Friday, 25 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Manasik Haji Rasulullah saw.

Rasulullah saw memperlihatkan manasik (upacara) haji kepada kaum muslimin, menerangkan kepada mereka apa saja yang diwajibkan Allah kepada mereka di haji mereka, tempat wuquf, melempar jumrah, thawaf, dan menjelaskan apa saja yang dihalalkan Allah dan apa saja yang Allah haramkan untuk mereka di haji mereka.

Oleh Umar Abdullah

Berdasar survei kecil-kecilan yang saya lakukan, ternyata banyak yang belum mengetahui tentang manasik (upacara) haji yang diteladankan Rasulullah saw. Karena itu, menjelang masuknya bulan Dzulhijjah ada kepentingan untuk menyampaikannya. Semoga bermanfaat.

Persiapan Nabi naik haji

Tahun ke-10 H Negara Islam yang beribukota di Madinah telah meluas hingga ke seluruh Jazirah Arab. Pada tahun inilah Muhammad saw, sang kepala negara Islam pertama sekaligus seorang Utusan Allah akan menunaikan ibadah haji.

Begitu masyarakat mengetahui bahwa Nabi menetapkan akan pergi haji dan mengajak mereka ikut serta, tersiarlah ajakan itu ke segenap penjuru semenanjung Arab. Beribu-ribu orang datang ke Medinah dari segenap penjuru: dari kota-kota dan dari pedalaman, dari gunung-gunung dan dari sahara, dari semua pelosok tanah Arab yang membentang luas, yang sekarang sudah bersinar dengan cahaya Tuhan dan cahaya Nabi yang mulia itu.

Di sekitar kota Medinah dipasang kemah-kemah untuk seratus ribu orang atau lebih, yang datang memenuhi seruan Nabi s.a.w. Mereka datang sebagai saudara untuk saling kenal-mengenal. Mereka semua dipertalikan oleh rasa kasih sayang, oleh keikhlasan hati dan oleh ukhuwah Islamiah, padahal dalam tahun-tahun sebelumnya mereka saling bermusuhan.

Perjalanan kaum Muslimin ke BAITULLAH

Pada tanggal 25 Dzulqaidah tahun ke-10 Hijriah Nabi saw berangkat dengan membawa semua isterinya, masing-masing dalam hodahnya.

Abu Dujanah As-Saidi ditunjuk menjadi imam sementara di Madinah.

Nabi saw berangkat dari Madinah diikuti jumlah manusia yang begitu melimpah. Penulis-penulis sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan ada pula yang menyebutkan 114.000 orang. Mereka berangkat dibawa oleh iman, jantung mereka penuh kegembiraan, penuh keikhlasan, menuju ke Baitullah yang suci. Mereka hendak menunaikan kewajiban ibadah haji akbar.

Ihram dan Talbiyah

Ketika mereka sampai di Dhu’l-Hulaifa, sebuah tempat di luar kota Madinah, mereka berhenti dan tinggal selama satu malam di sana.

Kebetulan Asma binti Umais melahirkan putra, yaitu Muhammad bin Abi Bakar. Maka Asma menyuruh orang untuk menemui guna menanyakan apa yang harus dilakukannya. Rasulullah saw bersabda: “Mandilah kamu dan ikatkanlah perban pada kemaluanmu, lalu ihramlah!”

Keesokan harinya, Nabi saw sudah mengenakan pakaian ihram. Kaum Muslimin yang lain juga memakai pakaian ihram. Mereka semua masing-masing mengenakan kain selubung bagian bawah dan atas. Mereka berjalan semua dengan pakaian yang sama, yaitu pakaian yang sangat sederhana. Dengan demikian mereka telah melaksanakan suatu persamaan dalam arti yang sangat jelas.

Dengan seluruh kalbu, Muhammad saw menghadapkan diri kepada Allah dengan mengucapkan talbiyah dengan suara keras yang diikuti pula oleh kaum Muslimin dari belakang: “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan-ni’mata laka wal mulk. Laa syarika lak!”

(Artinya: “Kupenuhi panggilanMu, ya Allah, kupenuhi panggilanMu. Tiada bersekutu Engkau. Sesungguhnya puji-pujian dan ni’mat karunia itu milikMu, begitu pun Kerajaan. Tiada bersekutu Engkau. “)

Lembah-lembah dan padang sahara bersahut-sahutan menyambut seruan ini, semua turut berseru dengan penuh iman. Ya puluhan ribu kafilah itu menyusuri jalan antara Madinatur Rasul dengan Makkah al-Mukarramah.

Nabi saw berhenti pada setiap mesjid, menunaikan kewajiban sambil menyerukan talbiah, sebagai tanda taat dan syukur atas nikmat Allah. Dengan penuh kesabaran Nabi saw menantikan saat ibadah haji akbar itu tiba. Dengan hati rindu, dengan jantung berdetak penuh cinta akan Baitullah.

Melepaskan Umrah

Hari ke-4 bulan Dzulhijjah tahun ke-10 H jamaah haji sudah sampai di Mekah.

Nabi saw segera menuju Ka’bah diikuti oleh kaum Muslimin yang lain. Kemudian beliau menyentuh hajar aswad dan menciumnya, lalu bertawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada tiga kali yang pertama beliau berlari-lari kecil  dan pada empat kali yang terakhir beliau berjalan biasa.

Kemudian Nabi menuju ke Maqam Ibrahim (tempat Nabi Ibrahim as dahulu berdiri menjalankan ibadah). Nabi saw lalu membaca:

Wattakhadzuu min maqammi Ibraahima mushalla

(artinya: Mereka ambil maqam Ibrahim sebagai mushalla).

Kemudian Nabi mengambil tempat hingga maqam itu berada di antara beliau dengan Ka’bah untuk melakukan shalat.Nabi shalat dua rakaat dengan membaca Qul Huwallaahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Kemudian beliau kembali ke hajar aswad dan menciumnya sekali lagi.

Kemudian beliau keluar dari pintu gerbang menuju ke sebuah bukit di Shafa. Setelah dekat ke Shafa Nabi membaca:

“Innash shafaa wal marwaa min sya’aairillaah, abda`u bimaa bada`allaahu bih

(Artinya: Sesungguhnya Shafa dan Marwa itu termasuk di antara syi’ar-syi’ar Allah, kumulai dengan apa yang dimulai Allah).

Maka beliau memulainya dari Shafa. Didakinya bukit itu hingga kelihatan oleh beliau Ka’bah. Beliaupun menghadap Kiblat, membaca kalimat tauhid dan takbir, serta beliau berkata:

“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai`in qadiir. Laa ilaaha illallaahu wahdahu, Anjaza wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdah.”

(Artinya: Tidak Tuhan melainkan Allah, Tunggal tiada berserikat. BagiNyalah kerajaan dan milikNya puji-pujian, dan Ia kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan melainkan Allah, dipenuhiNya janjiNya, dibantuNya hambaNya, dan dikalahkanNya seorang diri pihak yang bersekutu.”)

Sementara itu beliau berdoa di celah-celah upacara tadi. Hal tersebut diulangi beliau hingga tiga kali.

Setelah itu beliau turun ke Marwa. Ketika kedua tumit beliau menginjak perut lembah, beliaupun mulai berlari. Setelah sampai di tempat mendaki, kembali beliau berjalan kaki hingga tiba di Marwa. Di sini dilakukan apa apa yang beliau lakukan di Shafa.

Inilah yang disebut Sa’i antara Shafa dan Marwa.

Ketika thawafnya yang penghabisan berakhir di Marwa, beliau bersabda: “Seandainya saya nanti melakukan lagi apa yang telah saya ibadatkan (yang saya kerjakan) tadi, saya tidak akan membawa hewan kurban, hanya saya jadikan saja ibadat tadi sebagai umrah. Maka siapa saja di antara kalian yang tidak membawa hewan kurban, hendaklah ia ihlal dan menjadikan ibadahnya sebagai umrah!”

Selanjutnya Nabi saw berseru agar siapa saja yang tidak membawa ternak kurban untuk disembelih, jangan terus mengenakan pakaian ihram.

Setelah kaum Muslimin mengetahui ketentuan tersebut, ribuan dari mereka segera melepaskan pakaian ihramnya. Juga isteri-isteri Nabi dan Fatimah puterinya seperti yang lain juga melepaskan pakaian ihramnya. Yang masih mengenakan ihram hanya mereka yang membawa ternak kurban.

KhUtHbah ‘Arafah

Pada hari ke-8 Dzulhijjah, yaitu Hari Tarwia, Rasulullah saw pergi ke Mina, dan bertalbiah untuk haji.

Di sana beliau shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya`, dan Shubuh.

Selesai salat subuh pada hari ke-9 Dzulhijjah, dengan menunggang untanya, al-Qashwa’, tatkala matahari mulai tersembul beliau menuju arah ke gunung  ‘Arafah. Arus manusia dari belakang mengikuti beliau.

Ketika beliau sudah mendaki gunung itu dengan dikelilingi oleh ribuan kaum Muslimin yang mengikuti perjalanannya – ada yang mengucapkan talbiah, ada yang bertakbir, sambil beliau mendengarkan mereka itu, dan membiarkan mereka masing-masing.

Di Namira, sebuah desa sebelah timur ‘Arafat, telah pula dipasang sebuah kemah buat Nabi, atas permintaan beliau.

Ketika matahari sudah tergelincir, dimintanya untanya, al-Qashwa, dan beliau berangkat lagi sampai di perut wadi di bilangan ‘Urana. Di tempat itulah manusia dipanggilnya, sambil beliau masih di atas unta, dengan suara lantang.

Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah dengan berhenti pada setiap anak kalimat beliau berkata,

“Wahai manusia sekalian! perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kalian sekalian.

“Saudara-saudara! Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!

“Barangsiapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.

“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba ‘Abbas b. ‘Abd’l-Muttalib semua sudah tidak berlaku.

“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin’l Harith b. ‘Abd’l-Muttalib!

“Kemudian daripada itu saudara-saudara. Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walau pun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik.

“Saudara-saudara. Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, untuk disesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.

“Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada duabelas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadilakhir dan Sya’ban.

“Kemudian daripada itu, saudara-saudara. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, juga isterimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu-atas mereka ialah untuk tidak mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu Tuhan mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak sampai mengganggu. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan-santun. Berlaku baiklah terhadap isteri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.

“Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya – Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

“Wahai Manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.

Setelah sampai pada penutup kata-katanya beliau  berkata:

“Dan kelak kalian akan ditanyai mengenai daku, maka apa kata kalian?!”

Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: “Ya! Kami mengakui bahwa anda telah meyampaikan.”

Lalu Rasulullah berkata: “Ya Allah, saksikanlah ini!” “Ya Allah, saksikanlah ini!” “Ya Allah, saksikanlah ini!”

“Hari ini Kusempurnakan agamamu”

Selesai Nabi mengucapkan pidato beliau turun dari al-Qashwa’ – untanya itu.

Kemudian beliau adzan, lalu qamat dan melakukan shalat Dhuhur, lalu qamat lagi dan melakukan shalat ‘Ashar tanpa diselingi suatu shalat pun di antara keduanya.

Kemudian beliau kembali menaiki untanya menuju Shakharat. Pada saat  itulah Nahi a.s. membacakan firman Allah kepada mereka:

“Al-Yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaykum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinan.”

Artinya:

“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (QS.  al-Ma`idah: 3)

Abu Bakr ketika mendengarkan ayat itu ia menangis, ia merasa, bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan.

Setelah meninggalkan Arafat malam itu (malam ke-10 Dzulhijjah) Nabi saw sampai di Muzdalifah. Beliau lalu shalat Maghrib dan ‘Isya` dengan sekali adzan dan dua kali qamat, di antara kedua shalat itu beliau tidak membaca tasbih sedikitpun.  Kemudian beliau berbaring tidur hingga fajar.

Pagi-pagi beliau bangun dan shalat Shubuh. Dinaikinya untanya hingga sampailah beliau di Masy’aril Haram. Beliaupun menghadap kiblat, lalu berdoa kepada Allah, membaca takbir, tahlil dan kalimat tauhid.

Sebelum terbit matahari, Nabi pun berangkat membonceng Fadhal bin Abbas.

Akhirnya sampailah Nabi di lembah Muhasir. Beliau bergerak sedikit lalu menuju Jumratul Kubra.

Tibalah beliau di Jumrah yang terletak dekat pohon kayu. Maka dilemparnya jumrah tersebut dengan tujuh kerikil, dan setiap melemparkan satu kerikil beliau membaca takbir.

Kemudian beliau pergi ke Mina.

Bila sudah sampai di kemah beliau menyembelih 63 ekor unta, setiap seekor unta untuk satu tahun umurnya, dan yang selebihnya dari jumlah seratus ekor unta kurban yang dibawa Nabi sewaktu keluar dari Medinah – disembelih oleh Ali.

Nabi menyuruh mengambil sekerat daging tiap-tiap unta yang disembelih, dimasukkan ke dalam belanga dan dimasak. Mereka pun memakan daging itu dan meminum kuahnya.

Kemudian Nabi mencukur rambut beliau.

Setelah itu Nabi saw berkendaraan lagi dan melakukan Thawaf Ifadhah di Ka’bah dan menyelesaikan ibadah hajinya.

Demikianlah, Rasulullah saw memperlihatkan manasik (upacara) haji kepada kaum muslimin, menerangkan kepada mereka apa saja yang diwajibkan Allah kepada mereka di haji mereka, tempat wuquf, melempar jumrah, thawaf, dan menjelaskan apa saja yang dihalalkan Allah dan apa saja yang Allah haramkan untuk mereka di haji mereka.

Haji yang dilakukan oleh Rasulullah saw ini disebut dengan haji wada’ (haji terakhir) karena Nabi saw tidak berhaji lagi setelah tahun tersebut. Disebut juga Haji Penyampaian Pesan-pesan karena Nabi saw telah menyampaikan kepada umat manusia apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Dan Muhammad saw tiada lain hanyalah memberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang beriman.[]

You may have missed