Tuesday, 22 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Musibah Mendera Indonesia, Sampai Kapan Bertahan dalam Kefasikan?

Musibah bagai tak henti mendera Indonesia. Namun kenyataannya kefasikan di tengah masyarakat masih menjadi persoalan besar. Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia.

Letusan Merapi | Foto: www.detik.com

MediaIslamNet– Saat ini Indonesia sering dilanda bencana. Mulai dari gempa tektonik, letusan gunung, awan panas, banjir lahar, banjir Lumpur, tsunami dll. Takdir Allah bagi negeri Katulistiwa ini. Sebuah kenyataan ilmiah kalau letak Indonesia ada di pertemuan 3 lempeng  besar dunia, lempeng  Asia, lempeng Australia dan lempeng Asia pasifik. Secara alami lempeng-lempeng ini senantiasa  bergerak. Pertemuan 3 lempeng akan menyebabkan seringnya terjadi gempa bumi. Konon rata-rata gempa bumi di Indonesia sekitar 10 kejadian sehari dengan 5 skala richter. Variasi energi yang dibebaskan, bisa kecil, bisa besar. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Ada 240 buah gunung api, hampir 70 di antaranya masih aktif. Belakangan beberapa gunung api meningkat dari status siaga menjadi waspada. Di antaranya yang mulai menunjukkan gejala aktif antara lain gunung anak krakatau di Selat Sunda, gunung Papandayan di Garut Jawa Barat, gunung Semeru di Jawa Timur. Bahkan tidak pernah terduga sebelumnya bahwa gunung Merapi memuntahkan energi yang lebih besar dari biasanya.  Saat ini korban tewas 100 lebih orang, ratusan terluka dan puluhan ribu mengungsi. Sebelum Merapi, gempa di Mentawai menewaskan 400 lebih korban jiwa dan ratusan orang hilang.

Musibah bagai tak henti mendera Indonesia. Namun kenyataannya kefasikan di tengah masyarakat masih menjadi persoalan besar. Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia. Jumlah penduduk muslimnya pun terbanyak di dunia. Tetapi sebagaimana kita ketahui, untuk korupsi, Indonesia menempati rating tinggi. Untuk kemudahan mengakses pornografi, Indonesia juga mencapai rating tinggi. Masalah seks bebas, Indonesia sangat luar biasa toleran. Para selebriti berzina, mestinya sudah dicambuk, dirajam, minimal dipenjara di negeri muslim yang lain. Namun Indonesia laksana surga bagi para pezina. Negeri seperti Indonesia mengatakan tidak tega untuk menghukum para selebriti yang sudah terduga kuat berzina. Alasannya hak asasi manusia. Indonesia terkesan lebih tega membiarkan anak-anak remaja memperkosa balita, sesudah anak-anak ini menonton video mesum para artis. Padahal korban remaja yang memperkosa anak-anak ini sudah mencapai puluhan orang.

Indikasi kefasikan yang lebih jelas, adalah belum diterapkannya syariat Islam dalam sendi-sendi kehidupan. Agama Islam hanya sebatas ibadah ritual saja. Kalaupun ada muamalah, itupun masih bersifat individual. Mayoritas muslim negeri ini seolah tidak menyadari  bahwa , hukum Islam itu wajib ditegakkan. Kita semua yang muslim, hamba Alah SWT. Sedangkan Syariat Islam itu adalah hukum Allah SWT, Yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Allah SWT berfirman: ” Wa man lam yahkum bimaa anzalaLlaahu fa ulaa ika humuz zholimuun”(QS al Maidah: 45 , dan dalam QS al Maidah: 47 Allah SWT menyebut: “..fa ulaa ika humul faasiquun.” Bahkan dalam QS al Maidah: 44; Allah SWT menyebut : ‘ fa ulaa ika humul kaafiruun.”

Allah SWT berfirman dalam al Qur’an Surat al A’raf:

” Jika sekiranya penduduk kota-kota itu beriman dan bertaqwa, niscaya kami bukakan untuk mereka pintu-pintu rahmat dari langit dan dari bumi. Tetapi oleh karena mereka mendustakan, Kami ambil tindakan terhadap mereka itu disebabkan salah perbuatan mereka sendiri (96) Apakah penduduk kota-kota itu merasa aman terhadap siksaan Kami yang mungkin datangnya di malam hari di waktu mereka sedang tidur nyenyak? (97) Atau apakah penduduk kota-kota itu dapat merasa aman dari siksaan Kami yang mungkin datangnya di siang hari, di waktu mereka sedang bermain-main bersuka ria? (98) Atau apakah mereka dapat merasa aman dari siksaan Allah yang tidak disangka-sangka? Tiada seorangpun yang merasa aman dari siksaan Allah itu, kecuali orang-orang yang merugi (99)

Musibah yang mendera silih berganti, hendaknya menjadi renungan besar bagi bangsa ini: Sampai kapan kefasikan masih terus dibiarkan bertahan.[]

You may have missed