[mp3] Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Rintihan umat terus mengalir. Laksana GELOMBANG tak dapat terbendung. Tak mampu terhenti…terhenti… terhenti. Melaju punahkan bahagia…gembira. Dan sungguh menyayat hati. Jeritan tangisan pilu. Terus merasuk ke dalam sukmaku. Rindu terus nyala membara. Menantikan satu yang telah lama dinanti. Saatnya Khilafah memimpin dunia.
[mp3] Mars Mutiara Umat
Kami adalah mutiara umat. Generasi yang beriman pada Allah. Berpedoman al-Qur`an. Berjuang untuk Islam. Siap maju terdepan. Dalam membina iman. Berpedoman al-Qur`an. Berjuang untuk Islam. Siap maju terdepan. Dalam memimpin insan.
[mp3] Islam yang Teramat Indah
Islam paripurna yang menjadi rahmatan lil ’alam. Mencerahkan dunia dengan kemilau kejayaannya. Lebih dari 2/3 dunia selama 14 abad silam. Islam memayungi dunia dengan kemuliaan ajarannya. Tidak pernah ada pilihan untuk lahir di zaman ini. Tapi selalu ada pilihan untuk mau bangkit memperbaiki kondisi. Di tengah kegamangan dalam sistem yang ada. Panjatkan syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. Yang telah menunjukan jalan mana yang harus tetap ditempuh.
[mp3] Terbayang-bayang Sebuah Dosa
“Dalam suatu perjalanan pulang ke desa. Terbayang-bayang sebuah kesalahan diri. Tergiang-ngiang kata-kata di suatu masa. Ketika diri hina ini tega menzalimi. Ya Allah maafkan kebodohan hamba. Ya Allah ampuni kesalahan hamba. Beri hamba kesempatan beri hamba kemudahan. Menutup kesalahan dengan kebaikan.”
[mp3] Pemuda
“Pemuda engkaulah pemuda. Pemuda bintang bercahaya. Pemuda kau andalan kita. Terpancar pesona kharisma. Pemuda engkaulah pemuda. Pemuda pencerah gulita. Pemuda Muslimin sedunia. Berpadu tampaklah wibawa. Engkaulah pemimpin dunia. Pengemban tak peduli jera. Engkaulah kebanggaan kita. Pengemban risalah mulia.”
[mp3] Senja di Masjid Raya
“Oh, pertemuan di Masjid Raya. Perkara hidup pemuda bertujuan mulia. Utarakan diri, diri ini apa adanya. Tak berlebihan supaya kita tak berdusta. Mungkin di kalbu kita dah saling seirama. Kuucap puji syukur berkah-Nya. Senjaku bertambah rona. Terhias mentari jingga. Kini aku bertanya. Kapan tuk melamarnya”
