AS Ubah Strategi Militer, Bagaimana Masa Depan Dunia?

Pembaca yang budiman, AS mengumumkan perubahan strategi militernya. Apa dan mengapa terjadi perubahan ini dan bagaimana pengaruhnya bagi masa depan dunia? Kita akan membahasnya bersama Ustzh. Ir. Lathifah Musa. Beliau adalah Pemimpin Redaksi Majalah Udara Voice Of Islam.

Ustadzah, apa benar AS mengubah strategi militer?
Ya benar. AS Mengubah Strategi Militer. Presiden AS Barack Obama  mengumumkan perubahan strategi militer AS terkait pemangkasan anggaran pertahanan.

Obama sesumbar, “ Militer kami akan menjadi lebih ramping, tetapi dunia harus tahu bahwa Amerika Serikat akan tetap mempertahankan keunggulan militer kami. “  Ketika mengumumkan strategi baru ini, Obama didampingi oleh Menteri Pertahanan Leon Panetta dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Martin Dempsey di Pentagon, Washington DC, Kamis (5/1). Berbeda dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya, yang satu sama lain tak jarang memberikan pernyataan berbeda, kali kini para petinggi Militer AS ini tampil bersama di Pentagon, tempat yang menjadi representasi Markas Besar Pertahanan Keamanan AS.

Sebenarnya apa alasan AS mengubah strategi militernya?
Dalam pernyataannya Krisis Ekonomi yang menghantam AS tahun lalu membuat AS memotong anggaran  Departemen Pertahanan AS  (sekitar Rp 4,5 kuadrilyun) dalam sepuluh tahun kedepan. Sekalipun  Menteri Pertahanan AS menyatakan bahwa, hal ini bukan yang utama, namun alasan krisis keuangan (kondisi dalam negeri) menjadi satu faktor yang memaksa pemerintah segera bertindak  mengubah strategi baru terkait kekuatan militer AS.

Apa point-point penting dari perubahan ini?
Dokumen berjudul “Mempertahankan Kepemimpinan Global AS: Prioritas Pertahanan Abad 21” yang terdiri dari delapan halaman, antara lain menyebutkan:

  1. Perubahan situasi dunia mengharuskan Pentagon mau tidak mau mengubah strateginya. Perubahan dunia yang dimaksud adalah perubahan di Asia, terutama pertumbuhan kekuatan militer China dan ambisi nuklir Iran. Dokumen strategis baru Pentagon ini bahkan terang-terangan menyebut Iran dan China sebagai salah satu tantangan masa depan. “Negara-negara seperti China dan Iran akan terus mengejar sarana (perang) asimetris untuk melawan kemampuan proyeksi kekuatan kita,” demikian kalimat yang tercantum dalam dokumen.
  2. Pengurangan jumlah pasukan darat. Dengan berakhirnya Perang Iraq dan Perang Afghanistan, AS akan menjauh dari operasi kontra-pemberontak (counter-insurgency) dan misi pendudukan jangka panjang di suatu negara. Jumlah pasukan infanteri Angkatan Darat dan Korps Marinir AS akan dikurangi. Saat ini jumlah pasukan darat AS yang masih aktif mencapai 565.000 prajurit AD dan 202.000 prajurit Marinir. Para pengamat memperkirakan jumlah pasukan darat  akan dikembalikan ke masa sebelum serangan 11 September, yakni 482.000 prajurit AS dan 173.000 prajurit Marinir.
  3. AS akan menarik sebagian pasukan –diperkirakan satu brigade tempur AD AS berisi 3500 prajurit—yang ditempatkan di Eropa.
  4. Dengan perubahan ini, AS meninggalkan doktrin lama bahwa militer AS harus selalu siap menghadapi dua perang besar sekaligus. Sebagai gantinya strategi baru ini menekankan, AS masih akan mampu menghadapi satu perang besar di suatu wilayah sambil menggelar operasi pencegahan konflik di satu wilayah lainnya.
  5. Mengenai pemusatan perhatian ke kawasan Asia-Pasifik, anggaran pertahanan AS akan difokuskan untuk pengembangan dan produksi pesawat tempur, kapal perang dan persenjataan serta sistem pengintaian teknologi tinggi. Juga disebutkan bahwa AS akan mengurangi arsenal nuklirnya.

Bagaimana reaksi masyarakat AS sendiri menanggapi perubahan strategi negaranya?
Tentangan keras berasal dari Partai Republik menjelang Pemilu AS tahun ini. Para kandidat presiden dari Partai Republik masih menginginkan fokus strategi AS masih mementingkan di Timur Tengah. Kampanye kandidat capres AS masih menginginkan perhatian penuh negara AS pada eksistensi negara Israel di Palestina.

Partai Republik yang didominasi oleh para pengusaha multinasional ini mengecam kebijakan Obama yang mengalihkan fokus perhatian ke Asia Pasifik. Partai Republik  memandang AS tak perlu memperhitungkan China. Negara Komunis itu, menurut mereka, kelak juga akan jadi abu sejarah. Pengalihan strategi hanya akan melemahkan negara AS sendiri.

Menanggapi kecaman rival Partai Demokrat ini, para pengamat dunia memandang alasan para petinggi Partai Republik ini justru mengabaikan realita yang ada. Di satu sisi, banyak pihak  memahami bahwa perusahaan-perusahaan nasional  yang dimiliki oleh para kapitalis dari Partai Republik ini banyak bertebaran di Timur Tengah. Mulai dari perusahaan keluarga Bush, Dick Cheney, dan lain-lain yang bergerak di bidang migas. Militer sesungguhnya menjadi alat para kapitalis yang bergantian memimpin Negara Amerika Serikat untuk menjaga dan melindungi kepentingan mereka, khususnya perusahaan-perusahaan besar mereka yang telah mengeruk dan merampas tambang-tambang milik kaum muslimin.

Bagaimana prediksi masa depan dunia Islam?

Sepuluh tahun kedepan, ketika AS menarik sebagian besar pasukannya di Timur Tengah, akan menjadi kesempatan emas bagi umat Islam, khususnya umat Islam di Timur Tengah untuk menegakkan Khilafah dan mengambil alih seluruh aset AS di sana. Ini pula yang tampaknya dikhawatirkan oleh para kapitalis Partai Republik. Bagi mereka, hal ini juga menjadi ancaman bagi eksistensi Negara Israel.

Tidak sedikit pula pengamat yang menilai bahwa penjualan senjata besar-besaran dari AS ke penguasa-penguasa Negara Arab sekarang akan menjadi bumerang bagi Negara AS sendiri. Penguasa Negara-negara Arab yang menjadi boneka AS saat ini sudah melemah pengaruh dan kekuatannya di hadapan rakyat mereka. Kekuatan umat terus bergerak. Bukan tidak mungkin kekuatan senjata ini akan diambil alih rakyat dan dikembangkan menjadi senjata yang jauh lebih menggentarkan.

Sekalipun AS dan Negara-negara Barat mengklaim pergerakan rakyat adalah bentuk kemenangan demokrasi, namun tidak dipungkiri bahwa kekuatan aqidah pulalah yang menggerakkan umat secara bersama. Karena bila hal tersebut diklaim sebagai kemenangan demokrasi, maka tentu akan berkorelasi positif terhadap pamor AS yang dikenal sebagai kampiun demokrasi di dunia. Tapi kenyataannya tidak.

Bagaimana kaum muslimin menyikapi perubahan ini?

Sumber kekuatan rakyat adalah Islam. Itu pula alasan kebencian terhadap penjajahan AS atas diri mereka. Kekuatan ini suatu saat akan membuncah pada saat muncul seorang pemimpin yang mampu menyatukan umat seluruhnya. Kepemimpinan yang mampu meleburkan jamaah kaum muslimin, tanpa memandang lagi aspek kelompok, partai, harakah, organisasi massa dan madzhab-madzhab. Kepemimpinan yang tumbuh dari keikhlasan untuk menyatukan umat, dan kerendahan jiwa karena terlalu takjub dengan Kebesaran dan Keagungan Allah SWT. Kepemimpinan yang tidak ternodai dengan sedikitpun keinginan untuk menonjolkan diri dan kebanggaan terhadap kehebatan kekuatan yang dimiliki.

Setiap saat tanpa henti mengikuti berita-berita yang menyangkut konstelasi politik internasional dan perubahannya, kita akan semakin meyakini bahwa pergerakan dunia sedang berjalan ke satu titik. Bukan manusia yang mengaturnya. Manusia bahkan tidak punya kekuatan untuk mengendalikan. Manusia hanya mampu bergerak semampunya sesuai perubahan masa. Manusia hanya mampu berbuat dan meraih yang terbaik untuk dirinya, tetapi ada nasib yang juga sedang bergerak pasti.

Untuk itu memang ada dua hal penting yang harus kita senantiasa ikuti dalam menempuh kehidupan akhir zaman ini. Kenyataannya kedua hal tersebut kini sedang berjalan berdampingan.

Yang pertama adalah mengikuti berita-berita untuk mengetahui arah dunia bergerak. Yang kedua menelaah nash-nash Al Qur’an dan Hadits yang memberitakan tentang nasib pada masa ini.

Point pertama memang tidak bisa diyakini secara pasti, namun hanya bisa diprediksi.  Semakin cermat dan detil pengamatan yang dilakukan, akan semakin mendekatkan prakiraan pada titik yang tepat. Yang kedua, terkait nash-nash syar’iy, maka inilah yang tidak boleh dilepaskan dari genggaman. Karena inilah yang akan menjadi petunjuk bagi umat manusia untuk menyelamatkan diri dan kehidupannya menuju akhir kehidupan yang terbaik.
Beralihnya stategi AS memberi gambaran bahwa masa depan Timur Tengah tinggal tunggu waktu kebangkitannya. Bahwa ada sebuah hadits shahih yang menyebutkan bahwa kebangkitan Islam di masa setelah vakumnya kekhilafahan dalam waktu yang lama akan muncul dari Syam, semakin menguatkan gambaran tersebut. Entah kapan, tetapi peluang emas memang ada di wilayah Syam saat ini.

Prediksi perang yang mungkin terjadi di kawasan ini, juga telah disampaikan dalam hadits-hadits shahih. Perang besar yang terjadi antara Umat Islam dengan Yahudi, munculnya Kekhilafahan alaa Minhajin Nubuwwah, tampilnya seorang pemimpin bernama Muhammad bin Abdullah yang bergelar Al Mahdi yang akan menyatukan kekuatan kaum muslimin, keluarnya Dajjal Sang Gembong kejahatan dunia yang akan memimpin seluruh pasukan Yahudi, Turunnya Nabi Isa Al Masih as yang akan menegakkan Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, meluruskan yang menyimpang dari ajaran-ajaran Nasrani, menghabisi pemahaman yang menuhankan dirinya serta menghancurkan palang salib, menerapkan Islam setelah terbunuhnya Dajjal sehingga kemakmuran, kesejahteraan dan keberkahan meliputi seluruh penjuru dunia, hingga wafatnya Nabi Isa as dan mulailah bencana-bencana dahsyat yang berujung pada Hari Kiamat Kubro. [UA]

Tags:
author

Author: