Inspirasi

Untuk apa sih menulis?
Inspirasi

Untuk apa sih menulis?

Menulis pun bagi kita semestinya diniatkan untuk berbagi. Ya, sekemampuan kita. Sebab, adakalanya untuk menjelaskan sesuatu kita butuh detil dan pemaparan fakta. Dan, itu tentunya harus dituliskan. Bukan dikatakan. Bahkan bila perlu dilukiskan dengan rangkaian kata yang indah untuk menjelaskan suatu definisi atau makna.
Logika-Logika Kacau
Inspirasi

Logika-Logika Kacau

Jika gay dan lesbian harus diterima karena itu adalah lifestyle, apakah kemudian sadomachocism, kumpul kebo, konsumsi narkoba, kelak akan diterima juga, karena semuanya lifestyle. Bukankah banyak negara mengesahkan narkoba karena tuntutan masyarakat?
Haruskah Obama?
Inspirasi

Haruskah Obama?

Perjuangan Obama bukanlah perjuangan sendirian. Ia tak akan bisa lepas dari kredo-kredo demokrasi ala partainya. Ketika McCain dari Partai Republik tetap meneruskan kebijakan anti-homoseksual di militer, Obama berpendapat sebaliknya. Ia mendukung homoseksualitas. Semua orang di Amerika tahu, bahwa Partai Republik jauh lebih ‘religius’ dibandingkan Partai Demokrat.
Rendah Dirikah Kita?
Inspirasi

Rendah Dirikah Kita?

Rendah diri dan ketakutan adalah patogen perjuangan. Ia akan menggerogoti jiwa para pejuang dan membunuh kemenangan. Menyedihkan jika ada pendekar syariah yang ragu menghantam kebatilan demokrasi, kapitalisme dan komunisme. Ambigu saat menghadapi kebusukan liberalisme.
Mari (Jangan) Berhemat
Inspirasi

Mari (Jangan) Berhemat

Bukan saja klise, seruan penghematan juga kosong. Miskin dari aksi. Satu stasiun televisi menayangkan gambar kantor-kantor pemerintah yang lampunya terus benderang meski telah tutup, termasuk di hari libur. Di jalan kita sering melihat mobil pemerintah dan aparat keamanan bersliweran. Mobil-mobil itu BBM-nya pasti menggunakan uang pemerintah.
Sekolah Para Ningrat
Inspirasi

Sekolah Para Ningrat

Hanya para ningrat, para meneer ireng, yang boleh bersekolah. Karena loyalitas mereka telah teruji. Mereka tak akan memberontak, bahkan mendukung pendudukan Belanda. Mereka pula yang menindas perlawanan rakyat. Persis seperti yang diceritakan Douwes Dekker atau Multatuli dalam novelnya Max Havelaar.