Saturday, 19 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Kisah Pembegal Tobat: Ali al-Asadi

bnu Jarir menceritakan bahwa dulu Ali al-Asadi adalah seorang pelaku hirabah. Ia mengacau perjalanan, membunuh, dan merampas harta. Para imam dan masyarakat melacaknya. Akan tetapi mereka tidak dapat membekuknya sehingga Ali al-Asadi insaf, menyerah dan bertaubat.

Ibnu Jarir menceritakan bahwa dulu Ali al-Asadi adalah seorang pelaku hirabah. Ia mengacau perjalanan, membunuh, dan merampas harta. Para imam dan masyarakat melacaknya. Akan tetapi mereka tidak dapat membekuknya sehingga Ali al-Asadi insaf, menyerah dan bertaubat.

Adapun sebabnya ia insyaf dan bertaubat adalah karena ia mendengar seorang lelaki membaca ayat:

Qul yaa ‘ibaadiyal ladziina asrafuu ‘alaaaa anfusiHim laa taqnathuu min rahmatillaaHi, innallaaHa yagfirudz dzunuuba jamii’an, innaHuu Huwal ghafuurur rahiim [Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang]. (QS. az-Zumar: 53)

Al-Asadi mendengar bacaan itu. Kemudian katanya, “Hai Hamba Allah, ulangi lagi bacaanmu!

Lelaki yang membaca itu pun mengulangi lagi bacaannya. Pedang Ali mulai dimasukkan ke sarungnya.  Ia bertaubat. Ia pun pergilah ke Madinah. Ia sampai di Madinah pada waktu sahur. Lalu ia mandi dan mendatangi Mesjid Rasulullah saw. Di masjid itu ia shalat subuh. Setelah itu ia duduk dekat Abu Hurairah yang berada di antara orang banyak. Maka ketika keadaan sudah mulai remang-remang agak terang, orang-orang mengetahuinya dan bangkit menangkapnya.

Kata Ali al-Asadi, ”Kalian tidak boleh menghukumku! Aku datang dan bertaubat sebelum kalian dapat membekukku!”

Abu Hurairah menegaskan, “Betul!”

Kemudian Abu Hurairah membawanya kepada Marwan bin Hakam, Amir di Madinah pada Zaman Muawiyah.

Kata Abu Hurairah, “Itulah Ali. Ia datang dan bertaubat. Kalian tak boleh menghukumnya!”

Dengan demikian, maka bebaslah Ali al-Asadi dari hukuman hirabah.

Allah SWT berfirman:

“Illalladziina taabuu min qabli antaqdiruu ‘alayHim fa’lamuuuu annallaaHa ‘ghafuurun rahiim.” [kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.] (QS. Al-Maidah: 34)

Di akhir hidupnya, Ali al-Asaadi ikut perang jihad fi sabilillah di laut melawan tentara Romawi. Ketika kapal tentara  Islam dan tentara Romawi saling berdekatan, segera Ali menyerbu kapal Romawi, sehingga kocar-kacirlah barisan mereka. Tentara Romawi terpaksa menepi. Namun dikejar Ali hingga kapalnya tenggelam dan mati semuanya bersama Ali al-Asaadi.[]

Catatan:

(Diambil dari Buku 50 Kisah Nyata; Mengungkap Kisah-kisah Hikmah Terpendam. Penyusun: Achmad Najieh. Pustaka Progresssif. Surabaya. 2000)

You may have missed