Tidak Pernah Ada Diplomasi untuk Israel

Program: VOICE OF ISLAM | Narasumber: IR. LATHIFAH MUSA (Konsultan Klinik Anak Muda untuk Pergaulan Islami) | Topik: TIDAK PERNAH ADA DIPLOMASI UNTUK ISRAEL

SMS:

Assalaamu’alaikum VOI. Bagaimana menyikapi krisis di Palestina?   Pendengar setia VOI. 0852-423-xxxx

Ustadzah, krisis di Palestina memunculkan banyak pendapat. Ada yang menilainya sebagai konflik kemanusiaan semata. Ada juga yang menilainya sebagai konflik agama. Bagaimana kita melihat masalah Palestina?

Pertama dalam pandangan umat Islam, Palestina yaitu wilayah Syam adalah wilayah kaum muslimin yang setelah keruntuhan Khilafah Islamiyah di Turki, kemudian dikuasai Inggris. Sebagaimana Inggrislah yang juga telah membuat konspirasi runtuhnya Khilafah umat Islam. Inggris pula yang berperan besar mencangkokkan negara Yahudi ini ke jantung umat Islam, karena di wilayah Syam dan sekitarnya merupakan wilayah muslim. Dalam hal ini pun kita tidak bisa melihat Inggris, AS, Prancis dan negara-negara Eropa  semata-mata hanya sebagai sebuah negara. Namun negara-negara ini telah terkendali oleh lobbi Yahudi Internasional yang telah membentuk komunitas yang bergerak (Gerakan) untuk mendirikan negara Israel, sebagai eksistensi Yahudi Internasinal. Dengan demikian krisis di wilayah ini telah berawal sejak 1948. Dan selanjutnya negara Yahudi ini menjadi penyakit yang selalu menimbulkan penderitaan dalam tubuh umat Islam. Konflik selalu terjadi di wilayah ini. Bagi mereka yang mengatakan ini konflik kemanusiaan semata, sebenarnya ada maksud bahwa ketika dikatakan konflik kemanusiaan, bukan konflik agama, maka mereka tidak menginginkan agama berperan dalam penyelesaian konflik ini. Padahal sebenarnya dalam Islam, masalah-masalah apapun maka Syariat Islam harus memiliki solusi. Ketika dikatakan bahwa konflik ini menyangkut kemanusiaan, maka di situlah Islam memiliki solusi terhadap masalah-masalah kemanusiaan.

Bagaimana solusi Islam terhadap masalah kemanusiaan di Palestina. Karena  mata dunia saat ini terbuka bahwa Israel tidak memiliki kemanusiaan lagi.

Solusi Islam terhadap Israel dengan pelanggaran kemanusiaannya yang luar biasa biadabnya ini hanyalah dengan Jihad fii sabiilillah. Salah satu tujuan jihad adalah menghilangkan kezhaliman dari umat Islam. Israel tidak sekedar zhalim, tapi lebih dari itu. Sudah biadab, bengis dan tidak punya perikemanusiaan lagi. Maka di sinilah kaum muslimin diperintahkan untuk berjihad. Dalam QS al Hajj: 39:”Diijinkan bagi orang-orang yang diperangi (untuk berperang) karena mereka dianiaya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa menolong mereka.”

Jihad seperti apa yang bisa dilakukan, mengingat kaum muslimin sudah tercerai berai. Tidak ada khilafah Islam yang bisa menyerukan jihad kepada seluruh umat.

Jihad itu kewajiban bagi umat Islam di setiap kondisi, pada saat ada atau tidak adanya Daulah Khilafah Islamiyah. Jihad tetap bisa dilangsungkan, bersama setiap amir, apakah ia amir yang baik atau yang jahat. Rasulullah Saw bersabda:” Jihad adalah wajib atas kalian bersama setiap amir-apakah yang baik atau yang jahat.” Hukum Jihad memang fardhu kifayah bila umat Islam yang memulai aktivitas perang dalam rangka membebaskan negeri-negeri kufur dari kekufurannya. Namun jihad menjadi fardhu ain, kalau aktivias jihad itu ditujukan untuk menyingkirkan musuh-musuh dari negeri umat Islam. Dalam kondisi kaum muslimin di palestina sudah sangat teraniaya. Maka seharusnya seluruh muslim dunia membantunya

Saat ini ada juga pemimpin-pemimpin muslim yang meminta PBB segera turun tangan agar tercapai perdamaian. Ada yang menyarankan jihad, tapi jihadnya diplomasi. Ada yang menyerukan kemerdekaan Palestina segera diwujudkan agar batas-batas negara menjadi jelas. Bagaimana seharusnya?

Bagi Israel tidak ada kata yang layak selain perang. Karena memang sejak tahun 1948 berdirinya, Israel telah selalu melanggar perjanjian apapun.  Sejak awal berdirnya negara-negara besar saat itu khususnya Inggris dan AS bersama-sama merumuskan resolusi untuk masalah Palestina, Mereka menyebutnya ”Krisis Timur tengah”. Seluruhnya ditujukan untuk kepentingan negara-negara tersebut, dengan cara memelihara eksistensi negara Yahudi dan membuat negara Yahudi itu unggul diantara negara-negara lain saat itu.  Pasca tahun 1948, resolusi yang dihasilkan ada dua hal: (1) memelihara eksistensi Yahudi (2) Mengatasi krisis kemanusiaan yang menimpa Bangsa Palestina yang ini dibebankan pada negara-negara Arab sekitarnya.

Tahun 1949 Israel menjadi anggota PBB, yang ini berarti dukungan UU Internasional terhadap negara zionist ini. Inggris menginginkan negara Yahudi ini tidak sekedar tanah yang berhasil dirampas tahun 1948, tetapi juga tepi Barat yang berada dalam kekuasaan Yordania, Jalur Gaza yang di bawah Mesir, semuanya disatukan menjadi Negara Palestina yang berazaskan demokrasi di bawah kendali Libanon. Kemudian seluruh Palestina berada di bawah kendali Yahudi, walaupun ada menteri dari kalangan muslim dan kristen.  Lalu negara yang secara de facto di bawah Yahudi ini menjadi anggota Liga Arab. Nah ini yang dipandang Inggris dapat menjaga dan menaikkan eksistensi Yahudi di Timur Tengah. Kalau  Yahudi tetap mengisolir menjadi negara yang berdiri sendiri, maka negara-negara Arab akan menganggapnya tetap musuh di hadapan muslim dan sampai kapanpun akan menggempur yahudi. Namun kemudian AS mengusulkan resolusi yang lain. AS mengambil alih kendali (waktu itu di bawah George Maggie). AS meninggalkan Inggris dan menginginkan agar Palestina dibagi dua yaitu negara Arab dan Yahudi, ini juga menimbulkan pro kontra karena pemuka yang dominan menginginkan sebagaimana yang dirancang Inggris. Tahun 59 di akhir pemerintahan presiden Eisenhower, AS mengeluarkan solusi yang lebih rinci, yaitu mendirikan institusi bagi Bangsa Palestina di tepi Barat dan Jalur Gaza, menginternasionalisasikan al Quds dan mencari solusi bagi pengungsi Palestina. Pelaksanaannya diserahkan kepada Abdun Nasser, antek AS di kawasan Timur Tengah, demikian selanjutnya hingga tahun 1960 PM Yordania Hazza al Majali menyetujui resolusi AS itu. Terakhir tahun 1964 berdiri PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang bermaksud mendirikan institusi Bangsa Palestina disamping untuk menginternasionalisasi al Quds dan Betlehem.  Sampai saat ini arus penyelesaian Palestina memang sejalan dengan rancangan AS. Dan Israel di tengah keriuhan resolusi-resolusi itu tidak henti-hentinya membantai muslim Palestina. Artinya resolusi apapun, Israel akan tetap membantai.

Sebenarnya bagi yang tetap kokoh untuk menjalankan jihad diplomasi dengan Israel ini tujuannya apa sih?

Kita seharusnya sudah bisa melihat bahwa mereka ini adalah antek-anteknya AS. Dan AS adalah sponsor negara Israel. Selama ini AS selalu mensupport serangan-serangan Israel. Dengan demikian mereka yang menjadi anteknya AS berarti adalah antek Yahudi juga. Jihad diplomasi sangat gigih diserukan oleh Guntur Romli, pimpinan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk  Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Dia mengatakan bahwa tragedi di Gaza itu luar biasa parah, dan dia menyalahkan Israel. Tetapi ketika diplomasi dengan Israel menjadi solusi yang ditawarkan, maka sama saja dia membiarkan kekejaman Israel dan kemungkinan-kemungkinan serta peluang Israel untuk kembali membantai umat Islam. Bagaimanapun Yahudi Zionis punya karakter pelanggar perjanjian. Bukan sekedar perjanjian dengan manusia, perjanjian dengan Allah SWT pun (yang saat itu Allah mengangkat bukit Thursina untuk sebuah perjanjian dengan Yahudi) itu pun mereka berani melanggar, sehingga kemudian bangsa Israel ini dilaknat oleh Allah SWT. Bohong  kalau Guntur Romli tidak tahu karakter Israel ini. Masalahnya adalah dia memang harus menggariskan jihad diplomasi sebagai upaya untuk menghancurkan hukum-hukum Islam tentang Jihad. Ketika kasus AKKBB, dia menghancurkan hukum-hukum tentang aqidah dengan pembelaannya terhadap Ahmadiyah. Dan kini giliran pembelaannya terhadap negara Yahudi. Demikian sama saja kalangan Jaringan Islam Liberal, memang selalu mendukung upaya-upaya penghancuran Islam. Dengan bahasa manis tapi menjadi racun yang menghancurkan tubuh umat Islam.