Saturday, 26 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Bila AS (Jadi) Membangun Pangkalan Militer di Singapura

Indikasi keseriusan AS mendirikan pangkalan di Singapura mulai terlihat dari upaya Singapura mengajukan ratifikasi Perjanjian Kerjasama Pertahanan RI-Singapura.

Oleh Lathifah Musa

MediaIslamNet.com– Perbincangan tentang rencana pendirian Pangkalan Militer AS di Singapura memang masih terus berlanjut. Pasalnya Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates, sesumbar bahwa Washington perlu membangun pangkalan di Singapura untuk mendukung kapal-kapal perangnya di kawasan (IRNA, Kamis 10/6). Dalam kunjungannya ke Singapura menghadiri konferensi Keamanan Asia yang digelar oleh International Institute for Strategic Studies (IISS), Gates menilai pembangunan pangkalan di Singapura sebagai bagian dari program pengokohan kemampuan militer AS di lautan Pasifik. Termasuk dalam program tersebut, Amerika Serikat akan menempatkan sejumlah armada kapal tempur cepat yang khusus untuk operasi di perairan dangkal.

Gates juga menyinggung pentingnya kehadiran militer Amerika Serikat di perairan dekat Australia. Menurutnya, dalam beberapa tahun mendatang, Amerika Serikat akan meningkatkan aktivitasnya di kawasan. Ia menekankan pula pentingnya kerjasama militer Amerika Serikat dengan Australia dan Singapura.

Namun sampai saat ini belum ada indikasi pasti realisasi pernyataan Gates. Dunia Internasional paham bahwa statemen pemerintah AS lebih didominasi oleh bualan atau gertak sambal. Seringkali AS berjanji akan memberikan bantuan bagi sebuah negara, namun kenyataannya dana tak kunjung datang. Padahal berita tentangnya telah diekspose oleh berbagai media massa.

Namun indikasi keseriusan AS mendirikan pangkalan di Singapura mulai terlihat dari upaya Singapura mengajukan ratifikasi Perjanjian Kerjasama Pertahanan RI-Singapura. Bagaimanapun keberadaan sebuah pangkalan militer memiliki dampak yang tidak kecil bagi wilayah sekitar. Rakyat pasti banyak menentang.

Apalagi point ratifikasi kerjasama pertahanan dinilai oleh pengamat hukum Abdul Hakim Siagian, SH, MHum, merugikan Indonesia. “Kecil peluang DPR meratifikasi kerjasama itu karena `implementation agreement` yang tertuang di dalamnya sangat tidak seimbang,” katanya kepada ANTARA di Medan.

Menurutnya, Indonesia telah dijebak sekaligus didikte Singapura bila MoU kerjasama pertahanan tersebut ditandatangani. Hal itu sekaligus juga dinilai telah menjatuhkan martabat bangsa. Dari tujuh item yang dikerjasamakan, hanya satu yang menguntungkan Indonesia, yakni penggunaan teknologi simulasi perang. Sementara sisanya justru lebih menguntungkan Singapura, terutama terkait penggunaan wilayah teroritorial RI di darat, laut dan udara guna latihan militer bersama pihak ketiga. Abdul Hakim bahkan menduga ada konspirasi dari sejumlah kepentingan di balik kerjasama tersebut.

Pemerintah dan DPR seharusnya mensinyalir adanya kepentingan AS dalam kerjasama pertahanan tersebut. Apa yang dilakukan Singapura, jelas setelah terjadi keputusan penerimaan Singapura terhadap Pangkalan Militer AS di negaranya.

Bagaimana bila AS jadi membangun pangkalan militer di Singapura? Ada kemungkinan AS tidak mempedulikan kedaulatan Indonesia, mengingat selama ini AS selalu bersikap arogan. Bila Pemerintah, DPR  dan Militer tetap diam, maka bisa jadi telah berlangsung pengkhianatan besar-besaran terhadap rakyat.

Keberadaan pangkalan militer AS di perairan Malaka akan membawa konsekuensi: (1) Perlawanan rakyat, juga rakyat  negeri jiran Malaysia. Mengingat potensi besar keberadaan pangkalan yang akan merusak kedamaian kawasan. (2) Keserakahan AS akan kian menjadi-jadi, apalagi di kawasan  tersebut ada cadangan minyak dan gas bumi yang sangat besar di Kepulauan Natuna juga potensi tambang yang melimpah di Nusantara. AS juga sedang membidik Kepulauan Spartlay di Laut Cina Selatan yang sangat potensial dan sedang diperebutkan oleh negara-negara sekitarnya. (3) Militer AS juga akan membantu gerakan-gerakan separatis seperti Aceh, Riau, ataupun daerah-daerah lainnya yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. (4) Namun saat ini AS juga akan mendapatkan perlawanan berat dari rakyat negerinya sendiri yang semakin berang karena pemerintah selalu menghamburkan anggaran militer sehingga menyebabkan utang negara membengkak melampaui PDBnya. (5) Selama ini rakyat AS menuntut pemerintahnya menarik pasukan-pasukannya yang tersebar di berbagai pangkalan militer seantero dunia. Pemerintahan Obama menjanjikan untuk menarik militernya di Iraq paling lambat akhir tahun 2011. Membangun pangkalan militer baru dan mengirim prajuritnya membawa konsekuensi pembengkakan anggaran negara. Ini adalah pilihan yang sangat sulit diambil oleh pemerintahan Obama. (6) Dunia (terutama Uni Eropa) akan semakin mencemooh bila AS membangun pangkalan yang baru, di saat mereka sedang gusar dengan perekonomian AS yang semakin memperburuk krisis keuangan dunia.

Namun bukan tak mungkin AS akan menjalankan misinya, sesuai doktrin militernya untuk mengontrol sumber daya alam potensial di Asia Tenggara sekaligus memulihkan situasi perekonomiannya. Ini adalah karakter asli negara Imperialis. Apalagi, Asia Tenggara (khususnya Indonesia) menyimpan potensi jumlah penduduk muslim yang besar, yang tentunya berpeluang memunculkan kebangkitan Islam di kawasan ini. Bila Singapura bersedia menanggung biaya terbesar dalam pengadaan pangkalan militer AS, maka tetap saja AS terbebani biaya operasional prajurit yang tidak sedikit.

Dengan demikian, cara termudah dan termurah bagi AS adalah menempatkan agen-agennya yang akan membiarkan kapal perang dan armadanya berkeliaran di kawasan ini, tanpa repot-repot membangun pangkalan militer. Mungkinkah?

Jawabannya kembali kepada kita semua, para pemimpin negara, tokoh masyarakat, militer, dan seluruh komponen  bangsa ini. Akankah bersedia menjadi pengkhianat yang terlaknat, ataukah pahlawan yang menorehkan amal shalih terbesar sebagai seorang muslim yang menolak harga dirinya diinjak-injak kaum penjajah?! Islam mengajarkan “‘Isy Kariiman  aw Mut Syahiidan (Hiduplah mulia atau mati syahid!)”[]

You may have missed