Sunday, 27 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Kenabian dan Dakwah Isa as

Dalam hal aqidah atau keyakinan, sebagaimana rasul-rasul Allah sebelumnya, Nabi ‘Isa as juga menerima wahyu bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

*(Kisah Isa ‘as, bagian 03)

Oleh Umar Abdullah

Ketika ‘Isa mencapai usia tiga puluh tahun, Allah memilihnya sebagai seorang Rasulullah (utusan Allah). Diturunkan kepada beliau Injil.

MISI NABI ‘ISA HANYA UNTUK BANI ISRAIL

Allah SWT berfirman:

Ali Imran: 49

49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil …

AQIDAH

Mengajarkan tauhid

Dalam hal aqidah atau keyakinan, sebagaimana rasul-rasul Allah sebelumnya, Nabi ‘Isa as juga menerima wahyu bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

Allah SWT berfirman:

Maryam: 34

34. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

Maryam: 35

35. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

Maryam: 36

36. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.

MENOLAK TRINITAS

Nabi ‘Isa menolak upaya Bani Israil yang merekayasa syirik Trinitas 3 dalam 1, 1 dalam 3.

Allah SWT berfirman:

Al-Maidah: 116

116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”

Al-Maidah: 117

117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

‘ISA ADALAH NABI, BUKAN TUHAN

Nabi ‘Isa menegaskan bahwa dirinya adalah Rasulullah (utusan Allah), dan bukan Allah. Nabi ‘Isa juga menyampaikan berita bahwa setelah ia diutus, akan diutus berikutnya seorang rasul Allah yang bernama Ahmad atau Muhammad saw.

Allah SWT berfirman:

Ash-Shaff: 6

6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

NUBUWAT (BERITA) AKAN DATANGNYA NABI MUHAMMAD SAW

Nabi ‘Isa mengabarkan bahwa setelah dirinya akan datang Utusan Allah berikutnya, yang bernama Ahmad (Muhammad)

Allah SWT berfirman:

Ash-Shaf: 6

6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”

Nabi yang bernama Ahmad (Muhammad) itu berasal dari Bani Ismail as dari keturunan Kedar, putra Nabi Ismail yang kedua yaitu suku Quraisy.

The Davis Dictionary of the Bible menulis pada artikel Kedar sebagai berikut:

“…suatu suku keturunan Ismail.” (Kejadian 25: 13)

“…Masyakarat keturunan Kedar ialah orang Plinys Cedrai, dan dari suku mereka itulah lalu Muhammad dilahirkan secara terhormat.”

Ciri Nabi tersebut dirinci dalam Yeyasa 29: 12 bahwa nabi itu Ummi (tidak dapat membaca):

“Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini, “maka ia akan menjawab, “Aku tidak dapat membaca.”

SYARI’AT ‘ISA

MENAATI HUKUM TAURAT

Demikianlah dalam hal aqidah. Adapun dalam hal Syari’at, Nabi ‘Isa taat dan patuh kepada hukum Taurat mengikuti Nabi-nabi Bani Israil sebelumnya. Dengan Injil, Nabi ‘Isa menggenapi hukum-hukum Taurat.

Allah SWT berfirman:

Al-Ma`idah: 46

46. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

CONTOH-CONTOH SYARIAT

Beberapa contoh syariat yang dibawa Nabi ‘Isa adalah:

  1. Mewajibkan Shalat, Zakat, dan Puasa

Maryam: 31

31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

  1. Mewajibkan khitan.

Injil Lukas 2: 21 “Yesus melaksanakan khitan.”

  1. Mengharamkan makan babi

Kitab Taurat (Imamat 11: 7-8): “Demikian juga babi karena memang berkukuh belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.”

  1. Mengharamkan minum minuman keras

Kitab Taurat (Imamat 10: 8-11): “Tuhan berfirman kepada Harun:  Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras…”

  1. Mengharamkan memakan darah.

Kitab Taurat (Imamat 11: 7-8): “Demikan juga janganlah kamu memakan darah apapun di segala tempat kediamanmu.”

  1. Mengkafani mayat

Injil karangan Matius 27: 59

“Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain lenan yang putih bersih.”

MU’JIZAT NABI ‘ISA

Untuk membuktikan kenabiannya, Nabi ‘Isa diberi beberapa mu’jizat. Selain bisa berbicara ketika masih dalam buaian, dengan izin Allah, Nabi ‘Isa mampu membentuk burung yang bisa terbang dari tanah, menyembuhkan orang buta, menyembuhkan orang berpenyakit sopak, menghidupkan orang mati, mengetahui apa yang dimakan dan disimpan orang di dalam rumah mereka, dan nanti diselamatkan dari kematian di tiang salib.

Allah SWT berfirman:

Ali Imran: 49

49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.

Mu’jizat lainnya adalah turunnya hidangan dari langit. Salah satu surat dalam al-Qur`an dinamai Surat al-Ma`idah karena di dalamnya memuat kisah tentang hidangan dari langit ini.

Walaupun kebanyakan Bani Israel tetap dalam kekufurannya, tidak menjalankan Taurat, juga tidak menerima Injil, tetapi ada kelompok yang shalih yang menjadi penolong bagi Nabi ‘Isa dan dakwahnya. Inilah yang dinamakan kaum Hawariyyin.

Allah SWT berfirman:

Al-Ma’idah: 111

111. Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).”

‘Isa memerintahkan para Hawari untuk berpuasa selama 30 hari. Setelah selesai melaksanakannya, mereka meminta Nabi ‘Isa agar menurunkan meja makan dari langit kepada mereka untuk makan hidangannya dan agar menjadikan hati mereka tentram.

Allah SWT berfirman:

Al-Maidah: 112

112. (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?.” Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.”

Al-Maidah: 113

113. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.”

Al-Maidah: 114

114. Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.”

Al-Maidah: 115

115. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.”

Allah menurunkan meja makan dari langit dengan sepenglihatan mereka hingga meja makan itu benar-benar dekat di hadapan Nabi ‘Isa as. Di atasnya terdapat 7 ekor ikan, 7 potong roti dan buah-buahan. Jumlah yang makan dari hidangan itu lebih dari 1000 orang.

Nabi Muhammad saw bersabda,

“Turunlah meja makan dari langit. Di atasnya terdapat roti dan daging. Mereka diperintahkan untuk tidak khianat, tidak menyembunyikan dan dan tidak mengambil untuk besok. Akan tetapi mereka berkhianat, menyembuyikan, dan mengambil untuk besok. Maka mereka diubah menjadi kera dan babi. (Hadits Marfu’)

GELAR AL-MASIH ‘ISA

‘Isa bin Maryam dinamakan al-Masih karena tidaklah dia mengusap seseorang yang memiliki penyakit kecuali sembuh dengan izin Allah. Bisa juga karena Nabi ‘Isa menjelajah bumi dan banyak melakukan perjalanan untuk berdakwah mengajak kepada agama Allah.

Nama ‘Isa sendiri berbagai macam bentuk. Aslinya: ‘Isa (Dialek Arab) atau Esau (Dialek Israel). Kemudian ada yang menambahkan “J” dan “S” dari nama “Esau” sehingga menjadi “Yesus”. Ada juga yang menyebut Yehoshua dan Yoshua.

PENENTANGAN TERHADAP DAKWAH ‘ISA

Selain mendapat dukungan dari Maryam, ibundanya, kaum Hawariyyin, dan orang-orang yang mencintai dan mengikuti ajarannya, Nabi ‘Isa mendapat penentangan yang hebat dari Bani Israel, khususnya dari kalangan pendeta-pendetanya. Merasa usahanya mengumpulkan harta dan menimbun kekayaan dihalang-halangi oleh Nabi ‘Isa, para pendeta itu memerangi dakwah Nabi ‘Isa dengan zalim.

Allah SWT berfirman:

Al-Maidah: 78

78. Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Al-Maidah: 79

79. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

Al-Maidah: 80

80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Al-Maidah: 81

81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.

Pengangkatan ‘ISA KE LANGIT

Musuh-musuh kebenaran dari kalangan Bani Israil sampailah pada puncak kejahatannya. Mereka memaksa seorang Pontius Pilatus, seorang Gubernur Romawi untuk Provinsi Yudea, menyatakan bahwa Nabi ‘Isa telah berbuat melawan pemerintah. Mereka mengatakan bahwa Nabi ‘Isa ingin jadi raja. Mulanya sang gubernur menolak dengan mengatakan bahwa dia tidak mendapati suatu kerusakan yang ditimbulkan oleh Nabi ‘Isa. Namun kaum durhaka itu mengancamnya dengan berkata, “Sesungguhnya kami khawatir berita ini sampai kepada Kaisar, dan hal ini akan berbahaya bagi keselamatan Anda sendiri.” Mendengar itu, sang gubernur amat ketakutan dan dipenuhinya permintaan orang-orang itu..

Bani Israil menuntut agar Nabi ‘Isa disalib di hadapan mereka. Maka bergmalah suara-suara kedengkian, “Saliblah ia.. saliblah ia..!”

Tetapi Allah jualah yang menghancurkan tipu daya musuh-musuhNya.

Allah menyelamatkan Nabi ‘Isa dari tipu daya mereka dan mengangkatnya menuju ke hadhirat-Nya dari tengah-tengah mereka. Allah menjadikan Yahuza Iskarit (Yudas Iskariot), seorang Bani Israil, serupa dengan Nabi ‘Isa. Mereka menangkap, menyalib, dan membunuhya. Mereka berkeyakinan bahwa yang mereka bunuh adalah Nabi ‘Isa’.

Allah SWT berfirman:

An-Nisa`: 156

156. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

An-Nisa`: 157

157. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

An-Nisa`: 158

158. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Seandainya Allah tidak memberitahu kita melalui al-Qur`an bahwa Nabi ‘Isa tidak mati di tiang salib, tetapi diangkat Allah ke langit dan masih hidup hingga sekarang, tentu kita juga akan menyangka bahwa Nabi ‘Isa telah mati di tiang salib.

KEMATIAN MARYAM, IBUNDA ‘ISA

Tidak adanya Nabi ‘Isa di dunia, tidak menyurutkan langkah Maryam dan dua Hawariyin, yaitu Syam’un ash-Shafa dan Yahya, untuk meneruskan langkah-langkah perjuangan menegakkan risalah Allah yang telah dijalani Nabi ‘Isa.

Maryam al-Bathul (Sang Perawan) wafat enam tahun setelah peristiwa penyaliban. Namanya diabadikan dalam al-Qur`an dengan firmanNya:

At-Tahrim: 12

12. dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

Islam menempatkan Maryam binti ‘Imran, ibunda Nabi ‘Isa, sebagai salah seorang dari empat pemimpin wanita di Surga.

Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Para pemimpin wanita ahli Surga selain Maryam binti ‘Imran adalah Fathimah, Khadijah, dan Asiyah istri Fir’aun.” (HR. Thabrani)

[BERSAMBUNG]

You may have missed