Friday, 10 July 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Sains, Atheis dan Agnostik

Pernah nggak melintas di wall FB kita, ajakan untuk main-main test IQ. Ah ya itu memang hanya main-main, iseng-iseng di tengah WFH (Work From Home). Ada panduan ukuran kecerdasannya, tapi percayalah tidak mewakili ukuran kecerdasan yang sesungguhnya, karena kecerdasan tidak hanya digambarkan dengan IQ. Hanya saja bolehlah untuk mengukur salah satu taraf kecerdasan otak.

Ngomong-ngomong soal kecerdasan, ini sebenarnya berkaitan dengan akal. Saya nggak akan membahas definisi akal, khawatir memanjang melebar. Yang jelas bagi kita sebenarnya adalah kemampuan akal itu karunia terbesar pada manusia. Mulai dari kapasitas dalam menangkap fakta, menyimpan, merekam, mendownloadnya kembali data tersebut, menganalisis dan melakukan penilaian.

Secara umum seluruh manusia punya potensi berpikir ini. Tapi satu sama lain nggak sama dalam kekuatan dan kecepatannya. Sebagaimana hardware computer, ada yang biasa, cukup canggih, lumayan canggih, sangat canggih, super canggih dan super super canggih. Kemampuan dasar ini mempengaruhi software yang akan dimasukkan. Ada yang hanya mampu menampung sedikit software dan ada yang bisa sangat banyak.

Namun secara umum manusia diciptakan dengan rata-rata cerdas. Dalam kondisi yang nggak rata-rata adalah yang sangat tidak cerdas dan yang sangat cerdas. Ini hanya pencilan. Nggak normal. Nilai data ekstrim yang berbeda dengan lainnya.

Walaupun dikatakan termasuk juga pencilan, manusia sangat cerdas sebenarnya menjadi keunggulan dalam spesiesnya. Spesies paling sempurna yang diciptakan Sang Maha Kuasa untuk menjadi pemimpin di bumi.

Pemimpin di bumi yang dimaksud adalah memimpin dan bertanggung jawab atas semua Kingdom of Life (hehehe pinjem bahasa biologi), yang meliputi Animalia, Plantae, Protista, Eubacteria, Archaebacteria dan Fungi.

Kalau terjadi kerusakan di muka bumi, kebanyakan itu karena ulah manusia. Kenyataannya begitu kok. Lah siapa juga yang suka menggunduli hutan, mengekspoitasi tambang-tambang, membangun bangunan-bangunan di daerah resapan air, mengotori lingkungan dengan limbah-limbah pabrik, dan lain-lain.

Salah satu contoh akibat ulah manusia yang terkini adalah mewabahnya virus Covid19. Ini fakta. Covid 19 itu fakta. Menjadi pandemic yang menyebabkan banyak kematian manusia juga fakta. Rekayasa genetika di laboratorium terkait dengan Covid19 juga fakta. Bukankah merajalelanya di alam, walaupun belum terbukti, itu juga karena ulah manusia sendiri. Faktanya virus itu berkembang tak terkendali, bahkan mampu menduplikasi dan merekayasa protein-proteinnya dengan energi yang ada di alam, itu juga faktanya karena kelalaian manusia sendiri.

Sebelum pengantarnya kemana-mana, to the point lah sekarang ke judul tulisan. Ini tentang Saintis.

Salah satu kelompok manusia dengan karunia kecerdasan yang tinggi adalah Saintis. Mereka ini sesungguhnya berhadapan dengan ujian yang lebih sulit dari manusia-manusia dengan kecerdasan normal.

Allah Ta’ala memberinya potensi, maka Dia akan menguji. Sebagaimana jenjang dalam, S1, S2, S3, hingga Profesor, maka akan diuji sesuai disiplin ilmunya.

Namun saya tidak sedang membicarakan disiplin ilmu, seperti fisika, kimia, matematika, biologi dll. Ujian yang dimaksud di sini adalah ujian iman. Terkadang kecerdasan berbanding lurus dengan ngeyel. Akal harus puas dulu baru tenang.

Yang saya bicarakan sekarang adalah Saintis produk Barat atau setidaknya yang bersentuhan dengan Dunia Barat.

Bagi dunia Barat (yang didominasi pemikiran keagamaan Yahudi dan Nasrani), sains dan agama selalu bertentangan. Ini tentu ada latar belakangnya. Secara umum muncul dari penyimpangan para penganut agama itu sendiri. Ketika agama sudah mengalami distorsi oleh para penganutnya, maka terjadilah pertentangan antara sains dan agama.

Akal yang seharusnya mampu menerima keduanya, akhirnya jadi seolah bertentangan. Lompatan dalam sains selalu menimbulkan pertentangan dari pihak gereja. Untuk itulah muncul istilah kebangkitan sains menggantikan era agama. Sains membunuh agama. Seperti kata Si Nietzsche filsuf Jerman yang menjadi idola para Saintis Atheis.

Kalau para Saintis Atheis jadi terkenal, itu karena dunia media sekarang didominasi Yahudi. Percaya atau tidak, realitanya begitu. Makanya saintis yang dipublish media (Yahudi) adalah sosok-sosok semacam Fisikawan Dunia Stephen Hawking pencetus teori BigBang. Hawking ini orang pertama yang memaparkan teori kosmologi, yang dijelaskannya dengan menggabungkan teori relativitas umum dan mekanika kuantum. Masih katanya Hawking, sains dan agama bukanlah dua hal yang bisa disatukan.
Setelah Hawking, fisikawan atheis terkenal lagi adalah Peter Higgs, penemu
Higgs boson atau yang dikenal dengan nama partikel Tuhan. Sebenarnya nama temuannya bukan partikel tuhan. Tapi karena Editor kurang suka dengan istilah partikel sialan (Goddamn Particle) seperti penyebutan penemunya, akhirnya sang editor menggantinya dengan God Particle. Atas temuannya ini, ia meraih hadiah Nobel tahun 2013.

Beberapa saintis lain yang ngaku atheis antara lain Niels Bohr penerima hadiah nobel yang berasal dari Denmark. Ia salah satu pencetus Teori Quantum dan Struktur Atom. Baginya Tuhan adalah pemikiran yang asing.

Selanjutnya Richard Dawkins, penulis, ahli etologi, biologi evolusioner dan pengetahuan umum asal Inggris. Lebih dari Atheis, ia seorang Anti Islam. Atheis yang dipopulerkannya katanya muncul dari pengetahuan mendalamnya tentang sains (yah, ini fitnah terhadap sains).

Kemudian yang cukup terkenal dalam bidangnya adalah Sam Harris. Ia ilmuwan neurosains namun juga pengkritik agama. Ada lagi Fancis Crick, seorang ahli biologi molekuler, biofisika dan neurosains berkebangsaan Inggris. Crick meraih hadiah nobel karena meneliti struktur doble helix dalam DNA. Konon salah satu pendorong penelitiannya adalah rasa ketidaksukaan pada agama. Hadeuh…., inilah kenyataan media dunia dikuasai yahudi. Termasuk penghargaan dunia untuk para saintis.

Akhirnya banyak orang bertanya, mengapa saintis cenderung atheis? Paling tidak, ya agnostic. Percaya Tuhan, tapi menganggap Tuhan tak punya peran. Artinya, soal realita dan fakta serahkan pada saintis. Kok bisa ya?

Tentunya pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul ketika mereka menggunakan perspektif sains Barat . Sains Barat itu menjadikan rasionalitas sebagai satu-satunya metode untuk memahami realita. Sains barat bebas nilai. Sains Barat itu nggak percaya hal ghaib. Hal ghaib itu khayalan, ilusi atau imajinasi. Nggak ada parameter untuk mengukur hal yang ghaib.

Begitulah sains di dunia saat ini yang mau tak mau mengikut pada paradigma sains Barat.

Sebenarnya ini juga menjadi ujian bagi Saintis Muslim. Makanya dalam dunia Islam, belajar Aqidah itu harus lebih dulu daripada sains. Belajar Al Qur’an harus sejak usia dini. Sains yang memasukkan informasi perbandingan penemuan-penemuan mutakhir baru boleh dipelajari di tingkat Sekolah Menengah Atas. Sains perpektif Islam boleh dikenalkan di tingkat SMP, tentunya setelah Al Qur’an dan Tsaqofah Dasar Islam.
Kalau tidak, yah sama saja menjerumuskan pada produk saintis yang berat menjalani ujian-ujian hidup. Seperti para saintis Barat itulah.

Seperti solusi dunia terhadap wabah Covid19 sekarang, tentunya mengacu pada Saintis Dunia yang notabene masih rasionalis-empirik.

Menurut sains Barat Urusan Virus adalah urusan empirik yang harus dipecahkan secara rasionalis.

Akhirnya apa yang diarahkan oleh nash-nash syar’iy yang bersifat non empirik, sangat sulit diterima rasio.

Contoh:
1. Vaksin itu rasional
2. Phisical Distancing itu rasional
3. Masker itu rasional
4. Lock Down masih rasional
5. Vitamin baik alami atau buatan masih rasional
6. Sholat Shubuh berjama’ah itu irrasional
7. Zikir pagi dan petang irrasional
8. Membaca Al Qur’an irrasional
9. Sedekah itu irrasional

Yang dimaksud rasional itu menurut saintis, bersifat solutif. Sementara yang irrasional bersifat nggak nyambung sama solusi. Agak imajinatif, katanya begitu.

Yah begitulah ujian bagi Saintis Muslim.

Padahal dalam perspektif Islam itu sebaliknya.
Kalau ada masalah, maka mendekatlah kepada Sang Pencipta. Kita ini hanyalah hambaNya. Sangat tak berarti di hadapanNya.

Mendekatlah dulu dengan doa, zikir dan sholat. Tambahlah kedekatan dengan sedekah dan dakwah.

Setelah itu dengan Basmalah beramallah sesuai ilmu yang telah dikaruniakanNya kepada masing-masing kita.

Jadi….

Bismillah dulu, sebelum masuk Laboratorium. Laa haula wa quwwata illa billah ketika melakukan percobaan dan penelitian. Alhamdulillah ketika diberi kemudahan dalam menjalankan penelitian yang sejalan hipotesis. Allahu Akbar ketika melihat fenomena sains yang menakjubkan.

Robbanaa Maa Khalaqta Hadzaa baathilaa. SubhanaKa faqinaa adzaabannaar. “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.

Itulah Saintis sejati. Ilmu sains akan mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka.

Intermezzo:

Nulis ini sambil terus konfirmasi sama suami. Bener nggak sih saya. Lebih lega kalau nulis tulisan yang diridhoi suami … (Yeah Wanita Sholihah 😆)

Kalau uji argumentasi biasanya sambil WhatsApp-an sama jodoh pertama suami (R1);

Maklum, kamad saya itu paling bisa memasukkan data-data yang bersifat menggugurkan atau mengguncangkan argumen. Pertanyaannya juga buanyak… (Kanan kiri depan belakang)😁👍. Infonya juga lumayan. Maklum pertemanan sosmednya lebih banyak.

Betewe, saya nyinggung ah aspek kehidupan poligami kami, yang ternyata ada manfaatnya untuk saling menguatkan dan menambah ilmu. Diskusi kami kadang nggak hanya soal keluarga, anak-anak dan dapur kerajaan. Tapi juga masalah politik serta konspirasi.

Nah sekedar sekilas info di tengah amburadulnya berita-berita poligami.

Bogor, 10 Juni 2020

Lathifah Musa

You may have missed