Monday, 28 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Ingat Abu Bakar!

Saat Abu Bakar berdua bersama Rasulullah saw di Gua Tsur, ia mencemaskan dan mengkhawatirkan nasib utusan Allah tersebut, bukan dirinya. Karena ia tahu bahwa Rasulullah saw lebih mulia dan utama ketimbang dirinya. Untuk itu ia rela tangannya dipatuk hewan berbisa di Gua Tsur, agar Nabi saw. tidak dipatuk.

MediaIslamNet.Com–Beberapa tahun silam seorang aktivis dakwah pernah menjawab pertanyaan sejumlah kalangan; mengapa harakahnya malah bermain ‘cantik’, dalam arti melunakkan kalaulah tidak dikatakan menyimpangkan ideologinya. Teriakkan ‘Islam’ menjadi tidak lantang bahkan jadi sumbang.

Ia menjawab, bahwa ini untuk mencegah dakwah mereka terkena pukulan ‘angin puting beliung’. Ia berhitung betapa disayangkan jika aset dakwah dan sekian puluh ribu pengikut harus berantakan jika disergap ‘angin’ yang tak kenal ampun itu. Yang dimaksud ‘angin tornado’ itu adalah serangan dari rejim penguasa yang lalim.

Ia juga berdalih bahwa betapa merangkai bangunan dakwah amatlah berat. Jika kemudian harus porak poranda, maka bisa dibayangkan ‘ongkos’ yang harus dibayar; waktu, tenaga dan kepercayaan. Karena itu, ia sadar sesadar-sadarnya bahwa dakwah tetap bisa berjalan dengan cara halus.

Apa yang diutarakan aktivis tadi sebenarnya adalah cerminan dari rasa ketakutan dari lubuk hatinya. Takut, khawatir, cemas jika dakwah poranda. Atau mungkin juga takut jika seorang pengemban dakwah harus berhadapan dengan penguasa dan masyarakat yang masih phobi terhadap Islam, sementara bangunan dakwah belumlah solid.

Takut adalah fitrah manusia. Siapapun bisa merasakan takut. Ketakutan itu juga bisa menyergap seorang pengemban dakwah. Takut dibenci orang tua, mertua, lingkungan. Takut nafkah terputus akibat dakwah, takut akan balasan dari penguasa yang diserunya ke jalan Allah. Bahkan pengemban dakwah juga bisa takut tidak mendapatkan dunia karena berdakwah.

Ketakutan adalah respon seseorang terhadap sebuah permasalahan. Respon yang datang dari pemahamannya tentang kehidupan. Ada orang yang demikian takutnya pada kemiskinan sampai bunuh diri, ada yang takut kehilangan orang yang dicintainya lalu membunuhnya dan kemudian ia sendiri bunuh diri. Tapi ada orang yang seolah tak pernah takut pada apapun, termasuk kematian. Pernahkah Anda mendengar kisah seorang terpidana mati yang menghadapi tajamnya peluru dengan senyuman? Menghadapi dinginnya tiang gantungan dengan ketegaran?

Beberapa saat menjelang eksekusi asy-Syahid Sayyid Quthb di tiang gantungan, seorang perwira Mesir mendatangi beliau. Memohon agar asy-Syahid bersedia mengaku salah pada rezim Gamal Abd Nasser, dan meminta maaf. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Saat masih berada di dalam penjara penulis tafsir Fi Dzilal al-Quran juga pernah ditawari hal serupa. Kala itu ia menjawab dengan kalimat yang hingga hari ini masih bergema di telinga para pejuang dakwah dan syariah, “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thaghut…” Subhanallah!

Allah Ta’ala mengingatkan kita agar menjadikan DiriNya satu-satunya yang layak ditakuti, bukan yang lain. Karena ketika seorang mukmin takut pada selain Allah, ia bisa menjual agamanya dengan dunia.

“Janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.”(QS. Al-Maidah [5]: 44).

‘Harga yang sedikit’ itu beragam penafsirannya. Dalam dakwah bisa berarti jabatan, pengaruh, popularitas, uang, rasa aman (dari ancaman musuh-musuh Allah), untuk kemudian ia ‘menjual’ dakwahnya kepada thaghut. Melunakkan ideologi perjuangannya, mencari muka musuh-musuhnya, bersilat lidah dengan bermain kata-kata manis, lalu ia tutupi dengan dalih dakwah. Laksana seorang musafir yang ketakutan melihat seekor anjing yang disangka akan menggigitnya lalu ia umpankan semua perbekalannya – agar tidak digigit anjing itu – yang pada akhirnya ia sendiri mati kelaparan di tengah perjalanan.

Kita semua bisa dan pernah takut. Semua ketakutan adalah belenggu. Seorang pengemban dakwah yang merasa takut akhirnya tak bisa menyampaikan kebenaran dengan sebenar-benarnya pada umat. Hanya takut pada Allah semata yang justru membebaskan kita dari belenggu kehidupan.

Para syabab dakwah di Uzbekistan rela menanggung derita akibat dakwah di bawah rezim komunis si Yahudi Karimov. Demikian pula di Kyrgistan, para syabab dakwah menjalani hari-hari dakwah mereka dalam teror. Di Turki, Bangladesh dan Pakistan para syabab dakwah dibui para penguasanya sendiri karena dianggap mengancam kepentingan majikan mereka.

Tindakan kejam para penguasa pada para syabab dakwah itu adalah cerminan rasa takut yang hina. Takut kehilangan jabatan, kekuasaan, harta dan popularitas. Itulah ketakutan yang menjadikan mereka tetap sebagai budak yang akan mereka sesali kelak.

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (tuhan-tuhan selain Allah): “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.”(QS. Al-Baqarah: 167).

Berbicara rasa takut, maka sejarah emas kaum muslimin telah memberikan teladan tentang rasa takut yang dimuliakan Allah. Yaitu ketakutan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tatkala menemani Rasulullah saw. di Gua Tsur saat bersembunyi dari kejaran kaum musyrik Quraisy.

Abu Bakar adalah orang yang telah berharap agar menjadi orang yang menemani Rasulullah saw. saat berhijrah. Ia telah persiapkan perbekalan dan hewan tunggangan. Manakala Rasulullah saw. mengabarkan padanya bahwa ia memang dipilih untuk berhijrah bersama, Abu Bakar menangis gembira. Ketika itu Asma ra., putrinya, berkata, “Belum pernah aku melihat orang gembira segembira ayahku kala itu.”

Saat Abu Bakar berdua bersama Rasulullah saw di Gua Tsur, ia mencemaskan dan mengkhawatirkan nasib utusan Allah tersebut, bukan dirinya. Karena ia tahu bahwa Rasulullah saw lebih mulia dan utama ketimbang dirinya. Untuk itu ia rela tangannya dipatuk hewan berbisa di Gua Tsur, agar Nabi saw. tidak dipatuk.

Abu Bakar bisa memilah siapa dan apa yang harus dicemaskan, yakni Nabi saw. dan dakwah Islam. Bukan kepentingan dirinya. Kecemasan dan dan ketakutan yang mendorong dirinya siaga untuk berkorban demi sebuah kemuliaan.

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 40).

Semoga kita bisa memiliki rasa takut seperti Abu Bakar ash-Shiddiq ra. yang meneteskan air mata saat mengimami shalat kaum muslimin dan Nabi saw. Yang cemas jika musuh-musuh Allah SWT. menangkap dan menganiaya Nabi saw. Tapi tidak pernah cemas dan takut untuk membacakan ayat-ayat al-Quran di hadapan kaum musyrik Quraisy meski harus menanggung derita. Bukan ketakutan yang malah membuat jiwa ini menjadi lemah sehingga akhirnya mengaburkan kemurnian dakwah dan melunturkan cahayanya yang agung.

“Ya Allah aku memohon perlindungan padaMu dari rasa gundah dan gelisah, dari rasa lemah dan malas, dari ketakutan dan kebakhilan, dari tekanan hutang dan ancaman manusia.” [januar]

You may have missed