Siapa Yang Akan Mendengarkan Mereka?

Oleh: M. Iwan Januar, S.IKom

Malam itu saya tersentak ketika seorang kawan menceritakan berbagai kejadian di  bulan Ramadhan yang baru saja berlalu. Ia kedatangan dua orang temannya yang mengeluhkan keadaan mereka masing-masing, tapi dengan tema yang sama; kelaparan. Tamu yang satu berterus terang bilang bahwa di rumahnya tidak ada hidangan berbuka, sedangkan yang seorang lagi bercerita bahwa ia tidak punya makanan untuk sahur. Kawan saya termangu menerima mereka. Karena ia sendiri sama-sama tengah dibelit masalah ekonomi, tapi yang ia temui adalah dua orang yang keadaannya jauh lebih mengenaskan. Dan keduanya adalah pejuang syariah.

Kali lain kawan saya bercerita ada seorang temannya yang dengan agak memaksa minta ikut berbuka puasa di rumahnya. “Aku ikut buka ya di rumahmu? Di rumahku nggak ada makanan untuk berbuka. Kau pasti punya makanan, kan?” pintanya. Kembali kawan saya tercenung. Ia sendiri hanya punya hidangan ala kadarnya dan nasi putih. Tidak tega menolak, ia menyanggupi permintaan kawannya tersebut. Untuk memuliakan tamu dan menyenangkan kawannya ia menambah lagi beberapa gorengan sebagai teman nasi putih. Hanya gorengan karena memang hanya itu yang sanggup ia beli.

Sentakan ke dada saya belum berhenti lagi, kali ini kawan saya yang lain bercerita ada seorang istri pejuang syariat yang nyaris diperkosa tetangganya sendiri. Rupanya pelaku tahu bahwa sang suami sering pulang malam mencari nafkah, dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Alhamdulillah, Allah memberikan pertolongan dan menyelamatkan sang istri. Khawatir dengan keselamatan istrinya, sang dai muda ini berhenti kerja malam mencari pekerjaan lain. Kabarnya ia kini jadi pengangguran.

Saya pun teringat dengan sms dari seorang pejuang syariat lain di kota lain. Dengan nada mengenaskan ia bercerita bahwa toko tempatnya bekerja sudah bangkrut kini ia kebingungan mencari nafkah. Sementara itu seorang pejuang lain mengirim sms: “Alhamdulillah, pondasi rumah yang kami bangun tadi malam hancur tersapu banjir. Mohon doanya.” Kalimat hamdalah yang tidak pada tempatnya itu saya duga ekspresi tekanan batinnya yang amat berat. Pasalnya, rumahnya yang lama akan digusur, tapi ia tidak mendapatkan penggantian. Maka dengan sisa dana yang ada ia dan keluarganya mencari lokasi baru untuk membangun rumah. Tapi baru pondasi awal dipancangkan sudah hancur tersapu banjir. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un.

Dunia memang ladang ujian. Dan Allah akan menguji keimanan seseorang sesuai kadar imannya masing-masing. Nabi saw. pernah ditanya oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Rasulullah saw. menjawab :

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

“Para nabi, kemudian orang tingkatan di bawahnya, dan di bawahnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya, jika ia teguh dalam memegang agamanya maka dia mendapat ujian yang berat. Tapi jika ia lemah dalam memegang agamanya maka ia diuji sesuai kadar agamanya. Dan senantiasa ujian menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkanya berjalan di muka bumi dan tidak ada padanya dosa.”(HR. Ibnu Majah).

Khususnya kepada mereka yang mengaku cinta kepada dien-Nya dan memperjuangkannya agar tegak di muka bumi, bersiap-siaplah untuk didera ujian.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan, dipercepat musibah yang menimpanya.” (HR Bukhari)

Ujian kemiskinan, kemelaratan dan kelaparan yang menimpa sebagian saudara kita pastinya berkurang efek deritanya ketika sesama muslim, apalagi pejuang dien ini mau mendengarkan dan membantu. Karena siapa lagi di atas muka bumi ini yang bisa dan mau mendengarkan kesusahan hidup para pejuang dien selain sesama ikhwan wa akhwat fillah?

Tidak usahlah kita membandingkan dan mendiskusikan nasib saudara kita ini dengan para penguasa negeri ini  yang semakin bebal mengurusi rakyatnya. Atau dengan sebagian pejabat dan wakil rakyat yang sudah disibukkan dengan kerakusan mereka dalam mengganyang uang rakyat. Tapi marilah bicara dari hati ke hati dengan sesama kalangan yang mengaku ikhwan fid-dien. Karena sebagian pejuang dien ini juga Allah limpahkan (baca: beri ujian) dengan gelimang rizki. Sebagian ikhwan dan akhwat fillah berlalu lalang di medan dakwah dengan gadget modern; ber-black berry, laptop canggih, naik turun mobil, dan berceramah dan mengisi training di gedung-gedung pertemuan yang berpendingin ruangan yang sejuk.

Sebagian muslim berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi kemaslahatan dakwah, bukan gaya-gayaan atau lifestyle. “Masak dakwah Islam kalah dengan dakwah orang-orang sekuler dan kaum kafir?” sergah mereka. Maka piranti yang canggih dan gedung pertemuan yang sejuk seolah jadi syarat mutlak.

Sebagian dari ikhwan dan akhwat fillah juga sering pulang ‘berjuang’ dengan membawa amplop berisi uang pemberian jamaah. Jumlahnya pun subhanallah terbilang besar. Beberapa ratus ribu atau mungkin juta yang oleh sebagian ikhwan lainnya sama dengan penghasilan mereka dalam sebulan atau mungkin lebih.

Maka orang bisa tertawa kering ketika ada muslim yang sibuk mencari gadget terbaru dengan alasan ‘tuntutan kerja dan dakwah’, padahal yang lama pun masih mumpuni. Atau ada muslim yang masih sempat merawat tubuhnya dengan biaya ratusan ribu atau memasang kawat gigi dengan harga jutaan rupiah. Sementara ada dai yang tidak punya penganan untuk berbuka puasa. Inilah yang dicemaskan oleh Rasulullah saw. kepada umatnya kelak:

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti, ialah terbuka lebarnya kemewahan dan kemegahan dunia ini padamu.”(HR. Bukhari, Muslim).

Menjadi kaya adalah  boleh, tapi kaya hati adalah harus. Termasuk berempati dan tetap sadar bahwa keberlimpahan harta yang bertebaran di jalan dakwah adalah hasil tetesan keringat bahkan mungkin air mata sebagian ikhwan kita yang ekonominya terseok-seok.

Pernahkah ketika seorang dai pulang ke rumahnya dari mengisi ceramah, lalu panitia memberikan amplop berisi uang, ia menyadari bahwa uang itu adalah hasil patungan panitia atau sumbangan warga yang bisa jadi ekonominya di bawah rata-rata? Atau terbukakah mata kita bahwa di balik suksesnya sebuah acara yang terselenggara di gedung yang mewah, dan para pembicaranya serta panitianya mendapat makanan berlimpah, itu juga hasil pengorbanan sebagian keluarga-keluarga pejuang syariat yang keadaannya mengenaskan?

Beberapa tahun silam ada seorang kader parpol Islam kontestan pemilu yang anaknya meninggal karena ia tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit. Padahal parpolnya dan para elit partainya hidup berkecukupan setelah masuk ke gedung parlemen yang megah. Ala kulli hal, keadaan ini bisa terjadi di mana saja, dan kepada siapa saja. Bukan saja pada kelompok A, B, atau C. Tapi bisa menimpa seluruh bagian dari umat ini ketika kepekaan nurani terkikis kemilaunya dunia, meski itu di jalan dakwah.

Segeralah kita menyadari dan membangun kepekaan nurani. Saling mendukung di jalan dakwah ini. Kemenangan dakwah bukan ditentukan oleh sosok dainya yang glamor bak selebritis, membawa laptop dan lcd yang canggih, atau acaranya dibangun di tempat yang megah. Tapi kemenangan dakwah didapat dari ketakwaan dan kedekatan para pejuangnya kepada Allah.

Imam Tirmizi meriwayatkan bahwa ketika pasukan Romawi mengalami kekalahan di medan Perang Yarmuk, telah menimbulkan keheranan bagi Kaisar Romawi, Heraklius. Saat ia berada di Anthakiyah ia bertanya kepada para perwira militernya, “Celakalah kalian, beritahukan kepadaku tentang musuh kalian. Bukankah yang kalian hadapi adalah manusia juga seperti kalian?” mereka menjawab, “Ya!” Heraklius kembali bertanya, “Apakah jumlah kalian lebih banyak dari mereka atau sebaliknya?” mereka menjawab, “Jumlah kami berlipat ganda di setiap tempat.” Dengan heran Heraklius bertanya, “Lalu kenapa kalian kalah?”

Seorang yang dituakan oleh mereka lalu menjawab, “Kami dikalahkan mereka disebabkan mereka shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mengingatkan dengan yang maruf dan mencegah yang mungkar dan saling jujur kepada sesama. Sedangkan kita gemar minum khamr, berzina, mengerjakan yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kezaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa-apa yang diridloi Allah, dan berbuat kerusakan di bumi.”

Mendengar jawaban itu Heraklius berkata, “Engkau telah berkata benar.”[]

Rate this article!
Tags:
author

Author: