Friday, 27 November 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Maskawin Sebesar Nafkah Tiap Bulan?

Harus diingat bahwa mahar sama sekali tidak ada kaitannya dengan kewajiban suami untuk memberikan nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok istrinya selama perjalanan kehi-dupan rumahtangganya.

Tanya:

Aslmkm.Ustadz. Saya inda di surabaya. Mau nanya makna dari maskawin dan apakah besarnya maskawin yg diberikan suami pada istrinya itu merupakan senilai dg besarnya nafkah yg diberikan setiap bulan? Mohon penjelasannya.Trima kasih. (+628191581xxxx)

Jawab:

Waslm. Wr. wb.

Maskawin atau الْمَهْرُ adalah kewajiban suami yang harus dibayarkan kepada istrinya sesaat setelah aqad nikah berlangsung dan jumlahnya wajib disebut dalam ijab qabul aqad nikah, yakni apakah dibayar kontan atau dihutang. Terlepas apakah kontan atau dihutang, kepastiannya ma-har tersebut adalah haq mutlak dan menjadi milik istri yang tidak boleh (haram) dipergunakan begitu saja oleh suami kecuali dengan aqad tertentu misalnya aqad minjam.

Adapun besar mahar yang wajib dipenuhi oleh suami ternyata ada dua pendapat di kalangan fuqaha yaitu :

a.       pendapat Imam Sufyan Ats-Tsauriy, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Ishaq yang menyatakan bahwa besarnya mahar adalah berdasarkan keridlaan pihak suami dan istri

b.      pendapat Imam Malik bin Anas yang menyatakan bahwa mahar itu minimal sebesar seper-empat dinar (1,0625 gram emas), sedangkan sebagian penduduk Kufah menyatakan bahwa mahar itu minimal sebesar 10 dirham (29,75 gram perak).

Inilah yang ditunjukkan oleh hadits berikut :

عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَسَهْلِ بْنِ سَعْدٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَنَسٍ وَعَائِشَةَ وَجَابِرٍ وَأَبِي حَدْرَدٍ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْمَهْرِ فَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْمَهْرُ عَلَى مَا تَرَاضَوْا عَلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ و قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ لَا يَكُونُ الْمَهْرُ أَقَلَّ مِنْ رُبْعِ دِينَارٍ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْكُوفَةِ لَا يَكُونُ الْمَهْرُ أَقَلَّ مِنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ (رواه الترمذي

Dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah berkata saya mendengar Abdullah bin ‘Amir bin Rabii’ah dari bapaknya bahwa seorang wanita dari Bani Fazaarah menikah dengan mahar sepasang alas kaki. Lalu Rasulullah saw bertanya kepadanya : apakah kamu ridla baik dirimu maupun hartamu dengan sepasang alas kaki? Dia menjawab : ya tentu saja. Dia (‘Amir bin Rabii’ah) berkata : maka Rasulullah saw pun membolehkannya. Abu Isa At-Tirmidzi berkata bahwa dalam bab mahar ini ada hadits dari Umar, Abu Hurairah, Sahal bin Sa’ad, Abu Sa’id, Anas, ‘Aisyah, Jabir dan Abu Hadrad Al-Aslamiy. Selanjutnya Abu Isa menyatakan bahwa hadits ‘Amir bin Rabii’ah adalah hadits hasan shahih. Ahlul ilmi telah berbeda pendapat tentang mahar, sebagian menyatakan bahwa mahar besarnya berdasarkan keridlaan pihak suami dan istri dan ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauriy, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Sedangkan Malik bin Anas menyatakan bahwa mahar itu tidak boleh kurang dari seperempat dinar, lalu sebagian penduduk Kufah menyatakan bahwa mahar itu tidak boleh kurang dari 10 dirham (HR Tirmidzi)

Harus diingat bahwa mahar sama sekali tidak ada kaitannya dengan kewajiban suami untuk memberikan nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok istrinya selama perjalanan kehi-dupan rumahtangganya. [Ust. Ir. Abdul Halim]

You may have missed