Fiksi

Tegang Nih Yee…
Fiksi

Tegang Nih Yee…

Nggak ada yang berani mendekat karena si bapak tadi kemudian mengacungkan sebilah pisau belati yang ia ambil dari balik jaketnya. Suasana makin tegang. Ogi sendiri tetap dalam kondisi leher hampir tercekik. Ogi meronta sebisanya. Tapi rasanya tuh cengkeraman tangan kekar si bapak makin kuat menekan. Sia-sia usaha Ogi.
Rahim
Fiksi

Rahim

“Bukan aku, kan?” senyum ejekannya muncul. Darahku mulai mendidih, bukan karena aku berhadapan dengan pria tak bertanggung jawab macam Pram. No, aku sudah puluhan kali berhadapan dengan pria macam begitu. Pram cuma satu bajingan kecil yang mendapat keberuntungan berkencan denganku. Tapi aku marah karena merasa ejekannya itu adalah kepada aku dan janinku itu.
Surat Terakhir dari Ancone
Fiksi

Surat Terakhir dari Ancone

Kota ini terlalu kecil bagiku untuk mendapatkan sepercik embun pada dahagaku, haus akan kebenaran. Minggu depan umurku genap delapan belas tahun, usia kebebasan yang bahkan orang tua pun tidak berhak melarang atau menyuruh apa pun pada anaknya. Lucu bila mengingat di negaramu sana umur tujuh belas tahun biasa dirayakan dengan meriah bagi mereka yang mengagungkan peradaban Barat dengan anggapan mereka sudah dewasa.
Pram!
Fiksi

Pram!

Awalnya Pram menolak ajakan seorang teman lamanya waktu SMA. Tapi akhirnya ia menyerah dan kemudian mengorbankan idealisme dan perjuangannya. Prinsipnya kalah digerus kondisi yang membuatnya tak punya waktu untuk berpikir lebih panjang dan lebih jernih. Maka, tawaran jadi DJ dari temannya ia terima juga demi utang keluarga bisa terbayar lunas.