Thursday, 24 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Puasa ‘Asyura

Puasa ’Asyura adalah puasa sunnah yang dulunya diwajibkan atas kaum muslimin sebelum diwajibkannya Puasa Ramadhan pada tahun ke-2 H.

Oleh Umar Abdullah*

Dinamakan Puasa ‘Asyura (’aasyuuraa`) karena puasa ini dilakukan pada hari ’Asyura (hari ke-10).

Suro Eh Muharram

Puasa Asyura ini adanya di bulan Muharram. Mungkin dari nama ’Asyura ini, orang Jawa menyebutnya bulan Sura (baca: suro). Sebagaimana orang Jawa menamai bulan Ramadhan dengan nama bulan Pasa (baca: poso) karena di dalam bulan Ramadhan Umat Islam diwajibkan puasa (Jawa: poso). Di beberapa tempat di Jawa masih ditradisikan menyambut datangnya bulan Muharram ini dengan acara Grebeg Suro. Acara ini sebenarnya pawai untuk menyambut datangnya tahun baru Islam. Setahu saya, pawai menyambut tahun baru Islam ini tidak ada dasar syar’inya. Justru yang memulai merayakan tahun baru Islam adalah golongan Syi’ah Ismailiyah yang pernah berkuasa sebagai Khilafah Fathimiyah di Mesir. Apakah ada hubungan antara Jawa dengan Syi’ah? Wallaahu a’alamu.

Selain persoalan Syari’at, acara ini juga banyak nggak benernya dari sisi Aqidah. Misalnya ada kepercayaan jika seseorang berhasil mendapatkan hasil bumi atau air bekas cucian keris yang diarak pada acara Grebek Suro maka ia akan mendapat keberuntungan pada tahun itu. Akhirnya berebutanlah masyarakat ’ngalap berkah’ di acara Grebeg Suro. Bagian ini tentu sudah terkategori syirik yang tidak perlu dilestarikan. Belum lagi kepercayaan sebagian orang-orang Jawa, bahwa bulan Suro adalah bulan yang banyak bencana. Sehingga perlu diadakan pagelaran wayang kulit untuk ruwatan. Sebagian lagi menganggap tabu untuk menyelenggarakan hajatan, misalnya pernikahan, di bulan Suro (Muharram). Padahal Allah SWT yang menciptakan waktu dan membagi satu tahun menjadi 12 bulan menetapkan bahwa Muharram adalah bulan Suci selain Rajab, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah. Maka sangat bagus jika menyelenggarakan hajatan di bulan Muharram (Suro).

Dulu Wajib, Sekarang Sunnah

Puasa ’Asyura adalah puasa sunnah yang dulunya diwajibkan atas kaum muslimin sebelum diwajibkannya Puasa Ramadhan pada tahun ke-2 H.

Aisyah ra berkata:

”Adalah hari Asyura itu hari orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah dan Rasulullah juga mengerjakannya. Setelah Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau terus mengerjakan serta menyuruh pula manusia mengerjakannya. Setelah Puasa Ramadhan difardhukan, beliaupun berkata:

”Orang  yang ingin berpuasa ’Asyura boleh ia mengerjakannya dan yang tidak ingin berpuasa ’Asyura boleh ia tidak mengerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ampunan Dosa Satu Tahun

Bagi yang berpuasa ’Asyura, Allah yang Maha Pengampun akan menghapus dosa-dosanya selama setahun terakhir.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Qatadah, ujarnya: ”Ditanyakan kepada Rasulullah saw tentang Puasa ’Asyura, maka Rasulullah saw menjawab:

”Yukaffirus sanatal maadhiyat.”

”(Puasa Asyura itu) menutup dosa satu tahun yang lalu.”

Memperbanyak Pemberian di Hari Asyura

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak belanja untuk keluarga dan pemberian kepada penduduk di sekitar kita pada hari Asyura.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda:

”Barangsiapa meluaskan pemberian untuk keluarganya (orang yang wajib dia nafkahi) dan ahlinya (penduduk sekitarnya) di hari Asyura, niscaya Allah meluaskan pula pemberian-Nya di seluruh tahunnya.”

Oleh karena itu bagi para Bapak, tambahlah pemberian anda kepada anak, istri, ayah, ibu anda. Buat semuanya, berilah hadiah atau sedekah kepada penduduk di sekitar anda di hari ’Asyura. Semoga Allah meluaskan rizqi anda di seluruh tahun hidup anda. Aamiin.

Membedakan Diri dari Umat Yahudi dan Nasrani

Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ujarnya:

”Manakala Rasululah saw berpuasa pada hari `Asyura dan menyuruh para shahabat berpuasa, para shahabat berkata, ”Ya Rasulullah  bahwasannya hari `Asyura itu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.”

Maka bersabdalah Rasulullah saw:

”idzaa kaanal ’aamul muqbilu. Insyaa’allaahu shumnaal yawmat taasi’a.”

”Jika tahun depan datang, insya Allah kita berpuasa juga pada hari yang kesembilan (taasu`a)”

Kata Ibnu Abbas: Namun sebelum datang tahun yang dijanjikan itu, Rasulullah saw wafat.

Inilah mengapa Umat Islam berpuasa tidak hanya pada tanggal 10 Muharram (Hari ’Asyura) tapi juga ditambah dengan puasa hari ke-9 Muharram yang biasa dikenal dengan nama Puasa Tasu’a (hari ke-9) untuk membedakan diri dari Umat Yahudi dan Nasrani yang berpuasa di hari ke-10 Muharram saja (Hari ’Asyura).

Tragedi Karbala di Hari ’Asyura

Satu hal yang sering menutupi berita tentang Puasa dan Belanja ’Asyura adalah peringatan Tragedi Karbala oleh golongan Syi’ah, khususnya di Iran, Libanon, dan India. Opini tentang peringatan ini  sedemikian gencar. Apalagi dengan suguhan kesedihan mendalam kaum Syi’ah atas terbantainya Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah saw di Karbala. Kesedihan yang ditunjukkan dengan cara yang diharamkan dalam Islam, yakni melukai tubuh bagi laki-laki dan meratap serta memukul-mukul wajah bagi wanita.

Lebih gawat lagi, opini pun beralih dari Puasa Asyura menjadi Tragedi Karbala. Itulah yang terjadi pada diri saya ketika masih kecil. Saya mengenal Asyura sebagai peringatan pembantaian Husain di Padang Karbala. Dan tidak tahu bahwa Asyura itu artinya hari ke-10 (bulan Muharram) dimana kita disunnahkan berpuasa dan memperbanyak pemberian ke keluarga dan tetangga. Di beberapa daerah di Indonesia, Tragedi Karbala ini diperingati dengan tradisi Tabuik (Pariaman, Sumatra Barat) atau Tabot (Bengkulu).

Sebagai muslim yang bukan Syi’ah, saya juga sedih dan marah jika mengenang Tragedi Karbala. Pemerintahan Islam yang dipimpin Khalifah Yazid bin Muawiyah telah mengirim orang yang salah, yaitu Ubaidullah, yang bengis untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan Husain. Seharusnya Husain cukup diminta untuk menyatakan bai`at tha`at kepada Khalifah Yazid, jika tidak mau cukup ditangkap dan dipenjara hingga ia mau menyatakan Bai’at Tha’at. Namun yang terjadi adalah Husain, anak-anaknya, anak-anak Hasan, kerabat dan pengikutnya yang berjumlah sekitar 80an orang dibantai. Kepala Husain juga dipenggal. Suatu kekejian yang di luar batas etika peperangan dengan kafir harbi sekalipun. DAN INI BUKAN CARA ISLAM MEMPERLAKUKAN PEMBERONTAK!!!

Anak Husain yang selamat hanyalah ’Ali yang bergelar Zainal Abidin.

Penutup

Akhirul kalam. Selamat berpuasa Tasu’a, berpuasa ’Asyura, menambah belanja keluarga dan memperbanyak sedekah di hari ’Asyura. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita setahun terakhir dan melapangkan rizqi kita sepanjang tahun. Aamiin yaa Allaah yaa Mujiibas saa’iliin.

Dan semoga kita mudah meninggalkan syirik, meletakkan bulan Muharram pada tempatnya yang suci, dan meninggalkan peringatan-peringatan yang justru melanggar Syariah dan Aqidah Islam. Aamiin.[]

* Penulis Naskah VCD Sejarah Penerapan Syariat Islam di Indonesia. Pernah tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

You may have missed