Wednesday, 23 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Seberapa Tinggi Kau Jual Dirimu?

Pembaca budiman, ada logika bicara, semakin tinggi nilai sebuah barang, berarti ia semakin berharga. Logika ini juga dipakai oleh sebagian mubaligh dan juga aktivis dakwah. Mereka berlomba-lomba memasang tarif tinggi. Nampaknya logika bisnis itu telah jadi pakem dari kegiatan dakwah belakangan ini.

Oleh: M. Iwan Januar

Seorang sahabat yang bekerja sebagai kepala TPA di kota saya tinggal berkeluh kesah tentang seorang penceramah yang demikian ‘kaku’ memasang tarif. Konon sang mubaligh meminta honor tidak boleh kurang dari 6 juta rupiah. Ketika panitia meminta keringanan, dengan alasan dana kegiatan tabligh berasal dari swadaya masyarakat, sang mubaligh bergeming. Seperti tidak mau tahu darimana honornya akan diperoleh, ia tetap meminta tarif sebesar itu.

Pembaca budiman, ada logika bicara, semakin tinggi nilai sebuah barang, berarti ia semakin berharga. Logika ini juga dipakai oleh sebagian mubaligh dan juga aktivis dakwah. Mereka berlomba-lomba memasang tarif tinggi. Nampaknya logika bisnis itu telah jadi pakem dari kegiatan dakwah belakangan ini.

Bukan saja meminta tarif yang ‘wah’, sebagian mubaligh juga meminta pelayanan spesial dari umat. Ada sebuah perusahaan yang kelimpungan menyiapkan aneka pelayanan bagi sang mubaligh, hingga ke jenis makanan pun dirinci sedemikian rupa. Kenyataannya, begitu ceramah selesai sang mubaligh melenggang kangkung, pergi meninggalkan tempat ceramah tanpa mencicipi sedikit pun makanan. Padahal panitia sudah bekerja keras mempersiapkan servis yang diminta kru mubaligh.

Ada juga sebuah event organizer yang kaget ketika seorang mubaligh meminta tarif belasan juta rupiah dan tiket pesawat maskapai penerbangan elit untuk pulang-pergi. Tidak mau yang lain. Bukan seorang atau dua orang, tapi sejumlah kawan yang sempat menjadi panitia kerap curhat tentang mubaligh A, mubaligh B, yang meminta honor yang lumayan dan servis yang high class.

Mengapa logika ekonomi semacam ini merasuk pada kalangan mubaligh? Ada beberapa alasan, pertama, untuk menjaga citra. Barang dengan harga bagus tidak pernah menipu, demikian doktrin dalam dunia bisnis. Ono hargo, ono rupo. Ada uang, ada barang. Semakin tinggi tarif sang dai, diyakini semakin bermutu ceramahnya.

Jika sang dai memasang ala kadarnya atau ‘semampu panitia’, apalagi menyatakan siap tidak dibayar,  ada kekhawatiran dalam hati mereka, ini bisa menjatuhkan citra. Mereka takut nanti panitia berpikir berarti da’i semacam ini kualitasnya rendah. Balik pada logika bisnis.

Kedua, para mubaligh, dai, atau trainer high class seperti ini, ingin memanjakan diri dengan fasilitas yang high class. “Kalau saya pulang pergi naik maskapai penerbangan ecek-ecek, badan bisa pegel-pegel, jadinya ceramah tidak optimal. Belum lagi resiko penerbangannya di-delay atau dicancel.”

Ketiga, kita tidak bisa pungkiri bahwa dakwah untuk sebagian kalangan sudah menjadi jalan hidup dan ‘sumber penghidupan’. Ngebul atau tidaknya dapur mereka dipasang dari ceramah ke ceramah, dari mimbar ke mimbar. Pantaslah jika tarif ceramah bisa naik seiring naiknya biaya hidup (baca: gaya hidup) para dai semacam ini.

Mungkin tidak terlalu pusing jika panitia berasal dari kalangan mampu, bagaimana jika panitia adalah kelas mahasiswa yang untuk membayar SPP, uang kos-kosan, dan makan saja kelimpungan? Bagaimana juga jika panitianya warga kampung yang dengan susah payah mereka kumpulkan uang dari rumah ke rumah karena haus akan siraman dan pencerahan rohani dari mubaligh yang ikhlas?

Dunia dakwah pun telah dijungkirbalikkan, dakwah menjadi ladang perputaran uang. Bahkan sampai ada makelar ceramah (selain makelar kasus) yang konon bisa menghubungkan panitia dengan sang mubaligh secara cepat. Panitia pun selalu survey ‘pasar’ saat akan mengundang para mubaligh, mencari penceramah yang cocok dengan anggaran panitia.

Ada dua sisi dalam hal ini, pertama, kita yang diajarkan untuk memuliakan kaum alim sebagaimana Allah pun memuliakan mereka. Kedua, seberapa tinggi seorang alim menjual diri mereka kepada Allah.

Pada bagian yang pertama, marilah kita muliakan kaum alim semampu kita. Karena memang Allah tidak membebani kita kewajiban melainkan sebatas kemampuan yang bisa kita berikan.

Tapi pada bagian yang kedua, seberapa tinggi para dai menjual diri mereka kepada Allah? Bukankah tujuan utama dakwah setiap dai adalah menggapai mardlotillah? Bukankah jannah Allah yang kita harap dan bukan surga duniawi yang dicari?

Para muarrikh, penulis sejarah Islam yang gemilang, menorehkan dengan tinta emas ketika Utsman bin Affan menginfakkan seribu dinar untuk keperluan Perang Tabuk, sampai-sampai Rasulullah berdoa, “Ya Allah ridhoilah Utsman, karena aku ridho padanya”.

Para muarrikh mungkin meneteskan air mata ketika menuliskan sikap tujuh orang fakir dari kalangan Anshar yang menangis karena tak memiliki harta untuk memberangkan diri mereka sendiri ke medan Perang Tabuk. Dengan hati remuk redam dan penuh harap mereka mendatangi Rasulullah saw. agar sudi memberangatkan mereka ke jihad fi sabilillah. Tapi Nabi yang mulia ini pun tak kuasa, karena memang kesulitan biaya untuk menampung hasrat berjuang yang amat besar dari para sahabat. Milisi Perang Tabuk ini memang dikenal dengan nama jaysul ‘usroh, pasukan susah.

Apa yang para sahabat lakukan, adalah membiayai ongkos perjuangan mereka, dan baru memintanya ketika memang tidak mampu berangkat ke medan juang. Attitude dakwah seperti ini adalah teladan wajib bagi setiap orang mengaku telah mewaqafkan hidup mereka di jalan dakwah.

Seorang dai adalah orang yang menyeru umat agar mencari keridloan Allah, maka mereka harus jadi orang pertama yang melakukannya. Seorang dai adalah orang yang menyeru umat agar berkorban demi kemuliaan agama ini, maka mereka harus menjadi orang pertama yang mengorbankan apa yang mereka punya untuk agama ini.

Seorang dai adalah pelayan umat dalam urusan dakwah, maka mereka harus melayani umat sebaik-baiknya; menanamkan pemahaman yang haq, mengingatkan mereka agar senantiasa bertakwa, dan menegur mereka tatkala melakukan kesalahan.

Seorang dai berada di garda terdepan menyongsong surga Allah dan tidak peduli atas apa yang diberikan umat kepadanya, karena dalam benaknya, ia akan menjual diri setinggi-tingginya kepada Allah SWT., bukan kepada manusia. dan memang hanya Allah yang mampu membayar dengan impas berapa pengorbanan yang diberikan seorang dai untuk agamaNya. Bukankah demikian?[]

You may have missed