Pembebasan Konstantinopel: Byzantium Terdesak
Konstantinopel di ambang kejatuhannya. Namun Sultan Muhammad masih berusaha memasuki Konstantinopel dengan cara damai. Maka ia menulis surat kepada Kaisar Konstantin yang berisi permintaan agar dia menyerahkan kota itu tanpa pertumpahan darah. Dia menawarkan jaminan keselamatannya dan keselamatan pengawalnya saat keluar meninggalkan kota, dan siapa saja dari penduduk kota itu yang menginginkan keamanan.
Pembebasan Konstantinopel: Dahsyatnya Pertempuran
Kesulitan-kesulitan yang terjadi selama perang, justru memunculkan ide-ide cemerlang yang belum pernah terpikirkan orang. Sultan Muhammad bertekad menyerang Kontantinopel dari semua arah, termasuk dari arah Golden Horn (Tanduk Emas). Maka mucullah ide cemerlang untuk memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Bayskatasy ke Tanduk Emas. Ide itu dilakukan dengan cara yang tidak lazim, yaitu memindah kapal-kapal melalui darat ke pelabuhan di Tanduk Emas.
Pembebasan Konstantinopel: Persiapan Perang
Secara manusiawi, keberhasilan pembebasan Konstinopel ini adalah berkat kemampuan Sultan Muhammad al-Fatih menyiapkan peperangan dengan sedemikian matang. Druber, seorang penulis, menyatakan bahwa Sultan Muhammad al-Fatih memiliki kemampuan teknik perang yang sangat mumpuni dan pandai menggunakan semua senjata.
Pembebasan Yerusalem [06]
Tahun 1517 M Yerusalem di bawah pemerintahan Khilafah Turki Utsmani. Hal itu berlangsung selama empat abad hingga tanggal 11 Desember 1917 M Yerusalem jatuh ke tangan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Allenby. Sejak itu Tanah Palestina yang beribukota di Yerusalem (al-Quds) dijajah oleh Kafir Inggris. Sejak itu pula Jihad untuk mengusir penjajah Inggris berlangsung.
Pembebasan Yerusalem [05]
Umar menutup surat perjanjian itu dengan tanda tangannya, dan kalimat, Saksi-saksi dalam perjanjian ini adalah Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Abdurrahman bin Auf dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Perjanjian ini dinyatakan dan dilaksanakan pada tahun ke-15 setelah Hijrah.
Pembebasan Yerusalem [04]
Surat dari Panglima Besar Abu Ubaidah bin al-Jarrah pun diterima oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Umar segera bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Utsman bin Affan berpendapat untuk tetap meneruskan pertempuran, sedang Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa Amirul Mukminin harus pergi ke Yerusalem.
