Bahasa sebagai Standar Kompetensi Ilmu

Bunga matahari di halaman rumah.

Membuat hati cerah ceria.

Jadikan anak kita berbahasa indah.

Karena Bahasa menunjukkan pekertinya

Home schooling hadir sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubric ini kita akan menghadirkan narasumber yang punya kompeten untuk membahas tentang pendidikan anak. Kembali lagi untuk topic berjudul : BAHASA SEBAGAI STANDAR KOMPETENSI SELURUH ILMU. kali ini kita mau bincang-bincang dulu dengan Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga.

Ustadzah, mengapa dikatakan bahasa adalah standar utama kompetensi seluruh disiplin ilmu. Dan apa hubungannya dengan homeschooling?

Hubungannya dengan homeschooling adalah karena yang kita bahas secara khusus masalah pendidikan. Dan pendidikan memiliki standar kompetensi tersendiri yang harus diraih. Sedangkan mengapa bahasa menjadi standar utama kompetensi seluruh ilmu. Ini karena dalam homeschooling yang saya geluti saat ini bersama teman-teman praktisi homeschooling berbasis aqidah Islam, bahasa ini adalah factor terpenting. Bahkan bisa dikatakan ada dua kurikulum dasar dalam homeschooling ini. Yang pertama tahfizh qur’an (hafal Qur’an) yang kedua bahasa.

Mengapa tahfizh dan bahasa menjadi kurikulum dasar? Karena al Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang menjadi sumber utama pedoman hidup kita. Al Qur’an adalah mukjizat yang tersisa di akhir zaman ini, yang akan menyelamatkan manusia dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat. Kedua, bahasa. Bahasa ini dalam rangka memahami kandungan makna al Qur’an sebagai pedoman hidup yang harus diikuti dan dijalankan. Bahasa ini yang akan mentransfer nilai-nilai pemikiran dan hukum yang terkandung dalam al Qur’an.

Kalau bahasa al Qur’an adalah bahasa arab, bagaimana dengan bahasa dalam kurikulum bahasa ini? Bahasa yang terbaik adalah bahasa arab sebagaimana al Qur’an. Karena ini  bahasa wahyu dan bahasa yang akan mentranfer Islam sebagai pemikiran dan syariat. Hukum kemudian, bahasa ini akan digunakan di surga. Ini yang diyakini oleh kaum muslimin. Sehingga Islam mewajibkan mempelajari bahasa arab. Namun persoalan kita muslim Indonesia adalah tidak mengerti bahasa arab. Untuk itu sambil menjalani proses menghidupan kembali bahasa arab sebagai bahasa Islam, maka kita harus memilih bahasa yang tepat untuk mentransfer kandungan maknanya. Untuk kurikulum homeschooling saat ini, kami menggunakan bahasa Indonesia yang terbaik sebagai materi bahasa. Dalam pelajaran tahfizh lambat laun akan dikenalkan juga bahasa arabnya.

Bagaimana metode pelajaran dalam homeschooling ini?

Metodenya talqiyan fikriyan. Mengulang-ulang proses berfikir sehingga akan terbentuk kerangka ketika menerima ilmu. Ini berangkat dari pemahaman terhadap manusia dan potensinya. Yaitu potensi hidup dan akalnya. Potensi akal meliputi panca indera, kemampuan panca indera untuk menangkap fakta, kemampuan akal untuk mengolah apa yang ditangkap indera dalam wadah otaknya. Talqiyan fikriyan memerhatikan seluruh proses ini. Pada anak ada tumbuh kembang yang harus diperhatikan. Sehingga proses pembelajaran memperhatikan tumbuh kembangnya. Anak tidak dibebani dengan materi pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan potensinya. Untuk itu kurikulum homeschooling sangat memperhatikan masing-masing anak. Itu pula sebabnya mengapa syarat dalam pelaksanaan homeschooling ini orang tua harus terlibat.

Ketika bahasa dijadikan sebagai kurikulum dasar. Apa alasannya?

Karena bahasa bisa menjadi ukuran tingkat kecerdasan dan ketinggian pribadi seseorang. Ada istilah bahasa menunjukkan bangsa. Di satu sisi kita bisa menilai level berpikir seseorang dari apa yang disampaikannya. Kita bisa membaca kecerdasan akalnya baik dari komunikasi lisan dan tulisannya. Kita bisa mengukur kedetilan dan kecermatan berpikir dari kata-katanya. Di sisi lain, orang berbahasa kasar, biasanya kasar perilakunya. Berbahasa santun dan lembut, ini juga berpengaruh pada perilakunya. Inilah sebabnya mengapa ketika seseorang sudah memiliki kemampuan tahfizh al Qur’an, kemudian terbiasa berbahasa al Qur’an, dia pasti memiliki kesantunan tingkat tinggi. Bahkan ketika mencela pun  juga tingkat tinggi. Tapi kena betul dalam hati. Istilahnya menggugah pemikiran menyentuh perasaan. Dalam al Qur’an ada lafazh (untuk orang kafir yang pongah) ” fabasyirhum bi adzabin adziim: Maka sampaikanlah berita gembira kepada mereka tentang azdab neraka yang dahsyat). Ini ada unsur merendahkan. Tapi dengan sindiran. Bahasanya santun tapi mengena. Tentang adzab neraka yang dihadiahkan buat orang kafir. Dan akhirnya disimpulkan bahasa adalah cerminan pola pikir dan perilaku seseorang. Dengan demikian pelajaran bahasa sangat berpengaruh pada pola pikir dan sikap ini.

Mengapa dikatakan sebagai standar kompetensi seluruh ilmu? Dalam kurikulum homeschooling ini, –yang kebetulan saya tergabung dalam Tim Kurikulum (bidang bahasa) di Komunitas Home Schooling SD di bawah El Diina (Lembaga Peduli Ibu dan Generasi)–, kami mengukur tingkat kompetensi seluruh ilmu dengan bahasa sebagai standarnya. Karena kita baru bisa mengukur anak ini ngerti atau tidak dari komunikasi kita dengan anak didik ini. Yaitu dari komunikasi lisan dan tulisannya. Tahap pertama dari komunikasi lisan dulu. Kemudian baru kemampuan komunikasi tulisannya. Standar dasar bagi seseorang adalah kemampuan lisan. Khususnya dalam menyampaikan kebenaran dan menolak kerusakan.  Contohnya ada bahasa matematika. Kita bisa mengukur kemampuan matematisnya dari lisannya. Bukan sekedar di atas kertas. Matematika sendiri adalah alat untuk menyelesaikan masalah. Ada konsep bilangan, ukuran, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dll. Penguasaan konsep ini akan membuat seseorang bisa menyelesaikan masalah dalam muamalah (mis. Jual beli, hitung waris dll), dalam sains dan teknologi misalnya membuat aliran irigasi yang mempermudah, rancang bangun, mobil, sampai senjata. Ini dilihat kemampuannya dari bahasanya. Dia akan bisa terukur memahami matematika sebagai sebuah konsep dari apa yang disampaikannya.  Kemudian bahasa sains dan teknologi. Adalah kemampuan untuk melakukan penelaahan yang mendalam dan cemerlang tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Dikatakan cemerlang karena sekaligus juga berhasil menemukan hakekat di balik keagungan alam semesta ini, yakni Allah SWT Sang Pencipta Manusia, alam semesta dan kehidupan. . Sehingga hasil akhir dari sains dan penemuan-penemuan mutakhir adalah ucapan Subhanallah. Ini yang menyebabkan ilmu akan bermanfaan bagi semesta dan tidak merusak serta membawa kerusakan bagi manusia dan kehidupan. Apapun yang ditemukan akan membuat manusia semakin menyadari kekuasaan Allah. Robbanaa maa khalaqta hadzaa bathilaa. Subhaanaka faqina adzaabannar. Kemudian ada geografi (dulu ilmu bumi) yang membuat anak bisa memahami posisi mulai dirinya sendiri, lingkungan terkecil hingga dunia sebagai lingkungan terbesar. Bagaimanapun Allah SWT menetapkan umat Islam sebagai khalifah fil ardh. Pemimpin di muka bumi. Ini memiliki target menjadikan umat Islam berkarakter pemimpin. Sehingga dia pun mengerti posisinya dalam konstelasi politik internasional. Problem dunia Islam saat ini kan selalu terjajah. Politik dunia dikuasai oleh Kapitalis yang menerapkan sistem Kapitalisme. Ini karena kemunduran karakter kepemimpinan kaum muslimin. Salah satu upaya memulai adalah dengan kesadaran posisi hidupnya di permukaan bumi ini. Untuk itu sejak dini mulai dikenalkan kurikulum Geografi sebagai hal yang juga dipandang penting. Ketika Tahfizh Qur’an dan bahasa menjadi kurikulum dasar, maka kurikulum intinya adalah Tsaqofah Islam. Sementara kurikulum penunjangnya meliputi sains dan teknologi (matematika sebagai tools/alat) dan geograsi. Semua diukur dari kompetensi bahasa. Mengenai kurikulum tambahan (ekstra kurikuler) adalah seni dan ketrampilan. Ini untuk mengasah kepekaan dan keindahan rasa. Agar anak memiliki bahasa yang indah.[]

Tags:
author

Author: