Tutut

Oleh Umar Abdullah

 

Tutut Pak Harto Rp 3000 per Porsi di Depan Giant Yasmin Bogor

Dua bulan ini, sejak pertengahan Desember 2011, kata ”tutut” sering mampir ke penglihatan saya. Khususnya jika saya lewat daerah Yasmin di Kota Bogor yang sekarang menjadi Jl. Abdullah bin Nuh. Di kiri-kanan jalan berjajar gerobak-gerobak yang menjual tutut. Macam-macam tulisan di spanduknya. Ada ”Tutut Boga Rasa”, ”Tutut Asoy Geboy”, dan nama-nama lainnya. Bikin saya ketawa sendirian hi..hi…. Ada juga yang dijual tidak menggunakan gerobak tapi dengan menggunakanmobil yang dibuka bagian bagasinya. Tulisannya ”Tutut Luxio”, karena penjualnya memakai mobil merk Luxio.

 

Tutut Alias Kreco

Awalnya saya tidak tahu apa itu tutut. Maklum, saya tidak terlahir di Bogor yang separuh penduduknya adalah suku Sunda. Setelah melihat foto-foto tutut yang terpampang di spanduk-spanduk tersebut, barulah saya mengenali bahwa tutut itu adalah ”kreco”. Begitu orang Surabaya menyebut keong/ siput sawah. Bentuknya bulat mengerucut, ujungnya lancip, warnanya coklat kehitaman. Dulu di akhir era 70-an ketika di Surabaya masih banyak rawa-rawa, masih mudah ditemukan kreco eh.. tutut. Masih lekat dalam ingatan, nenek pernah bikin masakan tutut rebus. Tutut yang sudah dipangkas ujungnya itu dimakan dengan cara disedot srot..! srot..! Wuenak, Rek!

 

Musim hujan, alih profesi

Satu sore saya jemput Fathimah, putri saya, dari tempat belajar matematika di Jalan Baru (sekarang Jl. Soleh Iskandar). Kami melewati daerah Yasmin. Saya ajak Fathimah menikmati makanan yang saya rasakan 33 tahun yang lalu. Ternyata anak saya suka (apalagi bapaknya..he..he..). Iseng-iseng saya tanya-tanya ke penjualnya. Mereka dari Cirebon. Sebelumnya mereka adalah penjual Sop Buah. Kesukaan saya juga ha.. ha.. Jadi kalau musim kemarau mereka menjual Sop Buah yang dingin, kalau musim hujan mereka sulap gerobak mereka sehingga bisa dipakai menjual Tutut Rebus yang hangat. Cerdik juga ya.

 

Hukum memakan tutut

Sebenarnya di awal tahun-tahun pernikahan saya sekitar tahun 1999 hampir saja lidah saya bertemu tutut lagi. Tapi karena istri saya, Lathifah Musa, mempertanyakan apa hukum memakannya? Apakah tutut termasuk hewan di dua alam? Akhirnya saya tidak jadi beli sekaligus tidak jadi makan. Bukan karena tutut itu haram, tapi karena kami tidak tahu hukumnya. Karena tidak tahu, lebih selamat untuk menghindari sampai jelas bagi kami hukumnya.

Tutut memang bisa di darat bisa juga di air. Oh ya, saya dulu pernah tinggal di desa, di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Saya beternak bebek petelur dan menerima setoran Keong Mas (pomacea caniculata), temennya tutut. Bedanya, kalau keong mas warnanya kuning emas, kalau tutut warnanya coklat kehitaman. Keong Mas biasanya menjadi hama bagi tanaman padi. Ia ditangkapi petani, dikumpulkan lalu disetorkan ke saya. Saya hargai Rp 500/ kg, lalu saya umpankan ke 200 ekor bebek saya. Wah jadi nostalgia nih. Tutut biasanya di air yang tergenang dan berlumpur. Kadang di lumpur sawah atau kolam, kadang menempel di pematang sawah atau di tanaman yang ada di sawah. Tutut melimpah saat musim hujan.

Alhamdulillah jalan terang benderang tentang hukum makanan dan minuman kami dapatkan. Termasuk tentang hewan yang hidup di dua alam (darat dan laut).

Ternyata, (sejauh pengetahuan kami) tidak ditemukan dalil tentang hewan yang hidup di dua alam. Katak, yang sering dijadikan contoh hewan yang hidup di dua alam, haram dimakan, karena katak memang termasuk hewan yang dilarang untuk dibunuh. Dengan memakannya maka otomatis akan membunuhnya. Keharaman membunuh katak ini karena memang ada dalilnya. Dalilnya adalah Hadits Rasulullah saw.

Dari Abdurrahman bin Utsman al-Qurasyi bahwasannya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang katak yang dijadikan obat, lalu Rasulullah melarang membunuhnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa`i, al-Hakim, dan al-Baihaqi)

 

Jadi bukan dalil tentang hewan yang hidup di dua alam. Hingga sekarang pun tidak ditemukan dalil tentang hewan yang hidup di dua alam. Yang ada hanyalah pendapat-pendapat dari ulama. Meski pendapat ulama boleh diikuti, namun pendapat ulama bukanlah dalil. Dan setelah diteliti pengkategorian hewan yang hidup di dua alam itu juga tidak perlu ada. Golongan Syafi’iyah yang memakai pengkategorian ini pun memilah hewan yang hidup di dua alam menjadi dua. Pertama, hewan yang hidup di dua alam yang ada larangan memakannya, seperti katak. Dan kedua, hewan yang hidup di dua alam yang tidak ada larangan memakannya, seperti burung laut, maka tetap halal dengan syarat harus disembelih. Jadi, hentikan saja pengharaman karena pengkategorian hewan yang hidup di dua alam. Tapi langsung saja pada hewan ini dalilnya mana hukumnya apa, dan hewan itu dalilnya mana hukumnya apa. Lebih simple dan lebih jelas.

Tinggal persoalannya, apakah ada dalil tentang tutut alias siput/ keong sawah? Secara taksonomi, hewan ini kategori Molusca (bertubuh lunak), satu filum bersama kerang dan cumi-cumi. Kelasnya Gastropoda (siput-siputan) bersama bekicot. Nama spesies tutut atau kreco adalah Bellamya Javanica. Keren juga namanya.

Sepanjang yang saya tahu, tidak ada dalil khusus tentang siput-siputan. Oleh karena itu, kita harus merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur`an Surat al-Jaatsiyah [45] ayat 13 yang menyatakan bahwa apa yang ada di langit dan di bumi semuanya diperuntukkan bagi manusia:

”Dan Dia (Allah) menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. ”

Dan jika suatu jenis hewan tidak sebutkan secara jelas apakah hewan tersebut halal atau haram, maka kita merujuk pada Hadits Rasulullah saw.

Dari Salman al-Farisi ra, ia berkata, ”Rasulullah saw pernah ditanya tentang lemak, keju, dan kulit, kemudian beliau menjawab, ’Yang halal yaitu apa saja yang dihalalkan Allah dalam KitabNya dan yang haram yaitu apa saja yang diharamkan Allah dalam KitabNya, sedang apa yang didiamkan terhadapnya maka itu termasuk yang dimaafkan (dibolehkan) bagi kalian.’ (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)  

 

Kesimpulannya, tutut termasuk hewan yang halal dikonsumsi. Wallaahu a’lam.

Sejak itu, istri saya mau nyruput si tutut. Alhamdulillah!!

 

Manfaat tutut

Ust. Oleh Solihin sedang Nyuput Tutut bersama Para Santri Pesantren Media di Tutut Sehat Boga Rasa di Yasmin

Secara nutrisi, tutut adalah makanan yang bernutrisi tinggi, khususnya protein. Satu tutut bisa mengandung 4-5 gram protein.Selain protein, tutut juga kaya mineral, khususnya kalsium dan zinc yang sangat berguna untuk metabolisme tubuh manusia. Begitu Ambar Sulianti dari Universitas Pendidikan Indonesia menyatakan (tahun 2008).

Secara ekonomis, tutut bisa menjadi pengganti daging sapi, ayam, dan telur yang harganya sedang merangkak naik. Harga daging sapi mentah di Bogor sekarang (10 Februari 2012) sekitar Rp 62 ribu/ kg, ayam mentah 29 ribu/ kg, telur mentah 19 ribu/ kg. Harga tutut siap makan di Yasmin Bogor Rp 3000/ mangkok. Jauh lebih murah kan. Rakyat kecil pun bisa mendapatkan protein dan mineral murah dan melimpah.

Konon, tutut juga bisa menjadi obat dari penyakit liver/ kuning, penyakit maag, dan menambah nafsu makan. Jadi bagus untuk anak-anak, juga bapak-bapak he.. he… Secara rasa, daging tutut seperti daging kerang, lebih kenyal sedikit. Biasanya dimasak dengan cara direbus dengan rempah-rempah yang sedikit pedas. Wuenak tenan! Jadi jangan heran, kalau musim tutut, masyarakat di desa rame-rame turun ke sawah cari tutut, bersaing dengan bebek. Bebek-bebekku.. pergilah pergi.. aku di sini… berburu tutut…

Satu hal yang perlu diperhatikan. Tutut sering dilaporkan terinfeksi cacing trematoda. Tapi tidak usah khawatir. Karena berdasarkan penelitian Ambar Sulianti dan Yati Ruhayati pada tahun 2006, melalui perebusan dalam air 600 mL dengan api besar selama 19,226 menit cacing sudah mati. Jadi rebuslah tutut dengan api besar hingga mendidih (bukan sekedar hangat) minimal selama 30 menit. Jika sudah direbus dengan benar dan dibumbui dengan rempah-rempah, maka anda dan anak-anak anda siap untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib. Makanan sehat dan bergizi tinggi yang murah dan melimpah. Cocok disantap saat musim hujan yang dingin seperti sekarang ini. Jadi teringat firman Allah:

”Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah ni’mat Allah, jika kalian benar-benar menyembah hanya kepada-Nya.” (Terjemahan QS. An-Nahl: 114)

 

Teringat Tut..Tut..

Sebelum saya akhiri tulisan tentang tutut ini, ada hal yang tertinggal dalam memori. Saat itu awal tahun 1998. Pak Harto, Presiden RI saat itu, masih sangat berkuasa walau petinggi militer dan para menterinya mulai menunjukkan gejala pengkhianatan. Pak Harto punya putri yang digadang-gadang akan menggantikan dirinya sebagai presiden. Putri pertama Pak Harto tersebut biasa dipanggil Mbak Tutut. Nah lo!

Suatu saat saya kebagian jatah menjadi penyiar di salah sebuah radio di kota Bogor. Seperti biasa program radio mulai menerima telepon pertanyaan. Telepon pertama berjalan lancar. Begitu pula telepon kedua, sang penelpon bertanya dengan antusias. Ketika telepon ketiga, nampaknya sang penelpon nggak jadi meneruskan telponnya, dan meletakkan gagang teleponnya. Sehingga begitu telpon di studio siar saya angkat yang terdengar tut.. tut.. tut…. Spontan saya bilang ”Oh yang nelpon Mbak Tutut..” Kontan kru radio yang lain dengan ekspresi ketakutan memberi isyarat agar saya tidak meneruskan guyonan saya tersebut. Takut, karena saat itu banyak orang yang ’dihilangkan’ jika berani menyinggung penguasa dan keluarganya.

Namun, sekarang Pak Harto sudah lengser. Sesuatu yang pada awal tahun 1998 sulit dibayangkan. Seorang yang sangat berkuasa itu turun tahta. Pak Harto sekarang sudah meninggal. Orang-orang pun tidak lagi takut mengatakan ”Soeharto” (dulu, minimal harus ”Pak Harto”), apalagi mengatakan ”tutut”. Namun sekarang, ada gerobak penjual tutut yang spanduknya bertuliskan ”Sedot Tutut”. Ada lagi spanduk yang lebih berani. Tulisannya ”Tutut Pak Harto”. Mungkin penjualnya bernama Pak Harto. Foto yang terpampang saya ambil dari depan Giant Yasmin. Sebagai orang yang pernah merasakan ketakutan masyarakat di zaman Pak Harto, saya jadi sering cekikikan sendiri.

Ya, masyarakat sudah berubah dan sedang berubah. Diktator-diktator di dunia Islam bertumbangan. Tanda-tanda apa hayo?![]

Rate this article!
Tutut,0 / 5 ( 0votes )
Tags:
author

Author: 

5 Responses

  1. author

    Farsy5 years ago

    Maaf Mas Menambahkan Hukum Makan Tutut atau Kreco (SUROBOYO) adalah halal merujuk dari surah An-Nahl Ayat 113-115….Tidak Pernah di sebutkan dalam Hadist Bahwa yg dua alam adalah Haram (Pengalaman Saya Makan di Thai Food Jeddah Menyediakan Menu Kepiting yg Katanya Haram di Indonesia)

    QS. an-Nahl (16) : 113

    Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
    QS. an-Nahl (16) : 114

    Sesungguhnya Allah HANYA mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
    QS. an-Nahl (16) : 115

    Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

    Reply
  2. author

    Handarini5 years ago

    di tempaku tutut biasanya untuk makan bebek, memang proteinnya tinggi, maknya bebeku tinggi2, he he he

    Reply
  3. author

    fahri regrenard5 years ago

    waaahhh….jadi mau jualan tutut,,,,,makasih mas atas info’a….

    Reply
  4. author

    teguh umar5 years ago

    ijin publish yo mas…. hobine sama, saya dan istri hampir tiap sabut-minggu nyruput tutut luxio, dan salah satu penambah selera makan anak kedua..

    Reply
  5. author

    Bunga Berlian4 years ago

    tulisan yg mencerahkan…huebat, cermat, tepat!!…
    tut…tut….tut…(langsung putus)

    Reply

Leave a Reply