Sunday, 25 October 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Memberi Ibu Tanpa Sepengetahuan Istri

Bahkan berbuat baik kepada orang tua masih dapat terus dilakukan walaupun keduanya telah diwafatkan oleh Allah SWT

Pertanyaan:

Dari +628789063XXXX : pak,saya punya ibu setiap bulan saya beri beras 15 kg tanpa sepengetahuan istri, ibu saya janda bgm hukum dalam islam pak ustad dari pak m.saleh di langsa.

 

Jawaban:

Walaupun seorang anak telah menjadi suami sekaligus bapak seperti Bapak M Saleh di Langsa, namun bukan berarti kewajiban berbuat baik kepada orang tua (بِرُّ الْوَالِدَيْنِ) khususnya ibu telah gugur alias tidak ada lagi. Bahkan dalil-dalil yang ada justru menunjukkan tetapnya kewajiban tersebut terpikul di pundak si anak :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا(الإسراء : 23)

Dan Rabmu telah menetapkan supaya kalian tidak mentaati selain hanya kepada Dia dan kepada kedua orang tua kalian harus berbuat baik. Adapun saat salah satu dari mereka atau keduanya sudah berusia lanjut dalam perawatanmu maka janganlah kamu berkata uff kepada mereka dan janganlah menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang lembut mulia.

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ الْعَيْزَارِ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (رواه البخاري)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid Hisyam bin Abdil Malik berkata Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah berkata Al-Walid bin Al-‘Aizaar telah mengabarkan kepada saya dan berkata saya telah mendengar Aba ‘Amrin Asy-Syaibaniy berkata telah menceritakan kepada kami pemilik rumah ini sambil menunjuk ke rumah Abdullah berkata saya telah bertanya kepada Nabi saw: perbuatan manakah yang paling Allah cintai? Beliau berkata: shalat pada waktunya. Dia (Abdullah) bertanya lagi: lalu apa? Beliau berkata: Berbuat baik kepada kedua orangtua. Dia (Abdullah) bertanya lagi: lalu apa? Beliau berkata: jihad fi sabilillah.

 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ (رواه البخاري)

Dari Anas ra berkata telah ditanyakan kepada Nabi saw tentang dosa besar maka beliau menjawab: syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orangtua, bunuh diri dan kesaksian palsu.

 

حَدَّثَنَا يَزِيدُ حَدَّثَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ (رواه احمد)

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Bahz bin Hakim bin Mu’awiyah dari bapaknya dari kakeknya berkata saya bertanya wahai Rasulullah kepada siapa saya harus berbuat baik? Beliau berkata : ibumu. Saya bertanya lagi: kemudian kepada siapa? Beliau berkata: ibumu. Dia (kakeknya Bahz) berkata: saya bertanya lagi, wahai Rasulullah, kemudian kepada siapa. Beliau berkata: ibumu. Dia (kakeknya Bahz) berkata: saya bertanya lagi, kemudian kepada siapa. Beliau berkata: kemudian kepada bapakmu lalu yang paling dekat diutamakan.

 

Oleh karena itu, yang selama ini dilakukan oleh Pak M. Saleh yakni memberikan beras sebanyak 15 kg per bulan kepada ibunya adalah wajib dilakukan (bukan hanya boleh) tanpa harus memberitahu kepada istrinya dengan syarat beras itu adalah milik Pak Saleh sendiri. Namun jika beras itu adalah milik istri Pak Saleh, maka Bapak tidak boleh yakni haram mengambil begitu saja untuk keperluan apa pun tanpa seizin dari istri sang pemilik harta tersebut. Hal itu karena dalam Islam harta suami adalah milik suami dan harta istri adalah milik istri.

 

Sikap inilah yang telah dilakukan oleh generasi umat Islam pertama seperti yang ditampakkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ketika menghadapi protes ibunya sendiri dengan cara mogok makan saat sang ibu mengetahui anaknya tersebut telah masuk Islam :

تَعْلَمِيْنَ وَاللهِ يَا أُمَّاهُ لَوْ كَانَتْ لَكِ مِئَةُ نَفْسٍ فَخَرَجَتْ نَفْسًا نَفْسًا مَا تَرَكْتُ دِيْنِيْ هَذَا فَكُلِيْ اِنْ شِئْتِ اَوْ لاَ تَأْكُلِيْ

Demi Allah, ketahuilah wahai ibu andaikan anda memiliki 100 nyawa lalu keluar satu per satu, maka saya tidak akan meninggalkan agama saya ini. Oleh karena itu, makanlah jika anda suka atau anda tidak usah makan

 

Bahkan berbuat baik kepada orang tua masih dapat terus dilakukan walaupun keduanya telah diwafatkan oleh Allah SWT, seperti yang terungkap dengan jelas dalam hadits berikut :

قَالَ أَبُو أُسَيْدٍ بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ قَالَ نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا (رواه احمد)

Abu Usaid berkata : ketika saya tengah duduk di sisi Rasulullah saw, tiba-tiba saja datang kepada beliau seorang pria dari Anshar lalu berkata : wahai Rasulullah, apakah masih tersisa bagi saya perbuatan baik yang masih bisa saya lakukan kepada kedua orangtua saya setelah kematian keduanya? Beliau menjawab: ya tentu saja ada empat hal : mendoakan keduanya, memohonkan ampun bagi keduanya, merealisir janji mereka berdua, memuliakan teman dekatnya dan menyambungkan persaudaraan yang tidak akan terjadi bagimu kecuali dilakukan oleh keduanya. Itulah empat hal yang masih tersisa bagimu untuk berbuat baik kepada mereka berdua setelah kematiannya

[Ust. Ir. Abdul Halim]

You may have missed