Museum Gay, Jantung Kejahatan

Sebelum dunia berakhir, gelombang kejahatan tak akan reda karena Iblis telah ditangguhkan kematiannya hingga beberapa saat sebelum Kiamat. Paling-paling terjadi pasang surut kebaikan di atas kejahatan, tergantung apakah manusia mampu mengalahkan godaan kejahatan dengan petunjuk (Huda) yang diberikan Sang Pencipta, Allah SWT.

Salah satu realita intrik kejahatan adalah berdirinya museum gay pertama di Amerika Serikat yang  resmi dibuka pada hari Kamis, 13 Januari 2011. Museum yang terletak di 4127 18th Street, kawasan Castro, San Fransisco ini diberi nama Gay Lesbian Bixeual Transgender History (GLBT) Museum. (Tempo Interaktif, 13 Januari 2011)

Direktur Eksekutif komunitas GLBT, Paul Boneberg mengatakan, “Kami berusaha semaksimal mungkin menciptakan museum yang kaya, berbeda dan memberikan kejutan bagi komunitas gay, lesbian dan transgender,” demikian pernyataannya seperti dikutip dari laman San Fransisco Chronicle, Rabu (12/1).

Meski menjadi yang pertama di Amerika Serikat, museum ini adalah museum gay kedua di dunia. Yang pertama terletak di Jerman. Lokasi museum ini terletak di jantung Castro, sebuah kawasan yang lekat dengan kaum homoseksual, tidak hanya terkenal bagi orang lokal tapi juga dikunjungi ribuan turis setiap tahun.

Sejumlah barang yang berhubungan dengan gay dipamerkan, seperti kacamata merah muda Harvey Milk, meja milik Harvey Milk, manuskrip soal gay, juga mainan seks. Harvey Milk adalah politikus gay pertama yang menyatakan dirinya gay secara terbuka dan terpilih sebagai anggota dewan kota pada 1977. Setahun kemudian dia dibunuh.

Kurator dan dosen Sonoma State Universtiy’s Don Romesburg mengatakan museum ini menggambarkan transformasi kehidupan dan masyarakat yang terpinggirkan. “Museum ini menjadi jantungnya,” kata Romesburg. (Tempo Interaktif, 13 Januari 2011)

Selain menggambarkan kebodohan manusia, museum gay juga menunjukkan kemiskinan peradaban Amerika Serikat. Negara kaum migrant ini tidak memiliki sejarah yang kaya, sebagaimana Timur Tengah, Asia atau Eropa.

Sebenarnya bumi ini telah memiliki museum abadi bagi kaum gay. Laut Mati dan pesisirnya di Yordania telah menjadi artefak sejarah kehancuran sebuah negeri bernama Soddom dan Gomorah (Saddum dan Amurah), tempat Nabi Luth as menyampaikan dakwahnya. Perilaku bejat kaum homoseksual yang juga memicu perilaku merusak lainnya seperti membunuh, merampok, menganiaya dan lain-lain, menyebabkan Allah SWT menghancurkan negeri Soddom dan Gomorah secara dahsyat dan mengerikan hanya dalam waktu singkat menjelang Subuh.

Sisa-sisa Pompei, salah satu kota di wilayah Roma, juga menjadi bukti sejarah sebuah kaum yang diazab melalui meletusnya Gunung Vesuvius. Perilaku seks bebas bahkan diluar nalar yang lebih rendah dari hewan, dapat dibaca dari penelitian terhadap peninggalan-peninggalan sejarah yang menggambarkan perilaku penduduk Pompeii.

Islam sebagai sebuah Diin yang bersifat siyasi (mengatur cara hidup manusia agar selaras dengan penciptaan fitrahnya yang mulia) telah menetapkan bahwa gay, lesbi, biseksual dan transgender adalah kejahatan. Kejahatan ini akan merusak manusia dan masyarakatnya.

Allah SWT telah melaknat perbuatan kaum homoseksual.  Bahkan Allah SWT telah menetapkan sendiri hukumannya.

“Dan Kami telah mengutus Luth kepada kaumnya. (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya:”Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya  kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, kamu ini betul-betul adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al A’raf: 80-81).

Al-Qur’an menjelaskan sanksi Allah SWT bagi kaum Luth, yaitu dilempari batu hingga mati. Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (TQS Hud: 82)

Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan (kaum) Nabi LUth, bunuhlah kedua pelakunya.”

Demikian sanksi yang berat terhadap pelaku homoseksual akan menyelamatkan seluruh umat manusia dari kerusakan. Demokrasi AS telah menumbuhkan eksistensi kaum Gay, Lesbi, Biseks dan Transgender. Museum gay pertama di AS menjadi denyut jantung kejahatan di Negara Demokrasi yang kelak akan membuka pintu gerbang kehancuran dan kejatuhan AS sendiri. [Lathifah Musa]

Rate this article!
Tags:
author

Author: