Pelajaran dari Tarakan

Oleh Umar Abdullah

Malam Kamis 29 September 2010 alhamdulillah akhirnya terjadi kesepakatan antara dua kelompok kaum muslimin yang bertikai di Tarakan. Para pengungsi dari kedua belah pihak pun mulai pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Semoga kesepakatan yang dibuat dilakukan berdasarkan Islam.

Rusuh Tarakan memberi pelajaran bagi kita bagaimana brutalnya ikatan kelompok berdasar kesukuan. Tak peduli siapa benar siapa salah, asal dari kelompoknya pasti dibela, dan asal dari kelompok lawan pasti disiksa, kalau perlu dibantai. Na’udzu billaahi min dzalik.

Ya, adanya kerusuhan memang puncak dari api yang selama ini sudah membara dalam dada. Kecemburuan dalam hal harta dan tahta biasanya tertanam dalam dada kelompok yang tidak menguasainya. Cara berpikir yang salah tentang harta dan tahta ditambah sulutan dari syetan bentuk jin dan manusia pengikutnya, membuat kecemburuan meletup menjadi amarah yang siap meledak. Pantikan sedikit saja bisa membuat amarah tersebut terbakar dan membakar api kecemburuan di setiap dada kelompok tersebut.

Bisa jadi kelompok yang menguasai harta atau tahta atau keduanya ini memang pantas untuk menguasainya. Mungkin mereka lebih giat berusaha. Mungkin mereka lebih mampu memimpin massa. Biasanya, kaum pendatang, karena ia berhadapan dengan tantangan yang sangat besar, maka mereka berusaha lebih keras dibanding kaum pribumi. Jika tak bekerja mereka tak bisa makan, tak punya tempat tinggal. Jadilah kaum pendatang lebih cepat pertumbuhan ekonominya. Awalnya mereka hanya menyewa, kadang malah menumpang. Lama kelamaan mereka mampu membeli bahkan kepemilikannya jauh melebihi kaum pribumi. Sementara kaum pribumi karena kurang tantangan, mungkin karena masih punya sawah ladang untuk menghidupi keluarganya, mungkin karena merasa ada kerabat yang akan menolong, semangat untuk bekerja keras tidak sekuat kaum pendatang. Jadilah kaum pribumi lebih tertinggal secara ekonomi dibanding kaum pendatang. Fenomena ini terjadi di mana saja. Orang Jawa di Sumatra dikenal sebagai kaum yang giat bekerja dan menguasai perdagangan. Padahal di kampungnya sendiri di Jawa mereka tidak lebih giat bekerja dibanding orang Sumatra yang merantau di Jawa. Tantangan di perantauanlah yang menyebabkan kaum pendatang lebih eksis di perantauannya.

Begitupun dalam pemerintahan, pemuda-pemuda pendatang mereka datang di suatu tempat biasanya sudah dibekali dengan pendidikan dan pengalaman yang lebih dibanding pemuda-pemuda pribumi. Mulailah mereka menempati jabatan-jabatan rendah hingga tinggi di perantauan. Fenomena ini terjadi pada pemuda-pemuda Jawa yang menyebar ke Sumatra hingga Papua. Namun hal ini tidak terjadi sebaliknya. Pemerintah Indonesia tidak mampu meratakan kualitas pendidikan di luar Jawa, sehingga nyaris pendidikan berkualitas memusat di Jawa. Untungnya orang Jawa, secara umum, dikenal mampu berbaur dengan penduduk setempat. Banyak terjadi pernikahan antara pemuda Jawa dengan gadis pribumi.

Para Sahabat Nabi Pun Sempat Tersulut

Di masa Rasulullah saw masih hidup ukhuwah Islamiyah sempat diuji. Secara ekonomi, kaum Muhajirin memang tidak menguasai perekonomian Madinah. Namun secara pemerintahan, banyak jabatan-jabatan strategis Negara Islam dipegang oleh kaum Muhajirin dari Mekah. Sebenarnya para sahabat dari Anshar penduduk Madinah tidak terlalu mempersoalkan masalah jabatan ini. Karena mereka mengetahui bahwa sahabat-sahabat besar umumnya dari Mekkah dan dari suku Quraisy. Maka wajar jika pemerintahan Negara Islam yang beribukota dipegang oleh kaum Muhajirin. Namun ada seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul selalu memanas-manasi agar terjadi kecemburuan masalah tahta ini. Ukhuwwah Islamiyah pun hampir saja terkoyak-koyak oleh hasutan Yahudi sialan ini.

Ujian tersebut terjadi saat Rasulullah saw bersama kaum muhajirin dan kaum anshar berada di Mata Air al-Muraisi` setelah Perang Bani al-Mushthaliq.

Saat itu seorang pekerja Umar bin Khaththab yang bernama Jahjah bin Mas’ud menuntun kuda ke mata air tersebut. Di sana, Jahjah berdesak-desakan dengan Sinan bin Wabar sekutu Bani Auf bin al-Khazraj hingga berkelahi.

Sinan kemudian berteriak, ”Hai orang-orang Anshar!”

Sedang Jahjah berteriak, ”Hai orang-orang Muhajirin!”

Abdullah bin Ubay bin Salul, sang gembong munafik, pun naik pitam. Saat itu ia bersama beberapa orang dari kaumnya, diantaranya seorang anak muda yang bernama Zaid bin Arqam.

Abdullah bin Ubay berkata, ”Sungguh mereka telah melakukannya. Mereka mengalahkan dan menggungguli kita di Madinah. Demi Allah, aku tidak mengibaratkan kita dengan orang-orang gembel Quraisy itu melainkan seperti dikatakan orang-orang tua kita dulu ’Gemukkan anjingmu, niscaya ia memakanmu’. Demi Allah, jika kita tiba di Madinah, orang-orang mulia di dalamnya pasti mengusir orang-orang hina.”

Abdullah bin Salul menghadap kepada beberapa orang dari kaumnya yang ada di tempat itu, dan berkata, ”Inilah yang kalian perbuat terhadap diri kalian. Kalian tempatkan mereka di negeri kalian dan membagi harta kalian dengan mereka. Demi Allah, jika kalian tidak memberikan kekayaan kalian kepda mereka. Mereka pasti pindah ke selain negeri kalian.”

Zaid bin Arqam melaporkan ucapan Abdullah bin Ubai itu kepada Rasulullah saw yang ketika itu ditemani Umar bin Khahthab.

Umar berkata kepada Rasulullah saw, ”Kirimlah Abbad bin Bisyr untuk membunuh Abdullah bin Ubay.”

Namun Rasulullah saw berkata kepada Umar, ”Bagaimana pendapatmu hai Umar, jika manusia membicarakan Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya. Tidak. Umumkan agar semua orang pulang.”

Ketika Abdullah bin Ubay mendengar bahwa Zaid bin Arqam melaporkan ucapannya kepada Rasulullah saw, ia pergi menghadap Rasulullah dan bersumpah dengan nama Allah dan berkata, ”Aku tidak mengatakan ucapan yang dilaporkan Zaid bin Arqam.”

Salah seorang dari kaum Anshor berkata kepada Rasulullah saw untuk melindungi Abullah bin Ubay, ”Wahai Rasululah mungkin saja anak muda itu salah bicara dan tidak hafal apa yang dikatakan Abullah bin Ubay.”

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasululllah saw bertemu Usaid bin Hudhair ra, salah seorang pemimpin Anshor. Rasulullah menanyakan apakah Usaid mendengar perkataan Abdullah bin Ubay.

Usaid bertanya, ”Apa yang ia katakan?”

Rasulullah saw bersabda, ”Ia menyangka bahwa jika ia tiba di Madinah, orang mulia di dalamnya akan mengusir orang hina.””

Usaid pun berkata, ”Wahai Rasulullah, engkaulah yang akan mengusirnya dari Madinah jika engkau mau. Demi Allah, ia hina sedang engkau mulia.”

Usaid berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, bersikap lembutlah kepadanya. Demi Allah, pada saat engkau datang kepada kami, ketika itu kaumnya meminta perlindungan kepadanya dalam kapasitasnya sebagai raja dan sekarang ia menganggapmu telah merampas kerajaannya.”

Rasulullah saw berjalan bersama kaum Muslimin pada siang itu hingga sore hari, malam harinya hingga pagi hari berikutnya, dan awal pagi hari berikutnya hingga sinar matahari menyengat mereka. Setelah itu beliau bersama mereka berhenti. Tidak lama berselang, mereka mengantuk dan tertidur. Rasululah saw berhenti agar kaum muslimin melupakan pembicaraaan tentang Abdullah bin Ubay bin Salul kemarin.

Demikianlah Ukhuwah Islamiyah berhasil diselamatkan. Provokasi dari gembong munafik itupun dilupakan. Satu hal yang bisa kita petik, terkadang persoalan rebutan jatah dan harta membuat ukhuwah Islamiyah di titik terendah.

Bersaudara Karena Islam

Islam telah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, penduduk kota Makkah dan Madinah yang sejarak Jakarta dengan Semarang. Muhajirin yang mayoritas suku Quraisy dipersaudarakan dengan Anshar yang mayoritas suku Khazraj dan ‘Aus. Ya setiap muslim basodara. Demikianlah Islam memberi tuntunan sekaligus memberitahu hakikat orang-orang yang beriman.

Allah SWT berfirman:

“Innamaal mu`minuuna ikhwatun…. (bahwasannya orang-orang yang beriman itu bersaudara)

… fa `ashlihuu bayna akhawaykum (maka selesaikanlan/ damaikanlah perselisihan diantara saudara-saudaramu itu)

… wat taqullaaHa la’alakum turhamuun.” (dan bertaqwalah kalian semua kepada Allah agar kalian disayangi). (QS. Al-Hujurat: 10)

Semoga perdamaian di Tarakan berangkat dari ayat ini agar Allah merahmati saudara-saudara kita yang sedang berselisih di Tarakan.

Saling Bantu Pendatang dan Pribumi

Rasulullah saw bersabda:

“Seoang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menyakiti, dan juga tidak disakiti. Jika seseorang membantu saudaranya yang sedang membutuhkan, maka Allah akan membantunya ketika ia membutuhkan; dan jika seseorang menghilangkan bencana dari muslim yang lain, maka Allah juga akan menghilangkan bencana daripadanya esok pada hari kebangkitan; dan jika seseorang menyembunyikan aib muslim yang lain, maka Allah akan menyembunyikan aibnya pula pada hari kebangkitan. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar).

Indah nian sabda Rasul ini. Sang pribumi tak boleh menyakiti sang pendatang. Sang pendatang tak boleh menyakiti sang pribumi. Sang pribumi menolong sang pendatang, sang pendatang pun membantu sang pribumi. Bekerja samalah mereka dalam kebaikan. Semoga Allah mengumpulkan mereka di Surga bersama-sama. Amin.[]

Rate this article!
Pelajaran dari Tarakan,0 / 5 ( 0votes )
Tags:
author

Author: