu bercucuranlah air mata Umar.
Ingat Abu Bakar!
Saat Abu Bakar berdua bersama Rasulullah saw di Gua Tsur, ia mencemaskan dan mengkhawatirkan nasib utusan Allah tersebut, bukan dirinya. Karena ia tahu bahwa Rasulullah saw lebih mulia dan utama ketimbang dirinya. Untuk itu ia rela tangannya dipatuk hewan berbisa di Gua Tsur, agar Nabi saw. tidak dipatuk.
