Saturday, 26 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Nafkah untuk Anak-anak yang Ibunya Dicerai

Kewajiban mantan suami menafkahi anak-anak ini tetap berlaku, baik anak-anak itu ikut ibu (mantan istrinya) maupun ikut dengan dia sendiri (mantan suami alias bapaknya anak-anak).

Tanya:

Assalaamu’alaikum wr wb. Pak ust, saya Maya dari Medan. Sy mau bertnya, gmana hkmnya jika dia sdh bercerai dgn istrinya dia menpnyai anak, ttp dia tdk menafkahi scra rutin sm anaknya, jika minta br diberi, dan ktnya klu spnuhnya ikt ayah mknya ditanggug dg sang ayah, smntara si anak skrg ikut ibuknya, dan dibiayai oleh ibunya (+62878690xxx)

Jawab:

Seorang suami wajib memenuhi minimal seluruh kebutuhan pokok istri dan anak-anaknya, yaitu makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal. Inilah yang di Indonesia dikenal dengan istilah nafkah dan istilah ini memang berasal dari Islam yakni اَلنَّفَقَةُ. Kewajiban suami tersebut harus dilakukan olehnya tanpa harus diminta oleh istri maupun anak-anaknya, artinya secara otomatis harus dilakukan selama dia berstatus suami sekaligus bapak dari anak-anaknya.

Jika ternyata suami tidak melaksanakan kewajibannya dengan sempurna sehingga istri dan anak-anaknya mengalami kekurangan bahkan hampir terlantar, maka si suami jelas telah berdosa karena dia melalaikan kewajibannya. Lalu, sikap apa yang harus dilakukan oleh istri dan anak-anaknya?

Dalam keadaan demikian, Islam membolehkan si istri untuk mengambil harta suaminya walau tanpa sepengetahuan suami sedemikian rupa sehingga dengan harta itu dapat memenuhi kebutuhan pokok bagi dirinya dan anak-anaknya. Inilah yang ditunjukkan oleh pernyataan Rasulullah saw dalam hadits berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ هِنْدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا قَالَ خُذِي أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ (رواه البخاري)

Dari ‘Aisyah ra telah berkata Hindun ibunya Mu’awiyah kepada Rasulullah saw : sungguh Abu Sufyan itu adalah laki-laki yang pelit (bakhil), lalu apakah tidak dosa bagi saya mengambil dari harta dia secara diam-diam? Beliau menjawab : ambillah olehmu dan anakmu sejumlah harta yang akan mencukupi kebutuhanmu dengan sempurna (HR Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ (رواه مسلم

Dari ‘Aisyah berkata : Hindun bintu ‘Utbah yakni istri Abu Sufyan datang menemui Rasulullah saw lalu dia berkata : wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan itu adalah laki-laki yang pelit (bakhil), dia tidak memberi nafkah kepada saya yang mencukupi kebutuhan saya maupun anak saya kecuali jika aya mengambil dari harta dia tanpa sepengetahuannya. Apakah perbuatan saya itu dosa? Maka Rasulullah saw menjawab : ambillah olehmu dari harta dia secukupnya hingga akan dapat memenuhi kebutuhan dirimu dan anakmu (HR Muslim)

Artinya, andai suami bersikap bakhil alias pelit dalam membiayai kebutuhan istri dan anaknya maka selain dia telah berdosa karena melalaikan kewajibannya, juga si istri dan anaknya halal mengambil harta dia secara diam-diam tanpa sepengetahuannya sejumlah yang akan mencukupi kebutuhan sang istri berikut anak-anaknya. Lalu, bagaimana jika terjadi perceraian apakah suami tetap wajib menafkahi anak-anaknya juga mantan istrinya?

Ketika terjadi perceraian, maka mantan suami wajib menafkahi mantan istrinya juga wajib memberikan tempat tinggal kepadanya selama masa iddah yakni tiga bulan, jika mantan istrinya tidak sedang hamil. Jika mantan istrinya tengah hamil maka kewajiban sang mantan suami tersebut untuk memberikan nafkah adalah bertambah lama yakni selama mantan istrinya hamil hingga melahirkan. Inilah yang dipastikan oleh pernyataan Allah SWT :

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (الطلاق : 4)

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS ath-Thalaaq [65]: 4)

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى (الطلاق : 6)

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (QS ath-Thalaaq [65]: 6)

Bahkan bagian ayat فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ dari surah Ath-Thalaq ayat 6, memastikan bahwa jika mantan istrinya menyusui anak sang mantan suami tersebut, maka mantan suami wajib memberikan upah/ imbalan (أُجُورَهُنَّ) kepada mantan istrinya setiap kali menyusui anaknya berda-sarkan aqad hubungan buruh dan majikan (عَقْدُ الإِجَارَةِ) yang telah terlebih dahulu ditetapkan oleh keduanya, yakni  عَقْدٌ عَلَى مَنْفَعَةٍ بِعِوَضٍ (aqad atas suatu manfaat dengan adanya imbalan). Ketentuan ini pun sekaligus memastikan bahwa pembiayaan untuk pemenuhan kebutuhan pokok seluruh anak-anak yang terlahir dari pernikahan adalah kewajiban suami baik terjadi perceraian maupun tidak. Sampai kapankah suami atau sang bapak wajib menafkahi kebutuhan anak-anaknya? Tentu saja hingga seluruh anak-anaknya itu mencapai usia عَاقِلاً بَالِغًا dan telah mampu menafkahi diri mereka sendiri dan khusus bagi anak-anak yang wanita, maka kewajiban menafkahi mereka adalah hingga mereka menikah.

Kewajiban mantan suami menafkahi anak-anak ini tetap berlaku, baik anak-anak itu ikut ibu (mantan istrinya) maupun ikut dengan dia sendiri (mantan suami alias bapaknya anak-anak). Wal hasil, kasus yang ditanyakan Maya memastikan bahwa sang ayah alias sang mantan suami adalah berdosa karena telah melalaikan kewajibannya menafkahi anak-anaknya sendiri. [Ust. Ir. Abdul Halim]

You may have missed