“Kita Ini Sudah Biasa Hidup Miskin”

Oleh: Lathifah Musa

Seorang warga miskin di pinggir rel kereta api | Foto: ANTARA

Ada yang menarik dalam sesi mengajar saya di kelas satu  sebuah SMP (Islamic Boarding School) Bogor. Pelajaran Bahasa Indonesia selalu dibuka dengan pertanyaan: Apa berita menarik minggu ini? Maklum, mengikuti berita nasional menjadi salah satu tugas rutin mingguan.

Karena kebetulan saya sedang mengajar kelas ikhwan, hampir semua menjawab: Indonesia Menang Lawan Thailand! Selanjutnya kelas pun riuh dengan pembahasan kemenangan Timnas dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya melawan Singapura dan Kamboja.

Kemudian saya bertanya, “Apa kalian tidak tahu bahwa dalam minggu ini Kepala Negara kita berpidato dalam sebuah Pertemuan Tingkat Tinggi Negara-negara se-Asia Pasifik?”  Saya sedikit menyinggung tentang Pidato SBY dalam Forum Bisnis APEC tanggal 15 November 2011. “Tahukah Antum semua, bahwa Indonesia adalah negara yang sanggup bertahan dari krisis global?”

Di kelas satu ini, mereka semua sudah tahu bahwa saat ini AS sedang dalam krisis utang yang memalukan dan Uni Eropa sedang habis-habisan dihajar krisis yang sama. Tentulah dipandang membanggakan oleh pemerintah, ketika pengusaha-pengusaha multinasional menyimak dengan tekun penjelasan SBY tentang resep keluar dari situasi krisis ala Indonesia.

Tiba-tiba salah seorang murid saya yang berkacamata mengacungkan tangannya. “Rakyat Indonesia tahan krisis, karena sehari-harinya sudah biasa miskin, Bu!”, katanya. “Jadi tidak ada bedanya, krisis atau tidak krisis. Karena sehari-harinya sudah biasa krisis.” Sebenarnya ia bermaksud membantah penjelasan saya tentang Indonesia yang tidak krisis.

“Makan dengan kerupuk dan kecap juga sudah nikmat.” Temannya yang di sebelahnya nyeletuk. Saya mengerutkan kening, kemudian mempertanyakan, benarkah mereka biasa makan hanya dengan kerupuk dan kecap. Maklum saja, namanya juga SMP Boarding. Tentu tidak ada menu yang hanya dengan kerupuk dan kecap.

Murid yang bersangkutan pun senyum-senyum. Tapi tampaknya ia jujur, karena selanjutnya ia bicara tentang nikmatnya makan dengan kerupuk terung (pabriknya ada di dekat sekolah mereka) dan kecap dengan teman sebelahnya yang  mengangguk-angguk. Membayangkan kerupuk terung pabrik dekat sekolah yang disantap dengan kecap memang nikmat, khususnya di saat-saat jam lapar seperti siang itu.

Kalau sudah begitu, papan tulis pun terpaksa saya ketok-ketok untuk menghentikan perbincangan tentang makanan murah yang nikmat, resep rakyat bertahan dalam situasi krisis. Breaking News  rutin lima belas menit ditutup. Pelajaran berlanjut dengan sesi mendengar. Siswa-siswa saya minta diam sejenak untuk melatih pendengarannya mendengar suara selain suaranya sendiri. Maklum kebanyakan manusia sekarang lebih suka mendengar suaranya sendiri.

Kesempatan hening membuat saya berpikir komentar-komentar siswa-siswa saya tadi. Jadi siapa bilang kita kaya dan bebas krisis. Kenyataannya kemiskinan masih terasa dan situasi krisis telah bersahabat dengan kehidupan rakyat sejak lama. Sebenarnya Presiden  tak layak bicara tentang kehebatan-kehebatan timnya. Ketahanan terhadap krisis yang sesungguhnya itu ada pada seluruh rakyat. Mayoritas rakyat Indonesia yang miskin namun bermental baja dan berhati pualam.

Presiden seharusnya bicara di hadapan pemimpin-pemimpin negara se-Asia Pasifik tentang kehebatan rakyat Indonesia yang antara lain:

(1)        Nrimo. Menyukuri hidup apa adanya. Bila harga beras naik tak terjangkau, maka mereka mengurangi jatah makan, mengganti menu dengan singkong atau ubi yang lebih murah. Bahkan ada pula yang telah menyumpal perutnya dengan nasi aking. Lebih tragis lagi, di salah satu pelosok negeri ini, ada rakyat yang sanggup memakan biji buah asam. Bukan karena suka, tetapi karena memang sudah tak ada lagi yang dimakan.

(2)        Mayoritas masyarakat Indonesia yang miskin ini biasa hemat. Nasi dengan lauk kerupuk, nasi dengan lauk sayur dan nasi dengan lauk kecap, juga sudah biasa. Pedagang yang juga rakyat menyiasati dengan membuat kerupuk dan kecap yang rasanya lebih nikmat.

(3)        Untuk menyiasati kenaikan harga-harga, rakyat bisa berkreativitas. Ketika harga daging ayam atau ikan melambung, muncullah menu telor penyét. Ketika harga telor pun melambung, muncullah menu tempe penyét. Harga beras mahal, menjamurlah sega kucing dengan lauk yang hanya sejumput-sejumput. Lidah masih bisa bergoyang walaupun anggaran makan terbatas.

(4)        Seharusnya pemerintah berterima kasih karena rakyat kecil tak kenal pasar saham, tak kenal investasi dalam bentuk dollar, tak punya utang di bank. Tahun 2008, penipuan ala Madoff yang membangkrutkan dan memukul perekonomian AS tidak terjadi di sini. Di sini hanya ada Century yang sampai kini masih menyimpan misteri.

(5)        Rakyat kecil terbiasa menahan lapar. Mayoritas rakyat yang beragama Islam terbiasa puasa, mulai dari puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, hingga puasa Daud (berselang seling hari). Ada rekan saya yang sengaja berpuasa Daud, karena memang benar-benar sedang kekurangan.

(6)        Rakyat kecil mudah bersyukur dan bersedekah. Bagi kaum muslimin, Rasulullah Saw mengajarkan makanan untuk berdua bisa dimakan bertiga. Makanan bertiga bisa dimakan bersama-sama. Rakyat kecil tak pernah membiarkan rakyat kecil lainnya kelaparan. Sedekah membuat kehidupan yang secara hitungan statistik kurang menjadi cukup dan barakah.

(7)        Rakyat kecil banyak bersabar, walau kebijakan pemerintah banyak yang  tak bijak sehingga tak layak lagi disebut kebijakan. Kehidupan kian sulit walaupun kata pemerintah ekonomi terus tumbuh. Kenyataannya subsidi banyak dihapus, bantuan banyak dikorup, kekayaan alam milik bangsa dirampok negara lain. Penguasa lebih suka melayani pemimpin penjajah daripada membuat rakyat lebih sejahtera.

Inilah sebenarnya potensi besar bangsa ini. Semua ini terpancar dari karakter keIslaman yang masih tersisa.

Sayangnya kita semua masih bodoh. Sekiranya kita menggunakan seluruh karakter keIslaman kita, seperti menjalankan perekonomian yang Islami, menghapuskan riba dan segala bentuk perdagangan yang fiktif, memberantasan korupsi yang adil dan tak tebang pilih, dan bagaimana menjadi pemimpin-pemimpin muslim dengan semangat jihad membela kedaulatan bangsa ini dalam rangka menyelamatkan aset-aset negeri yang terampas dan harga diri yang terinjak-injak. Dengan menampilkan seluruh karakter keIslaman mayoritas kita, niscaya tak sulit untuk meretas jalan menuju Indonesia Negara Adikuasa.

Bagi rakyat kecil, statemen-statemen tentang keberhasilan Indonesia dalam Forum Tingkat Tinggi itu menjadi begitu kering, kosong dan hampa. Seperti Stand Up Commedy yang bahkan untuk tersenyum getir saja sudah tak bisa. Mengenaskan![]

Tags:
author

Author: