Friday, 18 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Sejarah Supersingkat Manusia Pembawa Risalah Akhir Zaman

Ketika masa diutusnya Muhammad saw sebagai Rasulullah sudah dekat (sekitar umur 40 tahun), maka setiap kali beliau keluar ke tempat-tempat terbuka, jalan-jalan setapak, atau bukit-bukit di Makah, maka beliau tidak melewati bebatuan dan pepohonan, kecuali bebatuan dan pepohonan itu mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum, wahai utusan Allah.”

Oleh Umar Abdullah

Kelahiran Muhammad saw.

Sebagai manusia biasa, kelahiran Muhammad saw adalah kelahiran biasa sebagaimana kelahiran bayi-bayi pada umumnya. Yang membedakannya dengan manusia biasa adalah beliau telah dipersiapkan oleh Allah untuk mengemban sebuah risalah yang akan mengubah dunia, sebuah misi yang mengubah dunia yang saat itu diliputi kebodohan dan kegelapan menjadi tersinari cahaya yang terang benderang.

Pada tahun dilahirkan Muhammad saw, kota kelahirannya yakni Makkah yang disana berdiri Ka’bah Baitullah, diselamatkan dari serangan tentara bergajah pimpinan raja Abrahah. Allah SWT mengirimkan burung-burung yang berbondong-bondong membawa kerikil-kerikil dari neraka yang menghancurkan tentara-tentara tersebut.

Muhammad saw memiliki nasab yang terhormat. Beliau adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu’ad bin ‘Adnan bin Ismail bin Ibrahim al-Khalil as.

Ibu beliau adalah Aminah binti Wahab seorang gadis yang paling mulya dari Bani Zuhra.

Ketika Abdullah pulang bersama rombongan pedagang Quraisy dari negeri Syam sampai di Madinah, Abdullah wafat. Abdullah wafat, ketika Muhammad dalam kandungan Aminah baru berumur dua bulan.

Muhammad saw lahir pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah (bertepatan dengan tahun 570 M). Bayi yang baru lahir itu dibawa oleh sang kakek, Abdul Muththalib, masuk ke dalam Ka’bah. Di dalam Ka’bah dia berdiri sambil berdoa dan bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya.

Kemudian, Muhammad saw disusukan kepada seorang wanita dari Bani Sa’ad bin Bakar, yakni Halimah binti Abu Duaib. Sejak menyusui Muhammad saw, keluarga Halimah as-Sa’diyah mendapat banyak kebaikan, puting-puting susu kambing-kambingnya menjadi penuh padahal tanah di daerah bani Sa’ad adalah tanah yang sangat gersang.

Pertumbuhan Muhammad saw.

Muhammad saw mengalami pertumbuhanyang sangat cepat tidak seperti anak-anak lainnya. Ketika umurnya belum mencapai 2 tahun, Muhammad terlihat sebagai anak yang kekar dan kuat.

Saat dalam pengasuhan Halimatus Sa”diyah, Muhammad saw mengalami pembelahan dada. Halimah menceritakan, “Setelah aku diberitahu oleh anakku bahwa Muhammad dibawa oleh dua laki-laki berpakaian putih, aku dan suamiku keluar rumah mendapati Muhammad dalam keadaan berdiri sedang wajahnya tampak lemah dan pucat. Dengan cepat kami memeluknya. Kami bertanya apa yang terjadi. Muhammad menjawab, ‘Telah datang kepadaku dua orang lelaki berpakaian putih-putih, lalu aku dibaringkan dan perutku dibelah, terakhir keduanya menaruh sesuatu ke dalam perutku, namun aku tidak tahu apa itu?’

Muhammad saw diasuh oleh keluarga Halimah as-Sa’diyah hingga umur 4 tahun kemudian dikembalikan ke ibunya, Aminah binti Wahhab. Ketika berumur 6 tahun, ibunya wafat di Abwa’, sebuah tempat antara Makkah dan Madinah. Maka lengkaplah status yatim Muhammad saw.

Kemudian Muhammad saw tinggal bersama kakeknya, Abdul Muththalib pimpinan Makkah. Setelah kakeknya wafat, Muhammad saw tinggal bersama pamannya, Abu Thalib.

Masa Remaja Muhammad saw.

Ketika Muhammad saw berumur 12 tahun, Abu Thalib mengajak beliau ke Syam bersama rombongan pedagang. Setelah lama berjalan sampailah mereka di kota Bushra.

Di Bushra ada tempat pertapaan rahib. Tempat itu tidak pernah sepi dari rahib yag sedang belajar dan mengajarkan ilmu tentang agama Nashrani yang terdapat dalam kitab-kitab yag mereka wariskan dari generasi ke generasi. Rahib yang ada saat itu adalah Buhaira.

Melihat awan yang selalu menaungi rombongan dagang itu, Buhaira mengundang rombongan itu makan. Buhaira melihat awan menaungi pohon tempat Muhammad saw berteduh. Pada saat rombongan itu menikmati makanan, Buhaira mengamati fisik dan gerak-gerik Muhammad saw. Akhirnya Bukhaira menemukan sifat-sifat nabi pada putra Abdullah dan cucu Abdul Muththalib itu.

Ketika Muhammad saw sedang sendirian, Buhaira mendatangi beliau dan berkata, Wahai anak kecil, aku bertanya kepadamu tentang kebenaran Lata dan Uzza, atau beritahu apa itu Lata dan Uzza?”

Muhammad saw berkata, “Anda jangan bertanya kepadaku tentang Lata dan Uzza, sebab tidak ada sesuatu yang paling aku benci selain keduanya, “

Buhaira berkata, “Sungguh kamu tidak akan memberi tahu apa yang aku tanyakan?”

Muhammad saw berkata, “Bertanyalah kepadaku tentang sesuatu yang kamu anggap lebih penting.”

Maka mulailah Buhaira bertanya kepadanya tentang keadaan tidurnya, gerak-geriknya dan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya. Semua jawaban Rasulullah saw sesuai dengan sifat-sifat yag diketahui Buhaira dari kitabnya. Kemudian Buhaira membuka punggung Rasulullah saw lalu dia melihat stempel kenabian ada di antara dua pundaknya. Ini juga persis dengan sifat yang diketahui dari kitabnya.

Setelah merasa cukup puas, Buhaira mendekati paman beliau, Abu Thalib.

Buhaira berkata, “Kenapa anak ini bersamamu?”

Abu Thalib menjawab, “Dia anakku.”

Buhaira berkata, “Bukan, dia bukan anakmu, sebab tidak mungkin dia begini kalau saja ayahnya masih hidup.”

Abu Thalib, “Benar, dia putra saudaraku.”

Buhaira berkata, “Bagaimana dengan ayahnya?”

Abu Thalib berkata, “Wafat sejak dia dalam kandungan ibunya.”

Buhaira berkata, “Kamu benar, sekarang bawalah pulang kembali keponakanmu, dan berhati-hatilah dengan orang-orang Yahudi, sebab kalau mereka tahu, pasti mereka akan berbuat buruk kepadanya. Sebenarnya dalam diri keponakanmu tersimpan sesuatu yag sangat besar. Untuk itu, bawalah dia segera ke negerinya.”

Demikianlah, banyak pendeta Nasrahi, seperti Buhaira, Nasthura, dan Waraqah bin Naufal, kerabat Khadijah isteri beliau, yang telah melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad saw.

Muhammad saw Diangkat Menjadi Utusan Allah

Ketika masa diutusnya Muhammad saw sebagai Rasulullah sudah dekat (sekitar umur 40 tahun), maka setiap kali beliau keluar ke tempat-tempat terbuka, jalan-jalan setapak, atau bukit-bukit di Makah, maka beliau tidak melewati bebatuan dan pepohonan, kecuali bebatuan dan pepohonan itu mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum, wahai utusan Allah.” Mendengar itu beliau melihat ke sekitarnya, ke kanan kiri dan ke belakang, namun beliau tidak melihat seorang pun.

Setelah persiapan terhadap Muhammad saw untuk diserahi kepemimpinan telah sempurna, maka Allah SWT, Rabbul ‘Izzah Jalla Jalaluhu menempatkan tugas kerasulan kepada beliau. Risalah pertama yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah saw adalah QS. Al-Alaq ayat 1-5.

Rasulullah saw Mendakwahkan Risalah Islam

Setelah turun wahyu Allah

“Yaa ayyuHal mudddatstsir. Qum fa`andzir. Wa rabbaka fakabbir. Wa tsiyaabaka fathaHHir.”

Artinya: “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Mudatstsir [74]: 1-4)

Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu:

“wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin”

Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’araa’ [26]: 214)

Maka Rasulullah saw mulai mengumpulkan kekuatan dan menyiapkan dukungan publik dalam bentuk kekuatan negara yang akan menerapkan dan menyebarluaskan risalah Islam. Mulailah Rasulullah saw mendakwahi keluarga dan yang ada di rumah beliau. Kemudian Rasulullah saw menyeru teman-teman dekatnya.

Setelah turun wahyu Allah:

“Fashda’ bimaa tu`maru wa a’ridh ‘anil musyrikiin.”

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yag diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr [15]: 94).

Rasulullah saw menyerukan risalah Islam kepada seluruh manusia. Jumlah kaum muslimin dari hari ke hari terus bertambah, meski mereka harus berhadapan dengan penyiksaan dan tekanan.

Rasulullah saw Menerima Kepemimpinan Madinah

Setelah risalah Islam dipeluk oleh sebagian besar penduduk Madinah. Setelah para ahlu Nushrah Madinah menyerahkan kekuasaan kota Madinah kepada Rasulullah saw. Setelah persiapan untuk mendirikan masyarakat baru di negeri yang aman untuk menerapkan sistem Islam, maka Rasulullah saw mulai menginstruksikan para sahabatnya untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah. Setelah perintah untuk berhijrah, maka Rasulullah saw dan Abu Bakar as-Shiddiq berhijrah dan selamat sampai ke Madinah.

Demikianlah, manusia agung itu telah mendirikan Negara Islam, sebuah negara yang menerapkan Risalah Allah. Manusia mulia itu telah menjadi kepala negara yang mengemban risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad.

Hanya dalam waktu sekitar 11 tahun,  seluruh Jazirah Arab menerima Islam dan menjadi wilayah Negara Islam yang beribukota di Madinah.

Rasulullah saw Wafat

Ketika Pasukan Islam yang dipimpin oleh Panglima Usamah bin Zaid sedang bersiap-siap berangkat memerangi Romawi di bumi Palestina, Rasulullah saw jatuh sakit. Dan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun 11 H (3 Juni 632 M) Rasulullah Muhammad saw manusia pembawa risalah akhir zaman ini wafat.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah atasmu wahai guru kami, wahai teladan kami, wahai kekasih kami.

Ya Allah..laa haula wa laa quwwata illa bika.

Ya Allah, tolonglah kami agar kami mampu meneladani Rasul-Mu yang mulia dalam seluruh aktivitas kami ya Allah, dalam muamalah-muamalah kami, akhlak-akhlak kami, dakwah-dakwah kami, tata pemerintahan dan pengadilan kami, dalam politik, pendidikan, dan segala aspek kehidupan kami.

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mencintai Rasul-Mu sebenar-benar kecintaan.

Kumpulkan kami di akhirat nanti bersama Rasul-Mu yang mulia di surga nanti.

Amin ya Allah yaa Mujiibas saa`ilin.[]

You may have missed