Fiksi

Rembulan Separuh di Langit Palestina

Kupandangi lagi ukhti di hadapanku. Wajah cantiknya menyembul dari balik jendela yang setengah rusak. Ia tampak lusuh. Wajahnya berdebu dan jilbabnya kumal, compang-camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah itu tetap keras tak berubah. Cantik. Secantik rembulan. Dingin. Sedingin tiupan angin malam ini. Hatinya tersayat. Sepucuk senjata ada dalam genggamannya. Setetes air bergulir di pipinya.

Fiksi

Utang

Pukul empat sore di perpustakaan. Uahhh pegal! Sejak pagi tadi aku sudah menunggu perpustakaan ini buka. Kenapa juga pukul sembilan baru buka? Jam masuk di kampus ini kan pukul setengah delapan! Rutukku tadi pagi di depan perpustakaan. Kalau sedang dikejar menyelesaikan skripsi begini, menunggu memang amat sangat menyebalkan. Setengah jam pun berarti. Kubereskan buku-buku perpus yang berserakan menjadi tumpukan dan kutinggalkan di atas meja.

Anak Muda

Menyukai Sejenis

Saya adalah seorang remaja yang bentar lagi keluar SMA. Saya mau bertanya banyak khal yang saya ingin tanyakn tentang keadaan diri saya ini. Saya dari lahir punya perasaan seperti perempuan (senang kepada laki-laki). Pertanyaan dari saya, apakah saya sakit atau ada kelainan jiwa, bisakah saya sembuh?

Fiksi

Adalah Rahasia

Selama perjalanan, mereka tidak saling bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Sambil menyetir, Fian menumpu kepala dengan tangan kanan ke jendela. Hujan yang turun sepuluh menit yang lalu membuat suasana hari itu bertambah suram bagi Resti. Sesekali dia menoleh ke arah adiknya, memastikannya baik-baik saja.