Wednesday, 2 December 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Tanda Tanya Penuh Tanya

Pluralitas (perbedaan) masyarakat yang ada justru dimanfaatkan untuk menanamkan ide pluralisme yang menihilkan peran agama. Padahal pluralitas (keberagaman yang ada) bukan berarti pluralisme.

Diberi judul “Tanda Tanya” barangkali memang karena banyak tanda tanya dalam film ini. Sejak awal penayangannya di bioskop, film karya Hanung Bramantyo yang dirilis oleh Mahaka Pictures dan Dapur Film ini telah memunculkan pro-kontra. Walaupun sutradara mengatakan bahwa film ini didedikasikan untuk memahami kebhinekaan secara utuh, namun akhirnya justru tak utuh memahami kebhinekaan yang sesungguhnya.

Pluralitas (perbedaan) masyarakat yang ada justru dimanfaatkan untuk menanamkan ide pluralisme yang menihilkan peran agama. Padahal pluralitas (keberagaman yang ada) bukan berarti pluralisme.

Wajar bila kemudian MUI memfatwa film ini mengandung unsur sesat dan menyesatkan. Sesat karena membawa ide-ide sesat semacam pluralisme.  Menyesatkan karena bisa mengajak orang kepada kesesatan dengan mengacak-acak hukum-hukum Islam yang masih mengakar di masyarakat.

Karena sejak awal, Hanung sendiri telah mengajak untuk berpikir kritis dalam melihat tontonan, maka inilah point-point kejanggalan dalam film tanda tanya ini dalam kacamata Islam.

1.  Awal narasi “…Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” MUI sendiri menilai, melalui Bapak Cholil Ridwan, bahwa narasi ini menunjukkan Hanung dalam film ini mengambil posisi sebagai seorang yang netral agama. Yang memandang semua agama adalah menyembah Tuhan yang sama. Cara pandang kaum seperti ini, bukan cara pandang Islam. Karena Allah SWT, Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan telah menegaskan dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasulullah Saw bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

2.  Menghadirkan silih berganti sesuatu yang salah sekaligus yang benar secara campur aduk, akhirnya membuat orang awam tidak bisa memahami mana yang benar dan mana yang salah. Sesungguhnya kebenaran tidak bisa dicampur dengan kebathilan. Karena ia akan berujung pada kesalahan, kekeliruan dan kesesatan. Inilah bentuk penyesatan yang dilarang dalam Al Qur’an.

“Janganlah kamu campur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, padahal kamu mengetahuinya. “ (TQS Al Baqarah: 42)

Tokoh “Menuk” yang diperankan oleh Revalina S Temat menampilkan sosok seorang muslimah yang berkerudung (untuk menampilkan profil yang taat agama), istri yang sholehah yang harus bekerja karena suaminya menganggur. Ia bekerja di sebuah restoran yang menjual menu masakan Cina yang tidak halal alias ada babinya milik Tan Kat Sun. Sangat janggal karena bagi muslim yang menyaksikan film ini, hampir tidak ada pengusaha rumah makan cina bermenu babi yang mempekerjakan pegawai muslimah berkerudung untuk memasak menu babi. Bahkan bisa dikatakan tidak ada muslimah dengan profil taat yang mau bekerja di tempat seperti ini. Mengapa Menuk tidak canggung mengolah babi, yang dalam al-Qur’an telah dinajiskan secara tegas. Mengapa Menuk, kalau ia seorang muslimah yang taat, tidak takut melanggar larangan Al Qur’an yang mengharamkan babi. Kita tidak bisa bisa memandang Menuk dari kerudungnya saja, karena kerudung bisa digunakan untuk menipu agar seseorang terlihat taat. Demikian kisah toleransi versi sutradara yang memang tampaknya ingin menipu mata awam yang belum mengenal Islam.

3.  Di film ini Menuk selalu mengucapkan salam Assalamu’alaikum kepada majikannya yg non Muslim, baik ketika masuk ataupun pulang kerja. Padahal salam adalah bentuk penghormatan dan doa untuk sesama muslim, bukan untuk non muslim. Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana menerapkan kalimat salam. Seorang muslim tidak boleh mengucapkan salam sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh Menuk, kepada orang kafir. Menampilkan profil muslimah taat semacam Menuk ini jelas merupakan bentuk tipuan yang biasa digunakan oleh kalangan Liberal. Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang Liberal seperti Musdah M yang menggunakan kerudungnya agar tampak Islami, sementara lisannya belum berhenti untuk mengucapkan statemen-statemen yang merusak Islam. Sebagai contoh adalah pembelaan-pembelaannya terhadap perilaku homoseksual dan lesbi yang telah-telah jelas dilaknat Allah SWT dalam al-Qur’an. Atau pembelaannya terhadap kaum Ahmadiyah yang telah terbukti menodai agama Islam dan menyakiti kaum muslimin dengan perilaku-perilaku mereka.

4.  Di film ini, diperlihatkan Menuk dibebaskan menjalankan kegiatan ibadahnya berupa sholat  oleh sang majikan yang non Muslim. Dalam beberapa adegan, si majikan melakukan sembahyang sesuai ajaran agamanya, sementara tidak jauh darinya di ruangan pemujaan yang sama, Menuk menjalankan ibadah sholat yang arahnya menghadap ke altar pemujaan. Barangkali alasan sutradara adalah menghadap kiblat. Kebetulan kiblatnya searah dengan altar Budha. Sangat jelas adanya pesan kebolehan doa bersama atau ibadah bersama antara muslim dan non muslim. Seolah-olah tidak ada bedanya antara masjid dan tempat-tempat sembahyang umat lain. Mengapa Menuk tidak ke Masjid saja? Ini tentu persoalan pluralisme. Karena Menuk adalah profil  seorang penganut pluralisme.

5.  Dalam pekerjaannya sebagai pemasak menu babi. Menuk mengatakan bahwa utk makanan yg mengandung babi, peralatan masaknya semua sudah dibedakan. Pemilik restoran mengijinkan hal itu dilakukan. Apakah memang demikian Kenyataannya? Adakah rumah makan Cina yang menjual makanan bermenu babi yang pemiliknya sampai mau memisahkan pisau, penggorengan dan alat-alat lain untuk memasak babi dengan yang tidak untuk memasak babi. Kenyataannya kondisi ini hanya ada dalam khayalan sutradara.

Sebagaimana film sebelumnya, yakni perempuan berkalung sorban yang juga penuh khayalan tentang profil sebuah pesantren serta kiainya, maka demikian pula dengan tanda tanya. Inikah masyarakat pluralisme dalam bayangan kaum liberal?

Secara khusus, film ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang Hanung Bramantyo, sang sutradara. Apakah ini yang didambakan oleh Hanung? Sudikah ia sholat di depan altar pemujaan? Sudikah ia mengatakan kebenaran juga ada pada agama lain, sehingga agamanya sendiri menjadi bersifat relatif? Sudikah ia makan di restoran yang mayoritas menyajikan menu babi? Apakah ia mengijinkan istrinya yang berkerudung untuk mengolah dan memasak babi?

Kebenaran itu sebenarnya mudah, manusia sendiri yang sering mempersulit dirinya. Allah SWT berfirman dalam QS. Thaha.

” Tha ha. Bukanlah maksud Kami menurunkan Al Qur’an ini kepadamu Muhammad agar engkau menderita kesusahan. Melainkan sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut kepada Allah. Diturunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan langit sebagai bangunan yang tinggi. Yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih dan bertahta di atas Singgasana KekuasaanNya yang tinggi.” (TQS. Thaha 1-5)

(Lathifah Musa)

You may have missed