5 Responses

  1. bujang
    bujang Jumat, 1 Januari 2010 at 10:19 | | Reply

    sebagian besar ummat Islam dunia merayakan tahun baru dengan pesta dan hura-hura, dan Bodohnya lagi tahun baru yang dirayakan adalah Tahun Baru Ummat selain Islam, NaudzubILLAH,…. maka dari itulah pentingnya Ilmu keIslaman.
    semoga esok ataupun lusa akan ada khilafah yang dapat menegakkan Syariat Islam dengan Kaffah InsyaALLAH,.. Amiiin…

  2. Andri romanto
    Andri romanto Kamis, 18 Maret 2010 at 16:09 | | Reply

    dunia peradaban yang canggih memotivasi daya pikir tingkat tinggi demi sebuah hidup yg kan sia2 demi wanita harta dunia tak lagi menjadi kuat akan zaman namun masuk dalam arus setan untuk penuhi kepuasan,mengapa manusia tak pernah menyadari hakekat dan tak akan sadar walau trilyunan ceramah,lagu ,opini,musibah,kecaman serta keputusan…/?seakan mereka cukup menangis serta tertawa menjalani hidup yg membawa dunia lain mereka percaya namun tak mau menjalani……………selubung2 itu menutup daya iman sebab dia kuasai berbagai ilmu godaan

  3. muchlis
    muchlis Jumat, 2 April 2010 at 00:00 | | Reply

    the majority of Muslims the world celebrate the new year with parties and rah-rah, and foolishly again the new year is celebrated New Year in addition to Islamic Ummah, NaudzubILLAH, …. then that’s the importance of Islamic Sciences.
    hopefully tomorrow or the day after tomorrow there will be a Khilafah that can enforce Islamic Sharia with Kaffah Hopefully, .. Amiiin …

  4. can034
    can034 Jumat, 30 Desember 2011 at 15:53 | | Reply

    ijin copas bang yy..
    mw d share ilmunya…
    skalian narik pengunjung d blog ane..
    :D

    Nabi telah mengingatkan ,” Kalian akan mengikuti pola hidup suatu kaum sedikit demi sedikit, sampai apabila mereka masuk kedalam lubang landak sekalipun maka kalianpun akan mengikutinya.” sahabat bertanya:” Apakah yang engkau maksud adalah Yahudi dan Nashrani duhai Rasulullah?” Beliau menjawab:” Siapa lagi kalau bukan mereka.” HR Riwayat Bukhori.

  5. fahmi
    fahmi Sabtu, 31 Desember 2011 at 07:56 | | Reply

    untuk yang merindukan kekhilafahan mereka pasti akan mendapatkannya, tapi tidak tahu kapan, sesuai sabda rasulullah. untuk lebih jelasnya bisa baca buku kumpulan suratnya hasan al banna yang di terjemahkan oleh anis mata.

    untuk masalah tahun baru, ya kalau kita memuhasabah diri bukan merayakannya rasanya akan menjadi lebih baik, kalaupun merayakannya mungkin hanya sekedar kumpul bareng teman nggak masalah, asal jangan melakukan hal yang allah haramkan, sekedar share mumpung ada moment yang tepat karena biasanya tanggal 1 bulan januari itu hari libur,

    kalau merayakan tahun baru masehi haram dengan cara apapun, sedangkan kita malah menggunakan tahun ini sebagai penanggalan aktifitas kita.
    wallahu a’lam.

    JAWAB:

    Secara hukum, menggunakan Penanggalan Gregorian hukumnya mubah karena Rasulullah saw dan para sahabat beliau pun menggunakan penanggalan Arab Jahiliyah. Penanggalan Hijriyah baru dipakai umat Islam baru pada tahun 17 Hijriyah setelah ditetapkan oleh Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab. Rasulullah saw dan para sahabat juga memakai Dinar Romawi sebagai mata uang umat Islam semasa hidup mereka. Dinar Islam baru dibuat dan dipakai umat Islam di masa Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Walaupun demikian, Rasululllah saw dan para sahabat beliau tidak mengikuti tradisi Arab jahiliyah yang juga memakai penanggalan Arab Jahiliyah untuk menentukan kapan tradisi-tradisi tersebut dilaksanakan. Rasulullah saw dan para sahabat beliau juga tidak mengikuti tradisi-tradisi Romawi.

    Namun, secara peradaban, menggunakan Penanggalan Hijriyah jauh lebih baik, lebih terhormat, dan lebih membanggakan. Lebih baik, karena penggunakan perputaran bulan (qamariyah) sebagai penentuan tanggal lebih akurat dibanding penggunakan matahari (syamsiyah) sebagai penentu tanggal. Terbukti tiap 4 tahun kalender syamsiyah harus mengkoreksi diri dengan menambah 1 hari sebagai tanggal 29 Februari. Lebih terhormat, karena hanya umat-umat yang besarlah yang memiliki penanggalan sendiri. Dan lebih membangggakan, karena penanggalan Hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah tempat pertama kalinya diterapkan Peradaban Islam. Peradaban yang mengubah tidak sekedar wajah Arab namun juga mengubah wajah dunia dari peradaban yang gelap dan kotor menuju peradaban yang suci dan terang benderang.

    Memanfaatkan liburan untuk bersilaturrahmi ke keluarga atau berziarah ke rumah teman tentu tidak jadi masalah, bahkan bagus. Yang menjadi masalah adalah tindakan pemerintah yang menjadikan 1 Januari sebagai hari libur nasional. Artinya, pemerintah menjadikan 1 Januari sebagai moment yang harus dirayakan. Seandainya pemerintah tidak menjadikan 1 Januari sebagai “tanggal merah” insya Allah sangat sedikit acara-acara Perayaan Tahun Baru Masehi terjadi. Apalagi jika pemerintah melarangnya, tentu yang tersisa tinggal Misa Pergantian Tahun di gereja-gereja.

    Muhasabah Diri adalah aktivitas yang harus dilakukan setiap hari bahkan setiap kali kita shalat lima waktu. Jika Muhasabah Diri dilakukan pada malam pergantian tahun masehi (31 Desember malam), maka tidak ada indikasi lain kecuali Muhasabah Diri tersebut terkait dengan pergantian Tahun Masehi. Jika tidak ada indikasi tersebut, mengapa tidak dilakukan pada tanggal 28 Desember atau tanggal 3 Januari saja. Ada juga Muhasabah Diri Massal yang dilakukan untuk mengalihkan massa Umat Islam agar tidak menuju ke arena-arena hura-hura dan pamer aurat, di sela-sela tiupan terompet dan luncuran kembang api. Maksudnya tentu saja baik, namun cara yang dipakai kurang tepat. Karena para pendeta/ pastor pun berkhotbah tentang evaluasi diri dan “syukur” pada malam Misa Pergantian Tahun kepada jemaatnya. Lalu apa bedanya Muhasabah Diri Massal dengan Misa Pergantian Tahun?? (UMAR ABDULLAH)

Leave a Reply