Rembulan Separuh di Langit Palestina

Kupandangi lagi ukhti di hadapanku. Wajah cantiknya menyembul dari balik jendela yang setengah rusak. Ia tampak lusuh. Wajahnya berdebu dan jilbabnya kumal, compang-camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah itu tetap keras tak berubah. Cantik. Secantik rembulan. Dingin. Sedingin tiupan angin malam ini. Hatinya tersayat. Sepucuk senjata ada dalam genggamannya. Setetes air bergulir di pipinya.

Utang

Pukul empat sore di perpustakaan. Uahhh pegal! Sejak pagi tadi aku sudah menunggu perpustakaan ini buka. Kenapa juga pukul sembilan baru buka? Jam masuk di kampus ini kan pukul setengah delapan! Rutukku tadi pagi di depan perpustakaan. Kalau sedang dikejar menyelesaikan skripsi begini, menunggu memang amat sangat menyebalkan. Setengah jam pun berarti. Kubereskan buku-buku perpus yang berserakan menjadi tumpukan dan kutinggalkan di atas meja.

Adalah Rahasia

Selama perjalanan, mereka tidak saling bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Sambil menyetir, Fian menumpu kepala dengan tangan kanan ke jendela. Hujan yang turun sepuluh menit yang lalu membuat suasana hari itu bertambah suram bagi Resti. Sesekali dia menoleh ke arah adiknya, memastikannya baik-baik saja.

[puisi] Berita dari Jalur Gaza

Maka kebohongan besar bagi mereka yang menyerukan Jihad Diplomasi. Kejam bagi mereka yang menyerukan perdamaian. Bengis bagi mereka yang menyerukan rekonsiliasi. Pengecut bagi yang hanya bisa diam. Tak akan pernah ada damai dengan sekumpulan setan manusia!! Tak ada kesepakatan bagi para penjahat-penjahat dunia!! Tak ada lagi kompromi untuk saat ini untuk hancurkan HAM dan Demokrasi!! Karena hanya menjadi topeng-topeng untuk memperbudak manusia.