Saturday, 26 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Iman yang Sempurna

Selama pengaruh iman selalu kuat terhadap pemikiran, perasaan, sikap dan tingkah laku maka selama itu pula semua umat Islam tidak akan pernah melakukan maksiat melainkan sebaliknya akan selalu taat kepada Allah Swt.

Tanya:

Asslmwrwb. Ustd, menurut Nabi, iman yang sempurna itu yang bagaimana? (+6282118098xxx)

Jawab:

‘alaikumussalam wr wb

Realitas iman yakni اَلإِيْمَانُ adalah : اَلتَّصْدِيْقُ الْجَازِمُ الْمُطَابَقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيْلٍ (pembenaran yang pasti bersesuaian dengan fakta berdasarkan dalil), sehingga sebuah pembenaran baru dapat dikategorikan sebagai iman jika dan hanya jika bersifat pasti sesuai dengan fakta berdasarkan dalil. Adapun dalilnya ada dua macam yakni dalil aqliy dan dalil naqliy tergantung kepada perkara yang harus diimani. Iman kepada Allah SWT, Al-Quran itu Kalamullah dan eksistensi Nabi Muhammad saw, dalilnya adalah dalil aqliy dan bukan dalil naqliy.

Keberadaan alam semesta (اَلْكَوْنُ), manusia (اَلإِنْسَانُ) dan kehidupan (اَلْحَيَاةُ), ketiganya adalah bukti pasti yakni dalil aqliy (دَلِيْلا عَقْلِيًا) bagi wujudullah, sehingga aqal manusia yang waras dan normal pasti akan memutuskan bahwa اَللهُ وَاجِبُ الْوُجُوْدِ وَمُستَحِيْلُ الْعَدَمِ (Allah wajib ada dan mustahil tidak ada). Inilah proses meraih iman kepada Allah SWT melalui penggunaan aqal dan pembuktian yang juga diisyaratkan oleh Al-Quran dan tentu isyarat Al-Quran itu kita terima setelah terlebih dahulu membutikan bahwa Al-Quran adalah pasti Kalamullah. Allah SWT menyatakan :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (البقرة : 164

Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam, dan kapal yang berlayar di lautan dengan membawa segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, dan air yang telah Allah turunkan dari langit lalu Dia menghidupkan dengan air itu bumi setelah kematiannya dan menumbuhkan berbagai makhluk yang merayap di bumi, dan berhembusnya angin serta awan yang berarak di antara langit dan bumi, sungguh seluruhnya adalah bukti (bagi keberadaan Allah) untuk kaum yang beraqal. (QS al-Baqarah [2]: 164)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (آل عمران : 190-191

Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam adalah bukti (bagi keberadaan Allah) untuk kaum yang beraqal, yakni orang-orang yang selalu menyadari hubungan diri mereka dengan Allah baik sedang berdiri, duduk maupun berbaring dan mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (lalu mereka memutuskan) Rab kami tidak Engkau ciptakan ini semua dalam keadaan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka selamatkan-lah kami dari siksa neraka (QS Ali Imran [3]: 190-191)

Inilah realitas iman kepada Allah SWT yang sempurna (كَامِلاً), dalam (رَاسِخًا) serta kokoh (ثَبَاتًا) dan dipastikan akan mengantarkan orangnya kepada sikap taat sepenuhnya kepada Allah SWT. Rasulullah saw menyatakan :

الْإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ (رواه ابن ماجه

Iman itu dipahami oleh aqal dan diucapkan oleh lisan dan dibuktikan dengan perbuatan (HR Ibnu Majah)

Sebagai contoh pasti telah terwujudnya iman yang sempurna pada diri seseorang adalah ditun-jukkan oleh pernyataan Nabi Muhammad saw berikut :

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ (رواه البخاري

Tidak akan berzina seorang pezina saat dia akan berzina dalam keadaan dia beriman, dan tidak akan minum khamr saat dia akan minum dalam keadaan dia beriman, dan dia tidak akan melakukan perampasan yang membelalakkan pandangan manusia kepadanya saat dia akan merampas dalam keadaan dia beriman (HR Bukhari)

Artinya, selama pengaruh iman selalu kuat terhadap pemikiran, perasaan, sikap dan tingkah laku maka selama itu pula semua umat Islam tidak akan pernah melakukan maksiat melainkan sebaliknya akan selalu taat kepada Allah SWT. Perhatikan betapa indahnya gambaran yang disampaikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور :51

Hanya sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin itu ketika mereka diseru kepada Allah dan Rasul Nya saat Dia (Allah) akan memberlakukan peraturan di tengah-tengah mereka, mereka berucap “kami mendengar dan pasti kami mentaati”, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan (QS an-Nuur [24]: 51)

[Ust. Ir. Abdul Halim]

You may have missed