Friday, 10 July 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Doa, Dzikir, Sains, dan Covid-19

Doa, adalah ibadah. Doa juga adalah senjatanya kaum mukminin. Keutamaan doa mengalahkan semua hitung-hitungan paling rumit sekali pun yang bisa dibuat oleh manusia. Ikhtiar tentu ada tuntunannya. Bahkan sejatinya doa itu juga bagian dari ikhtiar.

Doa adalah ibadah berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS Ghafir [40]: 60)

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata: Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya ‘an ‘ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.

Mengenai dzikir, kita tentu sudah tak asing lagi. Allah Ta’ala berfirman,

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS al-Ahzab [33]: 35)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Dzikir yang banyak adalah dengan membaca tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), tasbih (subhanallah), takbir (Allahu Akbar) dan perkataan lainnya yang mendekatkan diri pada Allah. Yang paling minimal adalah kita merutinkan dzikir pagi-petang, dzikir ba’da shalat lima waktu, dzikir ketika muncul sebab tertentu. Dzikir ini baiknya dirutinkan di setiap waktu dan keadaan.”

Khusus dzikir pagi dan petang, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42)

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS al-Ahzab [33]: 41-42)

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat Shubuh lantas ia mengucapkan “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir” sebanyak 10 kali maka ia seperti membebaskan 4 budak, dicatat baginya 10 kebaikan, dihapuskan baginya 10 kejelekan, lalu diangkat 10 derajat untuknya, dan ia pun akan terlindungi dari gangguan setan hingga waktu petang (masaa’). Jika ia menyebut dzikir yang sama setelah Maghrib, maka ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu.” (HR Ahmad)

Doa dan dzikir itu, bagi seorang muslim, adalah perkara yang ma’lum minad diin bidh dharurah. Maksudnya adalah perkara yang jelas dan terang-benderang, yang diketahui hukumnya oleh kaum muslimin, baik kalangan alim maupun yang ‘awam. Sebagaimana wajibnya shalat lima waktu, wajibnya puasa Ramadhan, haramnya zina dan haramnya khamr.

Bagaimana dengan sains? Memang tidak semua manusia, termasuk tidak semua muslim, diberikan kelebihan oleh Allah Ta’ala dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak semua orang bisa menjadi saintis atau ilmuwan. Begitu pula tidak semua kaum muslimin mampu menjadi ulama. Sebab, banyak syarat dan ketentuan yang diberlakukan untuk menjadi orang-orang dengan keunggulan seperti itu dibanding kebanyakan manusia.

Namun persoalannya, bukan berarti ilmu pengetahuan dan teknologi adalah segalanya. Sehingga tidak bisa diganggu-gugat. Padahal, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selamanya netral dan bebas nilai. Maka, pandangan ilmuwan muslim dengan ilmuwan kafir dan ilmuwan atheis sangat berbeda terhadap kehidupan. Pada tataran fakta dan analisa dengan berbagai fenomena di alam bisa jadi sama. Tetapi pada penilaian terhadap fakta dan cara menganalisanya akan berbeda antara ilmuwan muslim dengan ilmuwan kafir dan ilmuwan atheis.

Contoh, tujuan Stephen Hawking dalam memahami alam semesta. Ia pernah berujar, “Tujuan saya sederhana, yaitu memahami secara menyeluruh tentang alam semesta seperti apa adanya dan mengapa hal itu ada.”

Atas dasar keinginannya tersebut, akhirnya Hawking mengemukakan teori Big Bang. Ia menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari sebuah ledakan besar.

Dan, Hawking pun memberikan pernyataan, “Saat orang bertanya apakah Tuhan menciptakan alam semesta, saya mengatakan bahwa pertanyaan itu tak masuk akal. Waktu tak eksis sebelum Big Bang, jadi tak ada waktu bagi Tuhan untuk menciptakan semesta,” katanya.

Mengenai teori Big Bang (Ledakan Besar) konon kabarnya banyak ilmuwan yang sepakat. Fakta dan analisanya sama. Namun, dalam penilaian terhadap fakta dan cara menganalisanya, antara ilmuwan muslim dengan ilmuwan kafir dan ilmuan ateis pasti berbeda. Bagi seorang muslim, cukup menilainya dengan al-Quran, khususnya surah al-Anbiya ayat 30. Firman Allah Ta’ala,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS al-Anbiya [21]: 30)

Contoh lainnya, tentang pandemi Covid-19. Tentu saja, para ilmuwan dan praktisi di bidang terkait virus yang paling tahu bagaimana memahami fakta, menganalisa, dan mencari solusinya. Bisa jadi semua ilmuwan di bidang itu sepakat memiliki penilaian yang sama dalam penanganan pandemi tersebut.

Namun demikian, bukan berarti tak ada peluang solusi lain terhadap masalah itu. Bagi ilmuwan muslim, khususnya di bidang tersebut, semestinya memiliki penilaian tersendiri terhadap fakta, sesuai dengan akidah Islam. Cara menganalisis dan menangani problemnya juga memadukan antara sains dan agama. Tidak dipisah. Apalagi menganggap bahwa sains tak bisa diganggu gugat, dan tidak tunduk pada keyakinan manusia.

Prosedur penanganan terhadap penyakit, termasuk yang pandemi, bagi seorang muslim yang memiliki akidah lurus, hal utama adalah ia akan tawakal kepada Allah Ta’ala.

Dalam kasus wabah Coronavirus ini, berarti jelas harus ada usaha juga dalam pengertian menjaga kesehatan diri, ya. Sejak dulu Islam sudah punya tuntunan jika terjadi wabah. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Amir bin Saad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhuma, dari ayahnya bahwa ia pernah mendengar sang ayah bertanya kepada Usamah bin Zaid, Äpa hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah berkaitan dengan wabah thaun?”

Usamah menjawab, “Rasulullah pernah bersabda: Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan Bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim)

Selain menjaga kesehatan diri dan mengikuti penanganan yang ditetapkan para ahli di bidang tersebut, jangan lupakan juga usaha dalam bentuk dzikir dan doa serta meninggalkan maksiat.⁣

Menurut Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’.”

Ibnu Rajab rahimahullah juga mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Itu sebabnya, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya.

Saya coba ambil penjelasan dari Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Kitab Fawaidul Fawaid (terjemahan). Beliau menuliskan bahwa bentuk tawakal hamba yang paling agung adalah tawakal dalam hal memohon hidayah, memurnikan tauhid, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan memerangi para pelaku kebatilan. Itulah tawakal para Rasul Allah dan para pengikut utama mereka.⁣

Rahasia dan inti dari tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala semata. Mengupayakan suatu sebab tidak menodai tawakal selama hati tidak bergantung dan tidak condong kepada sebab tersebut. Karena, meskipun seseorang mengucapkan: “Aku bertawakal kepada Allah,” namun tawakalnya itu tidak ada artinya selama hatinya masih bergantung, condong, dan lebih percaya kepada selain Allah.⁣

Misalnya nih, agar terhindar dari Coronavirus, lalu hanya mengandalkan bersih-bersih diri, menjadikan social distancing satu-satunya cara memutus mata rantai penyebaran virus, lockdown jadi semacam keyakinan pasti untuk meyelesaikan wabah ini. Sehingga shalat di masjid shaf-nya jadi lebar-lebar banget padahal shalat jamaah. Tidak begitu. Karena, itu artinya kita masih percaya bahwa sebab tersebut sebagai keyakinan pasti, bukan tawakal kepada Allah, walau bilang: “ini tawakal kepada Allah”.

Jadi, tawakal hanya kepada Allah dan jangan sampai suatu sebab untuk mewujudkan keinginan menodai tawakal kita kepada Allah karena lebih diyakini ketimbang keyakinan kepada Allah Ta’ala.

Kesimpulan: Bagi kita, kaum muslimin (baik yang alim maupun yang awam), antara doa, dzikir, dan sains sebenarnya bisa digabungkan pelaksanaannya. Tidak dipahami sebagai sesuatu yang terpisah. Apalagi hanya mengunggulkan sains dan menolak tunduk pada keyakinan (agama) dalam penanganan berbagai problem kehidupan manusia.

O. Solihin
*dari berbagai sumber

You may have missed