Wednesday, 16 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Cewek Pemuja Irfan Bachdim

Indonesia melahirkan idola baru pesepakbola. Namanya Irfan Bachdim, blasteran Jawa-Belanda. Kaum cewek, banyak yang tergila-gila karena wajahnya yang ganteng.

Sobat muda, belum lama ini Indonesia melahirkan idola baru pesepakbola. Namanya Irfan Bachdim, blasteran Jawa-Belanda. Kaum cewek, banyak yang tergila-gila karena wajahnya yang ganteng. Bahkan Irfan begitu dipuja sampai cewek-cewek menjadikannya agama baru. Waduh, gimana menurut Islam?Layakkah dia jadi idola? Yuk, kita obrolin  dengan Mbak Asri Supatmiati, S.Si. penulis buku Cewek Buka-bukaan.

Sepakbola Indonesia kayaknya sedang bangkit nih Mbak. Terbukti di ajang AFF kemarin timnas cukup berjaya. Gimana menurut Mbak?

Ya, mungkin. Tapi kejayaan di bidang olahraga kan yang merasakan hanya segelintir orang, yakni yang berkecimpung di sepakbola itu aja. Nggak ngaruh pada taraf hidup mayoritas masyarakat. Jadi kalo sepakbola bangkit, kita jangan dulu bangga seolah-olah negara juga bangkit. Apalagi kalo uang rakyat dihamburkan untuk ngasih bonus miliaran kepada pemain bola, dimana keadilannya buat masyarakat? Kalo mau, yang ngasih bonus ya sponsor, jangan pake uang rakyat. Jadi sepakbola jangan jadi pemicu kecemburuan sosial.

Kalau banyak cewek hobi nonton bola boleh nggak sih Mbak?

Harus dilihat dulu, lihat bolanya di mana? Kalo nonton bolanya hanya di depan TV, kembali pada hukum nonton itu sendiri kan mubah. Dalam artian, sepakbola sebagai sebuah hiburan, boleh saja jadi tontonan cewek. Tapi kalo nontonnya ke stadion, terus bareng cowok, campur baur nggak karuan, apalagi buka aurat di sana, itu nggak boleh.

Menurut Mbak apa sih motif cewek suka bola?

Pertama, sekadar ngecengin pemainnya yang keren-keren, tajir dan beken. Seperti Irfan Bachdim yang kini jadi idola baru cewek-cewek Indonesia. Kedua, suka bola karena terpengaruh lingkungan. Misal anggota keluarga demen bola, seperti bapaknya yang hobi nonton bola, ibunya ikutan, akhirnya anaknya cowok maupun cewek ketularan juga. Ketiga, biar terkesan gaul. Soalnya sekarang kalo nggak tahu bola, dianggap kuper. Jadi, lebih karena tuntutan pergaulan. Kalo temen-temennya ngomongin bola, ya harus tahu juga soal bola.

Menurut Mbak, ada nggak dampak negatif nonton bola, apalagi sampe mengidolakan pemain tertentu?

Banyak. Bahkan lebih banyak negatif dari positifnya. Pertama, buang-buang waktu. Nonton itu kan mubah, boleh aja sekadar sebagai hiburan. Tapi kalo nontonnya ngabisin waktu, nyedot perhatian dan energi, mubazir. Lebih baik buat aktivitas lain yg lebih bermanfaat. Ketiga, pertandingan piala dunia biasanya menyuburkan judi. Ada yg iseng-iseng taruhan, meski dengan nominal receh tetep aja judi. Keempat, bisa menimbulkan syirik. Kalo mengidolakan pemain bola berlebihan, bisa mengkultuskan. Sekarang Irfan Bachdim juga gitu, dianggap agama baru. Sebuah blog Sastrality.com sempat menyebutkan Irfan Bachdim sebagai agama baru, meski hanya parodi. Konon cewek-cewek pemujanya banyak yang gabung dengan blog ini. Di luar negeri hal itu udah terjadi. Banyak penggemar bola yg menganggap pemain idolanya Tuhan. Seperti penggemar Maradona yang bikin agama baru.

Mengenai sosok idola sendiri, apakah Irfan Bachdim memang layak jadi idola?

Wah, kalo sy bilang nggak layak, marah deh penggemarnya. Tapi milih idola itu memang selera. Yang penting parameter idola itu apa, seperti apa? Kalo karena ganteng, itu kan relatif. Banyak yang lebih ganteng. Kalo soal kepintaran, peraih medali olimpiade itu lebih pintar. Kalo soal kelihaian main bola, Bambang Pamungkas di Indonesia lebih teruji. Kalo soal agamanya, nah ini dia, belum jelas agama Irfan apa. Tapi kita bisa lihat dari perilakunya. Dia pacaran, punya pacar model pakaian dalam, suka cinta-cintaan lewat dunia maya sama pacarnya, apakah seperti itu idola? Sebagai muslimah, kita harus ingat, segala sesuatu diselaraskan dengan aturan Islam.

Kalo begitu, siapa dong yang boleh kita idolakan?

Idola hakiki ya Rasulullah Muhammad saw. Allah SWT pencipta seluruh manusia sendiri yang menyatakan hal itu: Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun li man kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiiraa. Sungguh telah ada pada diriRrasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah (berdzikir dan selalu ingat perintah dan larangan Allah).” (QS. Al-Ahzab: 21, Red.) Atau bisa juga para shahabat dan shahabiyah (sahabat perempuan). Rasulullah saw bersabda: Sahabat-sahabatku itu bagaikan bintang-bintang. Dengan (sahabat-sahabat) manapun kalian mengarahkan (pandangan), maka (keberadaannya) menjadi petunjuk bagi kalian. Atau bisa juga para tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat nabi dengan baik, Red) karena para tabi’in tersebut juga diridhai oleh Allah. Allah SWT berfirman: Was saabiquunal awwaluuna minal muhaajirrina wal anshaari walladziinat taba’uuhum bi ihsaanin radhiyallaahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu wa a’adda lahum jannaatin tajrii tahtahal anhaaru khaalidiina fiihaa abadaa. Dzaalikal fauzul ‘azhiim. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yag mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah: 100, Red) (*)

You may have missed