“Pembantaian Muslim Rohingya”

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media, Rabu, 1 Agustus 2012

Darah dan air mata umat Islam kembali tertumpah. Kali ini penindasan dialami oleh etnis Rohingya yang bermukim di negara bagian Arakan, Myanmar. Mereka diintimidasi dan dibantai oleh etnis Rakhine yang beragama Budha. Muslim di Myanmar sendiri adalah kaum minoritas. Jumlah mereka kalah dengan para penganut Budha.

Keadaan mereka begitu memprihatinkan. Pemerintah Myanmar sendiri yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung rakyatnya yang tertindas, malah terkesan membiarkan kekerasan atas muslim Rohingya. Bahkan diperoleh kabar bahwa pemerintah Myanmar sebenarnya risih atas keberadaan muslim Rohingya dan sebenarnya juga menginginkan muslim Rohingya enyah dari negara itu. Oleh karena itu, sudah sejak lama mereka menggagas berbagai program berbau diskriminasi terhadap muslim minoritas Rohingya.

Melihat kondisi ini, setiap muslim dari seluruh dunia tentu harus peduli. Antara muslim yang satu dengan yang lainnya bersaudara. Mereka diikat dengan tali aqidah. Maka jika ada saudara seiman yang merasakan penderitaan, yang lain tentunya juga ikut merasakan penderitaan.

Keluarga besar Pesantren Media, sebagai bagian dari kaum muslimin dari seluruh dunia tentu juga merasakan penderitaan yang dialami muslim Rohingya. Oleh karena itu, pada Rabu (01/08) Pesanren Media mengadakan Diskusi Aktual dengan topik Pembantaian Muslim Rohingya.

Diskusi ini biasanya dimulai pukul 16.00 WIB. Namun, berhubung diskusi kali ini digelar pada Bulan Ramadhan, maka dimajukan menjadi pukul 15.00 dan berakhir jam 16.30 WIB. Karena setelah itu, seluruh santri Pesantren Media diharuskan pergi ke Masjid Nurul Iman guna membantu acara buka bersama anak-anak dari Komplek Laladon Permai dan sekitarnya.

Di tahun kedua ini, jumlah santri Pesantren Media semakin banyak. Jika di tahun kemarin pertanyaan yang diajukan tak pernah lebih dari lima atau enam pertanyaan, maka di kesempatan Diskusi Aktual kali ini, tidak tanggung-tanggung, ada sekitar tujuh belas pertanyaan.

Kelompok santriwati adalah yang paling banyak mengajukan pertanyaan. Maila menanyakan tentang alasan pemerintah Myanmar membenci Islam, Kholifah menanyakan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah Myanmar terkait insiden ini, Rani menanyakan alasan kenapa berterimakasih kepada Indonesia, Ilham penasaran dan juga bertanya tentang apa sebenarnya penyebab konflik, Novia tentang bagaimana Islam memandang pemerintah Myanmar yang tega membantai muslim Rohingya, Syifa menanyakan apakah ada kaitan peritiwa ini dengan Ramadhan, Putri menanyakan apakah ada negara lain yang membantu menghentikan kekejaman, Cylpa juga bertanya tentang penyebab konflik, Wigati menanyakan seputar langkah apa yang diambil Indonesia guna menghentikan konflik, Siti bertanya tentang apa itu Rohingya, dan Ira menanyakan apakah Myanmar membantu korban muslim atau diam saja.

Sedangkan dari kelompok santriwan hanya ada empat pertanyaan. Anam menanyakan apakah korban yang meninggal dalam pembantaian ini masti syahid, Hawari bertanya mengapa berita pembantaian muslim Rohingya ini tak dibesar-besarkan sebagaimana kasus terorisme yang juga diidentikkan dengan kekerasan, Yasin menanyakan sampai sejauh mana peran PBB sebagai polisi dunia, dan yang terakhir, Sandi bertanya apakah ada nilai jihad jika kita membela kaum muslim di Rohinngya.

Alokasi waktu yang tersedia tidak memadai untuk menjawab pertanyaan yang begitu banyak. Akhirnya diambil keputusan untuk menggabung-gabungkan pertanyaan yang mempunyai arah pembahasan yang sama. Akhirnya, diputuskan untuk membahas lima pertanyaan hasil penggabungan itu, yaitu apa itu Rohingya, bagaimana awal mula pembantaian, kenapa Myanmar membenci Islam, bagaimana peran pemerintah Myanmar, dan bagaimana pandangan Islam terkait masalah.

Pembahasan pertama tentang apa itu Rohingya. Setelah melalui pengumpulan beberapa pendapat, akhirnya disimpulkan bahwa Rohingya adalah sebuat etnis yang mendiami negara bagian Arakan di Myanmar dan hidup berdampingan dengan etnis Rakhine yang beragama Budha. Mereka adalah etnis pendatang atau imigran dari India dan telah sekian lama menetap di sana.

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai awal mula penyebab terjdinya pembantaian. Sebenarnya muslim minoritas Rohingya sudah sejak lama mengalami berbagai tekanan. Tekanan demi tekanan ini mereka dapatkan hanya karena perbedaan etnis dan agama. Mereka dibantai karena kukuh pada aqidah mereka, tidak mau keluar dari Islam.

Lalu kenapa pemerintah Myanmar benci Islam. Jawabannya gampang saja. Sejak dahulu kala, orang-orang kafir sebenarnya menaruh kebencian terhadap umat Islam. Mereka tidak akan rela hingga kita umat Muslim berpindah keyakinan mengikuti kayakinan mereka.

Pembahasan selanjutnya adalah tentang sejauh mana peran pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmarlah sebenanya yang telah mengatur pembersihan muslim Rohingya. Salah satunya adalah yang berhubungan dengan KTP. Pemerintah hanya mengeluarkan KTP pada warga negara yang menuliskan agama Budha pada KTPnya. Yang tidak mau maka tidak akan mendapatkan KTP. Di lain sisi, pemerintah juga terkesan membiarkan pembantaian pada muslim Rohingya hingga terdapat korban jiwa yang tidak sedikit. Ada juga media yang memberitakan bahwa sebenarnya pemerintah Myanmar menganggap muslim Rohingya bukan bagian dari Myanmar. Kaum muslim Rohinya dituduh sebagai imigran gelap.

Pembahasan yang terakhir mencakup bagaimana pandangan dan solusi Islam. Dalam pandangan Islam, jika kondisi di sebuah wilayah sudah genting, tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali karena alasan keamanan, maka umat Islam yang bermukim di wilayah tersebut wajib hijrah. Seperti yang dilakukan di masa Rasulullah saw dulu. Di masa Rasulullah saw, umat Islam pernah hijrah ke negari Habsyah karena tekanan yang begitu besar dari kaum kafir Quraisy. Umat Islam juga hijrah ke Madinah. Di kedua tempat itu meraka bisa lepas dari berbagai macam belenggu penindasan.

Lalu ke mana mereka akan hijrah? Seharusnya negeri kaum muslimin yang lain tidak tinggal diam melihat permasalahan ini. Indonesia misalnya, harus siap menjadi bumi kedua bagi saudara seiman yang teraniaya. Jadilah ‘kaum Ansor’ di jaman ini. Jangan malah mengembalikan pengungsi yang sudah ada. Mereka butuh pertolongan. Mengembalikan mereka ke Myanmar sama saja dengan menggiring saudara seiman ke dalam jurang penindasan dan pembantaian.

Para pemimpin negeri-negeri kaum muslimin seharusnya juga tegas. Kirimkan tentara untuk melindungi muslim Rohingya. Janganlah betah melihat saudara seiman yang terbantai meningkat jumlahnya. Pemerintah Myanmar harus diancam supaya memperlakukan seluruh rakyatnya dengan adil tanpa harus membedakan etnis dan agama mereka.

Demikian laporan Diskusi Aktual kali ini. Semoga bermanfaat.[Farid Abdurrahman, Santri Pesantren Media, Kelas 2 SMA]

Catatan: Sebagai tugas praktik menulis reportase di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>