Rumah tangga yang dibentuknya bukan sembarang rumah tangga, melainkan rumah tangga yang akan diboyong ke surga. Inilah perkara yang senantiasa diingatnya ketika menghadapi persoalan. Karenanya, ketika terjadi guncangan rumah tangga, mereka saling berpegangan, bukan justru saling berlepas tangan. Solusi dan prinsip dalam menyelesaikan persoalan pun senantiasa disandarkan pada akidah dan syariat Islam.Read More →

Anak sebagai penyenang hati ini tidak bermakna anak yang cakep, ganteng atau cantik fisik, sehat dll. Tetapi anak yang taat. Imam Hasan Al-bashri menyatakan: ‘Tidak ada sesuatu yang menyenangkan mata seorang muslim, selain melihat anak-anak, cucu-cucu dan saudara-saudaranya taat pada Allah SWT.Read More →

Masalah kesederajatan antara calon pengantin pria dan wanita sebenarnya tidak ada dasarnya sama sekali. Masalah ini tidak disinggung sama sekali kecuali dalam sejumlah hadits palsu. al-Qur’an sendiri menolak (Inna akromakum ‘indallahi atqookum) begitu juga sejumlah hadits shahih (“Laa fadhla li’Arabiyyin ‘alaa ‘ajamiyyin illaa bittaqwa).Read More →

Ada dua hal yang dilanggar. Pertama berzina. Berhubungan intim/seks dengan laki-laki yang tidak terikat perjanjian nikah. Kedua berzinanya dengan orang yang diharamkan untuk menikah. Karena salah satu keharaman laki-laki dalam menikah adalah ketika dia menggabungkan antara seorang perempuan dengan bibinya/tantenya. Persoalannya tidak selesai dengan anak ini dinikahkan.Read More →

Ini bisa terjadi ketika pernikahan hanya dilandasi rasa cinta karena naluri semata. Biasanya begitu bergairah dan menggebu-gebu. Sehingga memang akan distimulasi dengan fakta-fakta indah saja. Begitu ketemu fakta yang tidak indah, langsung cintanya memudar. Berbeda dengan kalau pernikahan itu dilandasi oleh komitmen pada suatu nilai.Read More →