Haruskah Obama?
Perjuangan Obama bukanlah perjuangan sendirian. Ia tak akan bisa lepas dari kredo-kredo demokrasi ala partainya. Ketika McCain dari Partai Republik tetap meneruskan kebijakan anti-homoseksual di militer, Obama berpendapat sebaliknya. Ia mendukung homoseksualitas. Semua orang di Amerika tahu, bahwa Partai Republik jauh lebih ‘religius’ dibandingkan Partai Demokrat.
Rendah Dirikah Kita?
Rendah diri dan ketakutan adalah patogen perjuangan. Ia akan menggerogoti jiwa para pejuang dan membunuh kemenangan. Menyedihkan jika ada pendekar syariah yang ragu menghantam kebatilan demokrasi, kapitalisme dan komunisme. Ambigu saat menghadapi kebusukan liberalisme.
Mari (Jangan) Berhemat
Bukan saja klise, seruan penghematan juga kosong. Miskin dari aksi. Satu stasiun televisi menayangkan gambar kantor-kantor pemerintah yang lampunya terus benderang meski telah tutup, termasuk di hari libur. Di jalan kita sering melihat mobil pemerintah dan aparat keamanan bersliweran. Mobil-mobil itu BBM-nya pasti menggunakan uang pemerintah.
Sekolah Para Ningrat
Hanya para ningrat, para meneer ireng, yang boleh bersekolah. Karena loyalitas mereka telah teruji. Mereka tak akan memberontak, bahkan mendukung pendudukan Belanda. Mereka pula yang menindas perlawanan rakyat. Persis seperti yang diceritakan Douwes Dekker atau Multatuli dalam novelnya Max Havelaar.
Menegakkan Benang Basah Demokrasi
Hal lain yang kini dicemaskan oleh para pengusung demokrasi ialah persoalan kesejahteraan. Sejumlah kalangan menyerukan agar jangan mengaitkan demokrasi dengan kesejahteraan. Presiden SBY pun mengingatkan hal serupa kepada masyarakat. Kecemasan ini amat berdasar karena demokrasi yang telah lama dipraktikkan di tanah air – juga di dunia – alih-alih menciptakan kemakmuran bersama justru menggali jurang kemiskinan yang kian dalam.
Saat yang Tepat untuk Berbuat
Saat yang tepat untuk berbuat adalah ketika kita tahu apa yang harus kita lakukan adalah yang paling benar atas dasar keimanan. Keimanan memang membutuhkan amal. Tapi, hanya amal shaleh yang akan diterima. Betapa banyak orang yang berbuat kebenaran, tapi kebenarannya tersebut hanya berdasar hawa nafsunya dan persepsinya tanpa hukum syara. Continue Reading
