Oleh Umar Abdullah
Hari Rabu ini (8 September 2010 M) adalah tanggal 29 Ramadhan 1431 H. Artinya pada petang harinya, tepatnya saat Maghrib (matahari terbenam) adalah saat dilakukan Ru’yatul Hilal bulan Syawwal untuk menentukan apakah hari Kamis sudah masuk 1 Syawwal atau masih 30 Ramadhan.
Menurut perhitungan (hisab) Muhammadiyah, Ijtima’/ Konjungsi (posisi bulan tepat di antara matahari dan bumi) terjadi pada hari Rabu ini jam 17.31.01 WIB sehingga pada saat matahari terbenam di Yogyakarta tinggi bulan masih minus 2 derajat 8 menit 16 detik. Artinya, menurut perhitungan tersebut, hilal bulan Syawwal belum wujud (belum ada) alias mustahil terlihat di batas langit Yogyakarta.
Hilal Syawwal baru mudah dilihat sekitar 8 jam setelah ijtima’ di negeri-negeri waktu yang berbeda 8 jam sebelah barat Yogyakarta, yakni di negeri-negeri di pantai barat Afrika seperti Maroko, Sahara, Mauritania, Senegal, Gambia, Guinea, dan Liberia. Saat itu di Yogyakarta waktu sudah menunjukkan sekitar jam 01.31.01 WIB (setengah dua pagi). Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Pertempuran antara pengemban risalah ilahiyah dan risalah syaithaniyah berlangsung sejak iblis diusir dari Surga dan akan terus berlangsung hingga hari ini. Arus yang mengajak manusia mengenal kembali risalah ilahiyah pasti akan ditentang oleh arus yang ingin menyesatkan manusia agar tetap terjerumus pada kerusakan. Inilah yang terjadi saat ini, berbagai upaya dilakukan tentara-tentara syaithan untuk menghalangi sampainya risalah ilahiyah kepada manusia. Salah satunya adalah dengan memberi cap negatif kepada para pengemban risalah ilahiyah. Pengemban dakwah Islam diberi cap teroris, fundamentalis, pemecah belah kesatuan bangsa, dan anti toleransi. Berbagai cap negatif ini sedikit banyak berpengaruh pada masyarakat yang sedang kembali mendekat kepada risalah Islam. Paling tidak, ada kecurigaan dan ketidaknyamanan yang muncul saat sang pengemban dakwah menyampaikan risalah Islam.
Sebenarnya masyarakat tidak salah, apalagi sang pengemban dakwah. Yang salah adalah tentara-tentara syaithan yang berujud manusia. Oleh karenanya penting bagi kita semua untuk mengetahui bagaimana cara menghapus cap negatif ini agar dakwah Islam bisa mengetuk pintu-pintu pikiran dan perasaan masyarakat. Dan masyarakat pun membuka hati dan pikirannya dengan gembira. Nah cara itu pernah diteladankan oleh para sahabat nabi ketika mereka hijrah ke Habasyah. Beginilah kisahnya… Lanjutkan
Oleh: M. Iwan Januar, S.IKom
Dalam sebuah artikel seorang sosiolog dan sejarawan mengeluhkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan bangsa ini akan sejarahnya sendiri. “Masak begitu melihat KH Agus Salim, anak sekolah komentar ‘kok kumisnya mirip tukang sate, ya’.” Sama sekali tidak ada respek dan penghargaan terhadap perjuangan ulama yang satu ini.
Sejarawan tadi tidak sendirian, Adhyaksa Dault yang pernah menjabat menteri pemuda dan olahraga pernah berkomentar dengan nada miris ihwal tipisnya pengetahuan anak bangsa tentang sejarah, “Kalau ditanya siapa Fatmawati, yang kebayang paling ayam goreng Fatmawati,” katanya sambil menyebut nama sebuah rumah makan sohor di Jakarta.
Tapi yang paling memprihatinkan adalah umat seperti tidak pernah tahu bahwa mereka adalah bagian dari sejarah pergolakan dan kejayaan sebuah umat yang besar, umat Islam dunia. Bahwa tanah air ini masih belum kering dari cucuran keringat dan simbahan darah para alim ulama dan mujahidin dalam membebaskan tanah air dari penjajahan. Lanjutkan
Sori Bro, di bulan puasa gini ane kudu nulis masalah virginitas. Sekali lagi harap dipersori ya. Soalnya ente kan juga puasa. Khawatir kalo bahas ginian jadi langsung ngerumpi deh ama temen-temen ente ngomongin soal ini, ujung-ujungnya bukan buka bersama tapi batal puasa bersama. Padahal kan kalo puasa kata temen ane nih, kudu ngomongin atau bahas seputar puasa dong. Tapi ane sih berpikirnya sederhana aja. Nggak ada larangan kok kalo kita bahas tema selain puasa meski lagi bulan Ramadhan. Iya nggak sih? Sebab, yang penting isinya ngajak kepada kebaikan, ada pesan takwanya, ada pesan sponsor dari Islam sebagai ideologi kita. Ok? Sip deh. Lanjutkan
Bersama:
Ust. M. Iwan Januar, S.IKom (Penulis Buku dan Pengasuh rubrik Muda Takwa Voice of Islam, MediaIslamNet)
dan
O. Solihin, S.IKom (Penulis Buku, Editor Buletin Remaja GAULISLAM)
Ada penampilan nasyid dari Ar-Rijaal dan Dedy Arif Fasihin dari Voice of Islam; Jumpa penulis gaulislam dan penyiar Radio MARS 106 FM Bogor. Ada buka bersama juga lho.
Tertarik ikutan?
Konfirm ke gaulislam . Bisa juga telp ke Radio MARS 106 FM (0251-8327166)
BTW, ini acaranya GRATIS lho. Beneran.
Acara ini digelar atas kerjasama Buletin gaulislam dan Radio MARS 106 FM Bogor.
By: O. Solihin
Jika aku dapat meminta agar hidupku sempurna,
itu merupakan godaan menggiurkan-
namun aku akan terpaksa menolak,
karena dengan begitu aku tidak dapat lagi
menarik pelajaran dari kehidupan.
(Allyson Jones)
Seperti tahun kemarin, Ogi selalu kebagian ikutan heboh wara-wiri jadi panitia kegiatan Ramadhan di sekolahnya tahun ini. Segala macem disiapkan. Pokoknya sibuk. Tapi bukan berarti Ogi ditempatkan di bagian ADM lho, alias angkat, dorong, manggul. Hih, itu sih kebangetan aja ketua panitianya kalo anak seganteng Ogi kudu dipajang di bagian itu. Harusnya kan di bagian jagain sendal dan ngecengin beduk. Hi..hi..hi..
Oya, Ogi kebetulan jadi seksi acara. Termasuk bagian yang penting di kepanitiaan. Jadi kalo acaranya jeblok maka yang pertama kali ditunjuk hidung adalah seksi acara. Itu sebabnya Ogi ketar-ketir banget menghadapi ajang Ramadhan Fair di sekolahnya tahun ini. Selain ditempatkan di pos yang rawan, Ogi malah jadi ketuanya. Coba, siapa yang nggak resah dan gelisah. Apalagi di situ bercokol Jamil. Anak yang penyakit sablengnya kumat kalo pas gabung sama Ogi. Waduh! Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Sebagai manusia, pastinya kita butuh seorang figur yang bisa jadi panutan kita dalam hal ilmu. Setidaknya bisa kita contoh pada sisi-sisi tertentu dari kehidupannya.
Dan sebagai seorang yang beriman tentu kita musti mencontoh Rasulullah saw atau paling tidak orang-orang shalih di sekitar Rasulullah saw yang selalu berusaha meneladani suri teladan dari Rasulullah saw. Orang-orang yang kini dikenal sebagai shahabat nabi.
Para sahabat nabi semuanya adalah orang yang shalih dan adil. Islami cara berfikir dan tingkah lakunya. Kepribadian mereka ini tidak hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Sang Pencipta mereka.
Di antara sahabat Rasulullah yang menonjol keilmuannya adalah Ali bin Abi Thalib (karramallaahu wajhahu– semoga Allah memuliakan wajahnya). Keunggulannya ini semakin menyempunakan kepribadiannya, menyempurnakan cara berpikirnya dan tingkah lakunya. Ketinggian ilmunya ini membuat Ali bin Abi Thalib menjadi seorang muslim yang mulia.
Bagaimana kemuliaan kepribadian Ali bin Abi Thalib ini? Beginilah kisahnya… Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
“Saya bangun pas waktu imsak. Saya belum sahur. Apakah saya masih boleh makan sahur?” Ya, pertanyaan semacam ini sering saya terima baik melalui SMS maupun secara langsung. Baik dari anak-anak maupun orang dewasa.
Dulu ketika masih kecil, saya sering diingatkan Bapak (alm.) agar menghentikan makan sahur ketika sudah terdengar bedug atau sirine tanda waktu imsak. Karena dipahami bahwa ketika terdengar tanda waktu imsak yang sekitar 10 menit dari waktu Shubuh itu aktivitas makan sahur pun harus dihentikan. Setelah itu dari corong masjid terdengar “ashallatu was salaamu ‘alaik…” sekitar 10 menitan hingga berkumandang adzan Shubuh.
Hingga akhirnya saya temukan di kitab-kitab fiqih bahwa pemahaman tentang waktu imsak itu ternyata SALAH. Salah memahami Kapan Waktu Makan Sahur dan Kapan Batas Imsak. Pencampuradukan pemahamannya membuat kesalahan turun temurun, kesalahan yang diperkuat oleh pemahaman sebagian pengurus masjid, juga kesalahan media massa baik televisi maupun radio. Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Pada tahun 77 H Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah mulai melancarkan pembebasan-pembebasan di wilayah Kekaisaran Romawi seperti ke Asia Kecil, Armenia, Mashaisha, dan Kartago di Afrika Utara. Khalifah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Di salah satu pertempuran untuk menembus benteng pertahanan musuh, ada kisah menarik tentang keikhlasan seorang pejuang Islam. Nah beginilah kisahnya…
* * *
Sebagai panglima perang, Maslamah bin Abdul Malik termenung. Bagaimana mencari akal menembus benteng lawan. Hanya ada sebuah lubang kecil tembus ke sana, maka diperintahkanlah pasukannya untuk menembusnya. Tak mudah menembus lubang itu, resikonya terlalu besar.
Disaat itulah tiba-tiba muncul seorang lelaki dari sayap pasukan melompat menerobos lubang itu dan memporak-porandakan lawan. Siapa lelaki itu, ia tak mengenalnya.
Usai perang, Maslamah mengumumkan instruksi untuk mencari siapa lelaki yang pemberani itu. Ia akan memberi penghargaan atas keberaniannya mengobrak-abrik lawan.
Tiba-tiba muncul lelaki bertopeng tak dikenal berdiri di muka pintu markas komandan.
“Assalaamu ‘alaikum. Boleh saya masuk?“ tanya lelaki bertopeng itu.
“Kamukah lelaki yang berhasil memasuki lubang benteng pertahanan itu?” tanya Maslamah sang panglima.
“Saya akan memberitahukan siapa dia, tetapi dengan tiga syarat,” kata lelaki bertopeng itu.
“Silakan, saya penuhi tiga syarat itu. Apa syaratnya?” kata Maslamah.
“Pertama, Anda tidak perlu tahu siapa namanya dan siapa ayahnya. Kedua, Anda jangan melaporkan hal ini kepada Khalifah Abdul Malik. Ketiga, Anda harus berjanji tidak akan memberi hadiah apapun kepadanya. Bagaimana?” tanya lelaki bertopeng itu.
“Ee… Okelah. Dengan berat hati kupenuhi tiga syarat itu,” jawab Maslamah.
“Benar?” tanya lelaki bertopeng itu meyakinkan.
“Demi Allah aku tak akan mengingkari janji,” kata Maslamah
Yakin dengan jawaban Maslamah, lelaki itu membuka topengnya dan berkata, “Akulah orangnya.”
Mendengar pengakuan lelaki itu, panglima Maslamah bin Abdul Malik langsung tersungkur menangis. Hatinya terketuk oleh lelaki itu yang ikhlas berjuang semata-mata karena Allah tanpa mengharapkan imbalan dari manusia.
Begitu kagum dan terharunya atas keikhlasannya, hingga setiap usai menunaikan shalat, Maslamah tak lupa berdoa, “Ya Allah, jadikanlah diriku seperti lelaki yang memasuki lubang benteng itu. Kumpulkanlah aku di akhirat nanti bersama dia.”
Assalaamu’alaikum wr wb
Berdasarkan informasi dari pengamatan hilal di Indonesia pada 10 Agustus 2010, yang terlihat di Probolinggo, Gresik, Cilincing (pukul 17:57 WIB) dan Bengkulu, maka pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadhan 1431 H pada hari Rabu, tanggal 11 Agustus 2010. Jadi, insya Allah besok sudah mulai shaum. Marhaban ya Ramadhan!
MediaIslamNet
Anda dapat berlangganan artikel dari MediaIslamNet | portal opini dan solusi islami dengan menggunakan alamat email Anda untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung ke inbox email Anda. Caranya mudah saja, tuliskan alamat email Anda pada kolom di bawah ini, kemudian klik Sign Up!
| Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab | Ming |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Agu | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||