Wednesday, 23 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Praktik Konspirasi, Covid19, dan Dajjal

Jangan ketawa duluan ya (eh, kok ge-er, nyangka bakal ada yang ngetawain?). Iya, yang sering diobrolin akhir-akhir ini adalah teori konspirasi, termasuk yang dihubungkan dengan wabah Covid19. Namun, saya bakalan bahas langsung praktiknya saja lah. Memangnya bisa dibuktikan? Hmm.. sabar. Pelan-pelan, ya. Kalo pun pada akhirnya Anda tak mendapat jawaban dari tulisan ini, silakan mencari di tempat lain. Lho?

Jadi begini. Sebagaimana yang sudah sering dibahas, konspirasi itu ya sama dengan persekongkolan. Teori ini bisa jadi muncul karena melihat fakta. Atau bisa juga, dibuat dulu teorinya baru dipraktikkan. Namun, saya melihat bahwa teori ini justru muncul dari fakta. Kok bisa? Definisi dari teori konspirasi itu adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.

Nah, karena ini sifatnya berasumsi, memang tidak terlihat jelas faktanya, maka seringkali yang percaya akan adanya konspirasi dianggap halu dianggap mengada-ada dan kurang kerjaan, dianggap paranoid, dan anggapan atau tuduhan lainnya. Intinya diolok-olok, lah. Dinyinyirin juga, “Ente ngomongin konspirasi, siapa musuh ente sih. Wong, nggak terlihat, nggak jelas. Serigala yang mengancam di hadapan ente jelas tampak. Lha, ini siapa sih yang melakukan konspirasi itu? Emang ente tahu siapa pengendali konspirasi itu?”

Dan, masih banyak lagi pernyataan dan pertanyaan terkait konspirasi. Lalu gimana seharusnya kita bersikap?

Coba kita mulai dari yang dasar deh. Ada sih yang ngasih contoh, cuma saya belum pernah melakukan, jadi belum ngeh banget gimana mekanismenya. Ini contohnya tentang orang yang bermain judi. Misalnya, ada 5 orang bermain judi. Jika satu orang ditargetkan akan dikalahkan, maka satu orang yang punya ide, akan secara diam-diam bekerjasama dengan tiga orang lainnya. Intinya, gimana caranya agar satu orang yang ditargetkan itu kalah judi. Hasilnya nanti dibagi empat. Nah, berarti ini praktik konspirasi. Namun, saya nggak kebayang dari contoh ini, gimana cara berkonspirasinya. Ya, sudahlah. Itu sekadar contoh saja. Asumsi ini memungkinkan, sih.

Pernah dengar atau baca berita tentang berteberannya paku di beberapa ruas jalan di Jakarta? Coba, siapa yang sengaja nebarin paku? Nggak jelas. Apa langsung nuduh tukang tambal ban? Belum tentu juga. Bisa iya, bisa tidak. Namun yang pasti meski kelihatannya sepele, tetapi tentunya direncanakan. Ada pihak yang bermain di sana.

Saya pernah ngobrol dengan salah seorang guru di salah satu sekolah. Dulu sekali. Pada saat itu, beliau bercerita bahwa akhir-akhir ini sering ada yang datang menawarkan jasa keamanan. Namun, beliau dan pihak sekolah belum menerima tawaran tersebut karena belum merasa perlu. Saat itu beliau menyampaikan dugaan (berdasarkan pengalamannya), bahwa kelompok tersebut sepertinya akan membuat kegaduhan agar pihak sekolah terpaksa menggunakan jasa keamanan mereka. Obrolan cuma sampai di situ. Berarti asumsi, lagi. Namun, masuk akal.

Pada lain kesempatan saya sempat ikut nimbrung saat ngobrol rame-rame dengan beberapa kawan di suatu forum. Ada yang menarik, yakni salah seorang di antara mereka menyampaikan bahwa kalo jualan di internet, kudu cari akal agar laku. Misalnya, kita bikin tuh sebanyak mungkin email. Terus ngasih komen menarik buat produk kita. Padahal itu kita dan teman-teman kita, katanya. Berarti ini praktek konspirasi, ya? Kalo nggak pas, ya mirip deh. Masuk akal juga.

Coba kita beralih ke yang level lebih tinggi sedikit. Sejak Kasus 911 dan Bom Bali, kita dicekoki terus dengan terorisme. Tuduhan selalu pada umat Islam. Semua informasi hanya satu pintu, yakni kepolisian. Wartawan ikut saja memberitakan. Umumnya begitu. Bahkan setiap kali ada fakta krusial, muncul lah aksi terorisme sehingga menutup pemberitaan fakta krusial tersebut, biasanya jika melibatkan pejabat atau pemerintah. Seperti nggak selesai. Kesannya kan jadi: teroris selalu ada. Akhirnya, jadi wajar kalo orang berpikiran, mungkin ini dirakayasa atau sengaja dipelihara, mungkin ini dikendalikan pihak tertentu. Namun, ya, memang sulit dibuktikan, tapi bisa dirasakan akibatnya. Bener nggak, sih?

Terus, tahun kemarin saat Pilpres, banyak kasus juga kan? Mulai dari perhitungan suara yang sepertinya memenangkan–sebut saja, Jokowi, KPU servernya eror, pemberitaan yang menghabisi lawan politiknya, survei yang memenangkan si dia, bahkan di awal sebelum dilakukannya pemungutan suara. Belum lagi, kematian ratusan petugas KPPS. Ada apa? Banyak pihak saat itu yang curiga ada konspirasi. Namun, tetap tak bisa atau belum terbongkar apa betul itu konspirasi. Secara fakta belum terlihat, tetapi gejala dan akibatnya terasa. Iya, kan?

Eh, termasuk kasus kemarin, lho. Itu tuh, yang Diskusi dan Silaturahmi Bersama Negarawan (DILAWAN) dengan tema diskusi: Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan yang diadakan Kelompok Studi Mahasiswa “Constitutional Law Society” FH UGM pada 29 Mei 2020. Kan, diteror juga pembicara dan panitianya, sampai akhirnya acara itu gagal digelar. Siapa yang neror? Nggak jelas, tetapi pasti ada, dan itu diyakini punya pengaruh dan kekuasaan yang besar.

Bagaimana dengan Covid19 ini karena ada yang menganggap ini bagian dari konspirasi elit global? Siapa elit global itu? Pengusaha farmasi dunia? Pembuat vaksin? Dibilang orang-orang Yahudi. Bisa iya, bisa tidak. Ujungnya, Dajjal. Nah, bagaimana membuktikannya? Saya sendiri nggak punya kapasitas menelusuri hal itu. Lalu?

Begini deh. Konspirasi memang ada, tetapi untuk membuktikannya perlu keahlian dan pengamatan mendalam. Harus dipahami pula bahwa mempercayai adanya konspirasi bukan berarti menafikan peran Allah Ta’ala. Sebab, kita yakin dengan istilah istidraj. Jadi orang-orang jahat dibiarkan berkomplot untuk melakukan kejahatan, justru bagian dari istidraj. Bukan dimenangkan.

Nah, terakhir berarti kita harus ngomongin dajjal. Wah, kalo ujungnya ke sini mah, udah banyak yang bahas, atuh. Hehehe ya nggak apa-apa, kan jadi bisa diingat lagi. Dajjal itu fitnah terbesar sebelum kiamat. Bisa saja ini awal-awal akan munculnya dajjal, manusia dibuat bertikai, bahkan kubu-kubuan, banyak konspirasi, karena nanti juga memang ada pengikut dajjal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang fitnahnya (cobaannya) lebih besar dari Dajjal.” (HR Muslim no. 2946)

Nah, ternyata Dajjal adalah sosok raja yang ditunggu-tunggu oleh kaum Yahudi. Iya, orang-orang Yahudi meyakini Dajjal sebagai raja yang akan menguasai lautan dan daratan. Mereka juga meyakininya sebagai salah satu tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah. Orang-orang Yahudi menamainya dengan nama Al-Masih bin Dawud.

Perbedaan yang sangat mencolok antara mukmin dan yahudi. Orang-orang beriman, menunggu kedatangan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sementara mereka menunggu sang pendusta yang buta sebelah, penebar fitnah, yang bernama Dajjal.

Dari sahabat ‘Utsman bin Abil ’ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda, “Kebanyakan pengikut Dajjal, adalah orang yahudi dan kaum wanita” (HR Ahmad)

Lalu? Mestinya bisa dibaca dan disimpulkan ya, dari baris-baris tulisan tadi. Hehehe.. Tapi ya, sudah fokus saja kepada persiapan jika harus mengalami masa munculnya Dajjal nanti. Sebab, Dajjal tak bisa dibuktikan secara sains, tetapi dengan dalil (al-Quran dan as-Sunnah). Ini baru permulaannya. Beragam konspirasi suatu saat akan terbongkar atas izin Allah Ta’ala. Tugas kita sekarang: kuatkan akidah, perbanyak dzikir dan tilawah al-Quran, shalat Subuh berjamaah rutinkan, shalat malam jangan ditinggalkan. Sedekah, bergairah menuntut ilmu, dan semangat beramal shalih lainnya. Semoga kita diberikan perlindungan oleh Allah Ta’ala.

Bagaimana?

O. Solihin

You may have missed