Persatuan Umat Islam Sedunia, Solusi Perpecahan dan Pertikaian

a100_3018

Ilustrasi | Ketika ibadah haji bisa bersatu, seharusnya dalam urusan lain juga bisa bersatu dan bersama.

Saat ini dunia Islam masih tercerai berai. Dunia Islam masih terkotak-kotak menjadi wilayah yang terpisah. Hal ini membuat musuh-musuh Islam mudah mencengkeramkan kukunya untuk mengendalikan kaum muslimin. Kita bisa melihat, negeri-negeri muslim masih banyak yang tergantung kepada Asing. Negeri-negeri yang ingin bangkit mandiri, akhirnya diperangi oleh Kafir Penjajah. Inilah akibat persatuan kaum muslimin yang hilang. Seperti apa sih hakekat persatuan kaum muslimin sedunia? Berikut adalah wawancara dengan Ustzh. Ir. Lathifah Musa. Beliau adalah Pemimpin Redaksi Majalah Udara VOI

Ustadzah, bagaimana sebenarnya kondisi terakhir umat Islam saat ini?

Umat Islam sebenarnya terkategori banyak jumlahnya. Namun jumlah yang banyak ini tidak sebanding dengan kekuatannya. Umat Islam masih mudah dipermainkan oleh negara-negara Kafir. Kita bisa melihat bagaimana Israel seenaknya saja menjarah tanah palestina dan membunuhi warga. Kita bisa melihat bagaimana para pejuang HAM yang biasanya berkoar-koar untuk satu orang yang dianiaya, sekarang tak bersuara melihat pembantaian ratusan orang, khususnya wanita, anak-anak, lansia dan orang cacat. Kita bisa melihat bagaimana AS diam melihat ulah Israel, bahkan diam-diam mengirim senjata terbarunya untuk diujicobakan di Israel. Kita bisa melihat PBB yang seperti tak bergigi, bisu dan tuli, ketika yang dibantai adalah kaum muslimin. Inilah kondisi umat Islam terakhir, yang walaupun mulai muncul kesadaran dan kepekaannya untuk saling membantu saudaranya yang berbeda negara, tetapi tetap saja kekuatannya lemah karena tak ada kesatuan dan persatuan.

Ustadzah, kalau kita lihat, persatuan umat sekarang sudah mulai tumbuh. Sebagai contoh, ketika Gaza diserang Israel, maka solidaritas kaum muslimin di Indonesia cukup tinggi. Bantuan berdatangan dari negeri-negeri muslim, kecaman bertubi-tubi ditujukan kepada kedutaan Israel di berbagai negara. Bagaimana dengan perkembangan yang menggembirakan ini?

Alhamdulillah, perkembangannya menggembirakan. Kita melihat, siapa sih muslim yang tidak peduli dengan Gaza? Siapa muslim yang tidak menghormati tempat ziyarah ketiga yang diperintahkan, yakni Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis? Siapa sih muslim yang tidak mengecam Israel atas kebiadabannya membantai warga Gaza? Kalau ada muslim yang tidak peduli, bahkan mengecam sikap kepedulian ini, maka kemuslimannya dipertanyakan, atau sudah pasti dia adalah orang munafik.

Namun harus pula kita sadari bahwa kepedulian yang hanya bersifat individu, atau kelompok atau organisasi tidak akan menyelesaikan masalah. Ibaratnya seperti sebuah kapal yang berlubang, maka air masuk dan kita tetap berusaha mengeluarkan airnya dengan masing-masing kemampuan. Yang punya ember, bantuannya lebih besar, yang punya gayung dengan gayung yang ada, yang tidak punya apa-apa maka hanya dengan cidukan kecil tangannya. Tapi itu hanya untuk bertahan agar kapal tidak tenggelam. Sementara musuh-musuh Islam terus berusaha melubangi karena ingin menenggelamkan kapal. Kapal bertahan, tidak bergerak bahkan terkadang limbung hampir tenggelam. Itulah pengandaiannya. Yang seharusnya kita lakukan adalah memperbaiki kapal, menambal lubang dan menguatkannya sehingga kapal beserta seluruh penumpangnya bisa berlayar meninggalkan musuh di belakang atau bahkan menghabisinya.

Saat ini, kaum muslimin tidak punya sebuah kapal yang kuat. Kita terombang-ambing di dalam sampan-sampan kecil yang minim kekuatan (politik). Kebanyakan sampan pun masih berlubang. Kaum muslimin memerlukan satu bahtera untuk berlayar bersama di bawah satu nakhoda. Kita memerlukan Kekhilafahan, yang mampu mengayomi seluruh muslim sedunia.

Apakah persatuan umat hanya bisa terwujud dalam sebuah negara yang satu? Apakah tidak seperti PBB saja?

Setiap amal kita harus bersandar pada hukum syariat Islam. “Wa maa aataakumurrosuulu fakhuzhuuhu wa maa nahaakum anhu fan tahuu: Apa saja yang datang dari Rasul maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah.

Fakta menunjukkan bahwa PBB hanya alat negara adidaya. Keberadaan badan dunia seperti OKI tidak bisa berbuat apa-apa terhadap berbagai krisis di negeri-negeri muslim.

Terlebih lagi, Rasulullah Saw telah mencontohkan sebuah sistem kenegaraan yang khas, yang istimewa, berbeda dengan kerajaan, imperium, kekaisaran dan demokrasi. Sistem tersebut adalah Khilafah Islamiyah yang diterapkan secara istimewa oleh Khulafa’ur rasyidin, diteruskan dan diperkaya oleh para khalifah sesudahnya. Terbukti hanya sistem Khilafah yang mampu menjadikan kaum muslimin bangkit dan menjadi pemimpin dunia.

Dalam kondisi dan situasi seperti sekarang, ketika masing-masing kelompok muslim sulit menyatukan pendapat, khususnya dalam mewujudkan negara Khilafah yang didambakan, apa yang seharusnya dilakukan?

 

  1. Terlebih dahulu kita harus mensyukuri setiap perkembangan perjuangan kaum muslimin di dunia. Karena semua ini adalah karunia Allah SWT. Bersyukurlah apapun yang dikaruniakan Allah SWT terhadap yang sedikit, Insya Allah pasti Allah SWT akan menambah karuniaNya. Salah satu yang harus kita syukuri adalah penerimaan umat terhadap pentingnya Khilafah Islamiyah bagi umat Islam. Dahulu umat masih membanggakan demokrasi. Tetapi kini umat mulai mencampakkan demokrasi.
  2. Dengan demikian kita menyadari bahwa perbedaan kelompok-kelompok pejuang muslim terletak pada metode dan cara untuk menegakkan kekhilafahan. Ada yang berpendapat, tidak mengapa membentuk imarah-imarah khashshah (kepemimpinan wilayah) di negeri-negeri tempat mereka berjuang. Karena itulah kapasitas kemampuan yang mereka miliki. Ada lagi yang berpendapat bahwa kita wajib menegakkan kekhilafahan secara langsung, berapapun wilayah yang dikuasai. Ada pula yang berpendapat bahwa bila penegakannya di wilayah-wilayah tertentu yang memenuhi syarat keluasan wilayah, maka bisa berbentuk imarah khashshah (misalnya seperti Malaysia) atau langsung berbentuk khilafah (misalnya seperti Indonesia, Mesir dan Syam (gabungan negara). Malaysia memenuhi syarat kekhilafahan apabila bergabung dengan Indonesia. Palestina bila merdeka, mampu membentuk Imarah Khashshah. Akan memenuhi syarat kekhilafahan bila bergabung dengan wilayah-wilayah lainnya. Demikian pemetaan penegakan kekhilafahan yang menjadi analisa kelompok-kelompok dakwah yang berjuang. Masing-masing pendapat ini memiliki argumentasi yang cukup kuat dengan fakta-fakta yang secara langsung mereka hadapi. Namun perlu diperhatikan bahwa perbedaan ini tidak mendasar, karena selayaknya mampu diselesaikan dengan duduk bersama dan berdiskusi demi kepentingan Islam dan kaum muslimin.
  3. Di tengah perbedaan ini, kita harus tetap meyakini bahwa Allah SWT yang akan berkehendak menetapkan siapa di antara orang-orang beriman yang layak mendapatkan kemenangan. Manusia boleh berkehendak dengan kekuatan dan kedalaman ilmunya, dengan kefasihan bahasanya, dengan ketajaman analisanya, dengan pembacaan peta politiknya yang mengagumkan. Tetapi Allah SWT yang Maha berkehendak. Dia yang akan menurunkan kemenangan melalui tangan-tangan hambaNya yang paling ikhlas, yang paling bersih hatinya, yang paling bertaqwa kepadaNya dan yang paling banyak pengorbananNya. Kita tidak tahu siapa mereka sebelum kemenangan itu datang. Karena mereka biasanya adalah orang-orang yang menyembunyikan jasa-jasanya, tidak mengikrarkan kelebihannya dan tidak berbangga kepada manusia dengan kemenangannya. Mereka orang-orang yang paling takut kepada Allah SWT. Mereka adalah para Ulama.
  4. Untuk itu yang paling mampu menyatukan umat adalah Para Ulama. Merekalah orang-orang terbaik. Merekalah yang akan menentukan siapa di antara mereka yang terbaik untuk memimpin umat. Keutamaan mereka bukan karena diklaim oleh kelompoknya saja, tetapi diakui oleh sekalian Ulama sedunia. Kita sangat berharap dengan tampilnya Para Ulama ini. “Al Ulamaa Waratsatul Anbiyaa”
  5. Bagi kita yang masih memiliki keterbatasan ilmu, tentu masih harus terus mempelajari ilmu Islam (Al Qur’an dan Hadits) kepada Para Ulama yang ikhlas berdakwah dan berjuang. Jangan putus asa untuk terus mencari ilmu.
  6. Terus memantau perkembangan yang terjadi di dunia Islam. Jangan pernah kehilangan berita tentang apa-apa yang terjadi pada kaum muslimin. Saat ini adalah masa, saat peristiwa-peristiwa penting sedang mengukir sejarah besar di akhir zaman.
  7. Memohon kepada Allah SWT agar kita menjadi bagian dari golongan kanan (ahlul jannah) yang disebutkan dalam al Qur’an. “tsullatun minal aakhiriin; segolongan besar dari orang-orang kemudian” (Al Waqi’ah). Maka tidak tersisa lagi rasa ujub dan berbangga atas kelompok-kelompoknya. Orang-orang yang beriman akan bersatu. Semoga Allah SWT melapangkan hati kita semua. Aamin

*gambar dari sini

Tags:
author

Author: