Hukum Muslim Bekerja di Gereja

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb. Nih dari Dadang di Riau. Mau nanya bagaimana seorang muslim kerja di gereja dan bagaimana dengan akidahnya? Wasalam (+628137184XXX)

Jawab:

Waslm. Wr. wb.

Secara umum, umat Islam wajib membedakan diri dengan kaum kufar termasuk ahlil kitab yakni Yahudi dan Nasrani (Kristiani saat ini) dan ketentuan ini berdasarkan dalil Al-Quran maupun As-Sunnah, antara lain :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ ءَاذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا (الأحزاب : 69

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang yang telah menyakiti Musa, lalu Allah menghiburnya atas apa yang mereka katakan (QS al-Ahzab [33]: 36)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (الأنفال : 22-20

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul Nya dan janganlah kalian berpaling dari Nya padahal kalian benar-benar mendengar perintah ini dan janganlah pula kalian menjadi seperti orang-orang yang berkata kami telah mendengar padahal mereka sama sekali tidak mendengar. Sungguh seburuk-buruknya makhluk menurut Allah adalah ma-nusia yang bisu tuli serta mereka tidak dapat menggunakan aqalnya (QS al-Anfaal [8]|: 20-22)

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ انْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَأَنَا مَعَهُ حَتَّى دَخَلْنَا كَنِيسَةَ الْيَهُودِ بِالْمَدِينَةِ يَوْمَ عِيدٍ لَهُمْ فَكَرِهُوا دُخُولَنَا عَلَيْهِمْ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ أَرُونِي اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا يَشْهَدُونَ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ يُحْبِطْ اللَّهُ عَنْ كُلِّ يَهُودِيٍّ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الْغَضَبَ الَّذِي غَضِبَ عَلَيْهِ قَالَ فَأَسْكَتُوا مَا أَجَابَهُ مِنْهُمْ أَحَدٌ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِمْ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ ثُمَّ ثَلَّثَ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ فَقَالَ أَبَيْتُمْ فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَنَا الْحَاشِرُ وَأَنَا الْعَاقِبُ وَأَنَا النَّبِيُّ الْمُصْطَفَى آمَنْتُمْ أَوْ كَذَّبْتُمْ ثُمَّ انْصَرَفَ وَأَنَا مَعَهُ حَتَّى إِذَا كِدْنَا أَنْ نَخْرُجَ نَادَى رَجُلٌ مِنْ خَلْفِنَا كَمَا أَنْتَ يَا مُحَمَّدُ قَالَ فَأَقْبَلَ فَقَالَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَيَّ رَجُلٍ تَعْلَمُونَ فِيكُمْ يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ قَالُوا وَاللَّهِ مَا نَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ فِينَا رَجُلٌ أَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ مِنْكَ وَلَا أَفْقَهُ مِنْكَ وَلَا مِنْ أَبِيكَ قَبْلَكَ وَلَا مِنْ جَدِّكَ قَبْلَ أَبِيكَ قَالَ فَإِنِّي أَشْهَدُ لَهُ بِاللَّهِ أَنَّهُ نَبِيُّ اللَّهِ الَّذِي تَجِدُونَهُ فِي التَّوْرَاةِ قَالُوا كَذَبْتَ ثُمَّ رَدُّوا عَلَيْهِ قَوْلَهُ وَقَالُوا فِيهِ شَرًّا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتُمْ لَنْ يُقْبَلَ قَوْلُكُمْ أَمَّا آنِفًا فَتُثْنُونَ عَلَيْهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا أَثْنَيْتُمْ وَلَمَّا آمَنَ كَذَّبْتُمُوهُ وَقُلْتُمْ فِيهِ مَا قُلْتُمْ فَلَنْ يُقْبَلَ قَوْلُكُمْ قَالَ فَخَرَجْنَا وَنَحْنُ ثَلَاثَةٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (رواه احمد

Dari ‘Auf bin Malik berkata : pada suatu hari Nabi saw bepergian dan saya bersama beliau hingga kami memasuki sebuah sinagoga Yahudi (كَنِيسَةَ الْيَهُودِ) yang ada di Madinah pada hari raya mereka, nampak sekali mereka tidak suka atas kedatangan kami kepada mereka. Kemudian Rasulullah saw berkata kepada mereka, wahai orang-orang Yahudi hadirkanlah kepadaku dua belas orang laki-laki yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah pasti akan menghentikan murka kepada setiap Yahudi yang ada di bawah lengkung langit yang selama Allah murka kepadanya. Dia (‘Auf bin Malik) berkata : maka mereka pun terdiam semuanya dan tidak seorang pun yang menjawabnya. Kemudian Rasulullah saw mengulang permintaannya untuk kedua kali, maka tidak ada yang menjawabnya seorang pun. Kemudian Rasulullah saw mengulang permintaannya untuk ketiga kali, maka tidak ada yang menjawabnya seorang pun. Lalu beliau berkata : baiklah kalian semua menolaknya, maka demi Allah, sungguh aku adalah yang menghimpun dan aku adalah yang memberi sanksi, aku adalah Nabi yang terpilih, baik kalian beriman maupun kalian mendustakan. Lalu beliau pun pergi dan saya masih bersamanya hingga sesaat setelah kami keluar, tiba-tiba ada seseorang di belakang kami yang menyeru : ya begitulah engkau wahai Muhammad! Dia (‘Auf bin Malik) berkata : beliau pun membalikkan tubuhnya lalu berkata : orang itu siapa pun dia, kalian tahu bahwa dia ada di tengah-tengah kalian, wahai orang-orang Yahudi? Mereka menjawab : demi Allah, kami tidak mengetahui bahwa ada seseorang di tengah-tengah kami yang lebih mengetahui Kitab Allah daripada engkau, tidak ada yang lebih paham daripada engkau dan tidak pula daripada bapak engkau sebelumnya, serta tidak pula daripada kakek engkau sebelum bapak engkau. Dia (orang yang berseru tadi) berkata : maka sungguh aku bersaksi kepada Allah baginya bahwa dia (Muhammad) adalah Nabiyullah yang telah kalian dapati dalam Taurah! Mereka berkata : kamu dusta, lalu mereka menolak perkataan orang tadi dan mereka berkata berbagai hal buruk tentang dia. Rasulullah saw berkata : kalian lah yang berdusta, tidak akan pernah diterima ucapan kalian. Adapun yang baru saja, maka itu adalah kebaikan yang terkecualikan dari kalian, sehingga ketika dia beriman pastilah kalian mendustakannya seperti yang kalian telah ucapkan tentang orang itu. Sekali lagi ucapan kalian tidak akan pernah diterima. Dia (‘Auf bin Malik) berkata : lalu kami keluar dan kami menjadi tiga orang yakni Rasulullah saw, saya dan Abdullah bin Salaam, saat itulah Allah ‘Azza wa jalla menurunkan ayat : katakanlah olehmu Muhammad, apakah kalian (Yahudi) tahu jika dia (Muhammad) adalah dari sisi Allah dan kalian kufur kepadanya lalu ada seorang saksi dari kalangan Bani Israil tentang fakta itu kemudian dia beriman sedangkan kalian tetap bersikap istikbar. Sungguh Allah tidak akan memberi hidayah kepada kaum yang zhalim. (HR Ahmad)

بَاب الصَّلَاةِ فِي الْبِيعَةِ وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّا لَا نَدْخُلُ كَنَائِسَكُمْ مِنْ أَجْلِ التَّمَاثِيلِ الَّتِي فِيهَا الصُّوَرُ وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يُصَلِّي فِي الْبِيعَةِ إِلَّا بِيعَةً فِيهَا تَمَاثِيلُ (رواه البخاري

Bab shalat di dalam gereja (الْبِيعَةِ), Umar ra berkata :kami tidak akan pernah masuk gereja kali-an hanya karena ada patung-patung yang padanya ada gambar-gambar itu dan Ibnu Abbas biasa shalat di gereja kecuali gereja yang di dalamnya ada patung-patung (HR Bukhari)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَاكُمْ سَتُشَرِّفُونَ مَسَاجِدَكُمْ بَعْدِي كَمَا شَرَّفَتْ الْيَهُودُ كَنَائِسَهَا وَكَمَا شَرَّفَتْ النَّصَارَى بِيَعَهَا (رواه ابن ماجه

Dari Ibni Abbas berkata : telah berkata Rasulullah saw: aku melihat kalian akan mensakralkan masjid-masjid kalian setelah aku, sama persis dengan orang Yahudi yang mensakralkan sina-goga mereka dan seperti orang Nashara yang mensakralkan gereja mereka (HR Ibnu Majah)

Oleh karena itu, seluruh dalil tersebut memastikan bahwa eksistensi gereja nashara (بِيْعَةُ النَّصَارَى) termasuk sinagoga yahudi (كَنَائِسُ الْيَهُوْدِ) adalah haram dalam pandangan Islam, sehingga haram bagi umat Islam ikut memfasilitasi dan membantu pembangunannya. Adalah haram seorang muslim ikut menjadi buruh dalam pembangunan gereja maupun sinagoga, juga adalah haram umat Islam menjual bahan bangunan kepada mereka untuk digunakan dalam pembangunan gereja. Kaidah ushul menyatakan : اَلْوَسِيلَةُ اِلَى الْحَرَامِ مُحَرَّمَةٌ (setiap wasilah yakni langkah, sarana, pra sarana, dukungan, bantuan, yang mengantarkan kepada yang haram maka itu adalah diha-ramkan).

Jadi, jika seorang muslim bekerja menjadi buruh bangunan dalam pembangunan gereja (juga tempat ritual agama lainnya) maka dia telah melanggar aturan Islam yakni haramnya bekerja di situ. Lalu ketika dia telah tahu hukum haram tersebut namun tetap bersikukuh melakukannya dengan berbagai pertimbangan dan argumen, maka dia dipastikan telah murtad dari Islam alias kufur. [Ust. Ir. Abdul Halim]

Rate this article!
Tags:
author

Author: