Friday, 30 October 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Kisah Ashhabul Kahfi [03]

Tatkala salah seorang di antara para pemuda itu keluar dari gua menuju ke kota mencari makanan untuk kawan-kawannya, ia menyamar dengan tidak melalui jalan-jalan umum. Ia tercengang ketika melihat beberapa bangunan kota yang tidak pernah dikenalnya. Begitu pula ketika bertemu dan berpapasan dengan orang-orang yang tidak pernah dikenalnya.

Oleh Umar Abdullah

Sebagaimana Allah telah menidurkan para pemuda Ashhabul Kahfi, maka Allah pun membangunkan mereka dari tidurnya dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun, badaniyah dan ruhaniyah, walaupun mereka dibangunkan setelah tiga ratus sembilan tahun. Tertidur tanpa makan dan minum sebagai suatu mukjizat dan tanda kebesaran serta kekuasaan Allah yang tiada taranya.

Setelah dibangunkan oleh Allah, mereka saling bertanya, “Berapa lamakah kamu tertidur?”

Seorang diantara mereka menjawab, “Sehari atau setengah hari.”

Jawaban ini didasarkan kenyataan bahwa mereka memasuki gua di waktu pagi dan dibangunkan Allah di waktu matahari sudah hampir terbenam. Maka pantas saja kalau ia mengira bahwa mereka tidur hanya selama sehari atau setengah hari.

Kemudian mereka berpindah ke persoalan yang lebih penting daripada mempersoalkan tentang masa tidur, yaitu masalah makan dan minum yang sangat mereka butuhkan.

Berkatalah mereka, “Serahkanlah masalah berapa lama kita  di sini kepada Tuhanmu yang lebih mengetahui, sekarang cobalah pergi salah seorang dari kita ke kota dengan membawa sisa uang perakmu (karena sebagian telah disedekahkan sebelum mereka masuk ke gua) dan carilah makanan yang lebih baik kemudian belilah dengan uang perakmu itu makanan yang pantas untuk kita makan. Bersikap lemah lembutlah ketika mencari makanan tersebut dan janganlah sekali-kali menceritakan perihalmu di dalam gua ini kepada siapa pun. Karena jika mereka (kaum yang ditinggalkan itu) atau bala tentara Raja Diqyanus mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melemparkan batu kepadamu, menyiksamu dengan berbagai siksaan serta memaksamu kembali kepada agama mereka. Jika hal itu terjadi, niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya di dunia maupun di akhirat kelak.”

Tatkala salah seorang di antara para pemuda itu keluar dari gua menuju ke kota mencari makanan untuk kawan-kawannya, ia menyamar dengan tidak melalui jalan-jalan umum. Ia tercengang ketika melihat beberapa bangunan kota yang tidak pernah dikenalnya. Begitu pula ketika bertemu dan berpapasan dengan orang-orang yang tidak pernah dikenalnya.

Ia pun berkata pada dirinya sendiri, “Apakah aku sudah gila, ataukah aku sedang bermimpi. Oh tidak. Baru kemarin sore aku meninggalkan kota ini, semua tidak demikian keadaannya. Kalau begitu lebih baik segera saja aku keluar dari sini.”

Setiba pemuda itu di tempat penjual makanan dan menyerahkan uang peraknya untuk membayar makanan yang dibelinya. Uang perak itu berbentuk koin yang dinamakan Dafsus. Si penjual makanan keheran-heranan dan membolik-balikkan mata uang yang diterimanya itu. Kemudian ia tunjukkan mata uang itu ke tetangga-tetangganya. Pemuda itu kemudian ditanya oleh orang-orang yang sedang mengerumuninya, siapakah dia dan dari mana ia mendapat uang itu. Pemuda itu memberi keterangan tentang dirinya bahwa ia adalah salah seorang penduduk kota itu (yang disebut dengan nama kota Daksus dengan rajanya yang bernama Diqyanus).

Mendengar keterangan pemuda Ashhabul Kahfi itu, orang-orang yang mengerumuninya meragukan kewarasan pikiran pemuda itu. Ia lalu dibawa ke pihak penguasa.

Setelah mendengar keterangan pemuda itu dan kisahnya bersama kawan-kawannya ashhabul kahfi, para penguasa bersama pemuda itu ke gua tempat kawan-kawannya sedang menunggu kedatangannya membawa makanan yang dibutuhkan.

Kelanjutan kisah ini ada dua riwayat. Riwayat pertama mengisahkan bahwa setiba di pintu gua pemuda itu masuk ke dalam gua terlebih dahulu dan meminta rombongan penguasa itu menunggu di luar gua. Namun pemuda itu tidak keluar lagi, lenyap tak berbekas bersama kawan-kawannya. Tidak diketahui dimana bersembunyinya. Riwayat yang lain mengisahkan bahwa rombongan penguasa itu menyertai pemuda itu memasuki gua, berjabatan tangan dengan pemuda-pemuda ashhabul kahfi yang lain yang masih berada di dalam gua. Bahkan raja yang berkuasa di negeri itu yang turut dalam rombongan para penguasa, merangkul pemuda-pemuda Ashhabul Kahfi itu sebagai orang yang seagama dengan mereka. Setelah sejurus para rombongan penguasa dan pemuda Ashhabul kahfi bercakap-cakap dan bercengkerama di dalam gua, berpamitlah para penguasa meninggalkan gua. Sedang pemuda-pemuda Ashhabul Kahfi kembali ke tempat pembaringannya masing-masing. Kemudian mereka merebahkan diri dan wafat.

Melihat fenomena Ashhabul Kahfi tersebut, penduduk kota berselisih menyikapinya. Ada yang takut, ada yang kagum. Beberapa di antara mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka!“ Maksudnya, supaya bangungan itu menghalangi jalan masuk ke gua itu agar para pemuda Ashhabul Kahfi itu tidak dapat keluar lagi, atau sebaliknya melindungi mereka dari siapa pun yang hendak mengganggu mereka. Namun salah seorang yang berpengaruh di antara mereka kemudian mengatakan agar dibangun sebuah rumah ibadah di atas gua tersebut, karena menurutnya tempat tersebut diberkati dan disucikan sebab dekat dengan orang-oang beriman yang saleh. Kebiasaan semacam ini sangat umum di masa sebelum datangnya Nabi Muhammad saw.

Adapun Islam, melarang mendirikan bangunan di atas makam, sekalipun itu makam Nabi.

Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka mendirikan bangunan di atas makam nabi-nabi mereka.”

Rasulullah saw memperingatkan umat Islam agar tidak mengikuti kebiasaan umat-umat terdahulu yang gemar mendirikan rumah ibadah di atas makam orang-orang saleh di antara mereka.

Allah berfirman, bahwa nanti ada orang-orang ahli kitab dan lain-lain pada zaman Nabi Muhammad saw yang akan menceritakan Kisah Ashhabul Kahfi dengan menerka-nerka jumlah mereka. Ada yang mengatakan bahwa jumlah para pemuda ashhabul kahfi itu tiga orang dan yang keempat adalah anjingnya. Ada yang mengatakan jumlah mereka lima orang dan yang keenam adalah anjingnya. Semuanya hanyalah terkaan terhadap barang gaib. Dan pihak ketika berkata, bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya. Hanya Allah yang mengetahui jumlah Ashhaabul Kahfi.

* * *

Pertemuan pemuda-pemuda ashhabul kahfi dengan manusia-manusia yang masanya berjarak tiga ratus tahun lebih itu untuk membantah anggapan bahwa nanti manusia yang dibangkitkan kembali dari kematiannya hanyalah rohnya dan bukan jasadnya. Allah yang Maha Kuasa, Pencipta Langit dan Bumi berkuasa membangunkan kembali Ashhabul Kahfi yang telah ditidurkan selama tiga abad dalam keadaan utuh tubuhnya sebagaimana waktu mereka ditidurkan. Allah pun berkuasa membangkitkan kembali manusia tubuh dan ruhnya, ruh dan tubuhnya, walaupun tubuh manusia sudah menjadi debu ribuan tahun yang lalu.

Allah SWT menyatakan dalam al-Qur`an Surat al-Kahfi ayat 9 saat membuka tabir kisah ini, bahwa fenomena Ashhabul Kahfi tidaklah terlalu menakjubkan dibanding fenomena wahyu dan mukjizat, juga fenomena  penciptaan langit dan bumi, pertukaran malam dan siang, penguasaan matahari, bulan, planet-planet dan lain-lain penciptaan yang menandakan kekuasaan Allah yang Maha Besar Maha Pencipta tiada tara. Allahu Akbar! (Habis)

You may have missed