Thursday, 17 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Agar Istiqamah Beribadah

Sikap istiqamah adalah muncul dari proses berpikir tentang iman kepada Allah SWT, yakni apakah iman kepada Allah SWT itu diraih dengan membiarkan naluri atau perasaan mencapainya ataukah wajib menggunakan aqal dan pembuktian.

Pertanyaan:

Dari +628190766xxxx : AsS.Wr.Wb…., saya ziyad di LoMBOK. Saya mau tanya bagaimana agar kq tetep istiqomah dlm beribadah kpd AlLAH?SukroN

Jawaban:

Ziyad di Lombok, sikap istiqamah adalah muncul dari proses berpikir tentang iman kepada Allah SWT, yakni apakah iman kepada Allah SWT itu diraih dengan membiarkan naluri atau perasaan mencapainya ataukah wajib menggunakan aqal dan pembuktian. Faktanya memastikan bahwa manusia dapat dengan pasti membenarkan sesuatu jika aqalnya dapat membuktikan eksistensi sesuatu itu baik langsung maupun melalui atsarnya alias bekas/ jejak/ tanda dari eksistensi sesuatu tersebut.

Keberadaan Allah SWT atau wujud Allah SWT dapat dijangkau oleh indera manusia yakni melalui atsarnya yakni alam semesta, manusia dan kehidupan. Sehingga ketika aqal berpikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan maka secara pasti aqal mengharuskan adanya Al-Khaliq yang menciptakan ketiganya. Inilah yang ditunjukkan secara gamblang oleh pernyataan Allah SWT :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (البقرة : 164)

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (آل عمران : 190)

 

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75)فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ(76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ(77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78)إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الأنعام : 75-79)

 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقرة : 260)

 

Bagian ayat لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ, لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ dan وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ memastikan adanya proses berpikir dan pembuktian dalam upaya meraih iman kepada Allah SWT yakni sesuai dengan realitas iman itu sendiri : اَلتَّصْدِيْقُ الْجَازِمُ الْمُطَابَقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيْلٍ  (pembenaran yang pasti yang bersesuaian dengan fakta berdasarkan dalil). Dengan demikian tercapailah keadaan “yaqin” pada diri seseorang yang ditunjukkan oleh aqalnya puas dan perasaannya tenteram, seperti yang ditunjukkan oleh ucapan Nabi Ibrahim as : بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي. Lalu secara otomatis akan terwujud dalam dirinya kesiapan untuk selalu taat kepada Allah SWT yakni istiqamah dalam mentaati Allah SWT. Inilah yang dimaksudkan oleh pernyataan Allah SWT :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور : 51)

 

juga ucapan Rasulullah saw:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ (رواه احمد)

[Ust. Ir. Abdul Halim]

You may have missed